Serunya Kampung Halamanmu
Tradisi Salat Tarawih di Pemakaman Kanjeng Jimat, Pacitan
Senin, 28 Jul 2014 17:20 WIB
Alfry Royadi
Jakarta - Kampung halaman biasanya punya tradisi Ramadan yang bikin kangen untuk didatangi saat mudik Lebaran nanti. Di Pacitan, masyarakat biasa salat tarawih berjamaah di musala di samping pemakaman Kanjeng Jimat. Berani?Di puncak bukit di samping makam Kanjeng Jimat di Pacitan, dibangun sebuah musala. Di bulan Ramadan, musala dimanfaatkan untuk menyelenggarakan salat tarawih berjamaahSudah menjadi rutinitas bagi para pemeluk agama Islam untuk melaksanakan ibadah salat tarawih berjamaah di masjid ataupun musala. Sebagian dari mereka bahkan memanfaatkan momen ini untuk bersafari Ramadan dari satu masjid ke masjid yang lain.Umumnya, masjid yang menjadi tujuan safari yaitu masjid-masjid yang megah dan besar yang menjadi ikon suatu kota dengan jamaahnya yang banyak pula. Sehingga terkadang membuat suasana menjadi agak ramai karena banyak para jamaah yang membawa anak-anaknya ke masjid. Hal ini tentunya sedikit mengganggu kekhusukan jamaah lain yang melaksanakan salat. Jika hal tersebut yang Anda alami, maka ada tempat ibadah alternatif yang dapat dikunjungi. Letaknya berada di desa Tanjungsari, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan. Sebuah musala dibangun di puncak bukit yang mana bukit tersebut merupakan komplek pemakaman umum bernama Pemakaman Giri Sampurno.Lokasi Pemakaman Giri Sampurno hanya berjarak sekitar 700 meter arah utara dari kantor pemerintah Kabupaten Pacitan. Di kompleks pemakaman ini terdapat makam Bupati Pacitan ke-6, Joyoniman atau yang dijuluki Kanjeng Jimat. Beliau juga merupakan tokoh penyebaran agama Islam di Pacitan. Di komplek pemakaman ini juga terdapat makam bupati Pacitan periode 2005-2010 yaitu H Sujono.Di puncak bukit di samping makam Kanjeng Jimat di bangun sebuah musala yang sehari-harinya digunakan untuk beribadah bagi para peziarah. Di bulan Ramadan seperti ini juga dimanfaatkan untuk menyelenggarakan salat tarawih berjamaah. Lokasinya yang berada di puncak bukit dan jauh dari perkampungan warga membuat suasana di sana sunyi sehingga memberi kenyamanan tersendiri saat beribadah.Sudah dua tahun terakhir ini komplek pemakaman diberi penerangan sehingga memudahkan para jamaah yang ingin salat di musala Kanjeng Jimat. Karena lokasinya berada di kompleks pemakaman, maka bagi jamaah yang ingin salat di musala ini harus melewati area pemakaman yang sangat luas. Sejauh mata memandang hanya jajaran batu nisan yang tampak.Untuk menuju puncak bukit pun harus ditempuh dengan berjalan kaki melewati anak tangga sejauh ratusan meter. Karena, kendaraan hanya dapat menjangkau sampai di sentral parkirnya saja dan dari tempat parkir menuju puncak bukit masih berjarak sekita 200 meter. Meski lelah plus harus melewati daerah mistis namun banyak jamaah yang hadir di musala ini. So, bagi para traveler bulan Ramadan, berani coba?
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan

Komentar Terbanyak
Terpopuler: Fotografer Jepret Bule Sedang Berjemur Diprotes Hotel
Pilot Selundupkan Narkoba, Malaysia Bongkar Kelemahan Pemindai Bandara
Jepang Catat Rekor Hari Terpanas, Tokyo Tembus 30,3 C