Kasihan, Kambing Makan Kertas di Pulau Bungin
Senin, 28 Apr 2014 17:30 WIB
Kadek Restu Yani
Jakarta - Dengan traveling, kita bisa melatih jiwa sosial kita tatkala berinteraksi dengan masyarakat yang kondisinya tidak sebaik di daerah lain. Di Sumbawa, ada desa dimana kambingnya terpaksa makan kertas untuk bertahan hidup.Jika berkunjung ke Pulau Sumbawa, Anda harus menyempatkan diri menjelajahi Pulau Bungin, khususnya ke Desa Alas yang terletak di Kabupaten Sumbawa bagian Barat. Desa ini jarak tempuhnya kurang lebih 2 jam dari Bandara Muhammad Sultan Kaharudin.Pulau Bungin merupakan pulau buatan yang dibuat oleh masyarakat pendatang yang berasal dari Suku Bajo, Sulawesi. Pulau yang terkenal dengan bangunan rumah panggung ini memanfaatkan batu karang laut yang udah mati sebagai pondasi rumahnya, dan pulau ini hanya dipisahkan oleh Selat Alas dengan Desa Alas.Akses menuju Pulau Bungin ada dua, yaitu lewat darat dan laut. Jika lewat laut, traveler harus menyeberangi laut dari pelabuhan Desa Alas dengan perahu yang bermuatan 10-15 orang penumpang. Cukup membayar seharga Rp 5.000 untuk orang dewasa, dan Rp 2.500 untuk anak-anak.Sedangkan jalur darat, traveler dapat langsung menuju Pulau Pungin dengan mobil atau sepeda motor. Konon pulau tersebut terpisah dari Pulau Sumbawa, tepatnya dengan dataran Desa Alas. Karena dahulu ada penduduk yang sakit dan meninggal di tengah perjalanan karena sulitnya transportasi.Mereka harus menyeberang dan menunggu ambulans datang dan membawa pasien ke rumah sakit. Namun, sampai sekarang ini luas wilayah dan penduduk semakin bertambah, sehingga memungkinkan pulau ini dibuatkan akses darat untuk memudahkan dalam transportasi.Pada perjalanan backpacker kali ini saya sengaja lewat jalur laut, karena saya tidak ingin melewatkan pemandangan laut masih alami. Jarak tempuh sekitar setengah jam sudah sampai di Pelabuhan Apung, Pulau Bungin.Sekilas memang tidak ada yang aneh dari pulau ini, bangunan dan suasana kehidupannya tampak sama dengan masyarakat yang tinggal dan hidup dipinggir laut pada umumnya. Sebagian besar mata pencarian mereka adalah nelayan walaupun ada sebagian kecil dari mereka bekerja sebagai pegawai negeri.Namun, Pulau yang dihuni kurang lebih 3.000 penduduk ini tidak ada bangunan kantor dan sekolah, sehingga anak-anak bersekolah di seberang pulau. Pulau ini hanya memiliki satu jalan dan beberapa gang-gang kecil untuk akses jalan rumah penduduk.Ada satu hukum adat yang unik di Pulau Bungin, yaitu laki-laki yang menikah dengan wanita disana mas kawinnya adalah satu pondasi rumah panggung yang nantinya sebagai tempat tinggal mereka. Untuk kegiatan memasak, para penduduk memanfaatkan kayu bako untuk membakar ikan dan lain-lain.Nah, beberapa keunikan dari pulau ini adalah sumber mata air tawar yang harus dicari ke daerah teluk yang memakan waktu 1 jam. Dimana air tawar ini diangkut oleh salah satu masyarakat dan dijual kepada penduduk sekitar, yaitu 3 ember seribu rupiah. Murah ya? Padahal penuh perjuangan untuk mendapatkan, kata salah seorang penjual air tawar.Keunikan lain tentunya ada kambing makan kertas. Mungkin kalau traveler berpikir kambing makan nasi, ikan, dan lauk pauk itu logis, tetapi mendengar kambing makan kertas bahkan pakaian penduduk di sekitar itu sangat aneh bin ajaib.Kambing-kambing di sana dilepas begitu saja oleh pemiliknya dengan tujuan agar si kambing dengan sendiri mencari makan. Dapat dibayangkan bagaimana proses pencernaan si perut kambing yang biasanya makan rumput.Dilihat dari bentuk tubuh kambingβkambing disana memang aneh. Perut kambing disana besar, tetapi ke empat kakinya sangat kurus. Apakah ini yang dinamakan busung lapar pada binatang? Traveler yang datang ke Pulau Bungin bisa menyaksikan sendiri kambing yang makan kertas.












































Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru