Ada Sungai Bawah Tanah di Gua Umbultuk, Blitar

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Ada Sungai Bawah Tanah di Gua Umbultuk, Blitar

Jonaz ο£Ώ Johanes - detikTravel
Selasa, 01 Okt 2013 13:54 WIB
loading...
Jonaz ο£Ώ Johanes
Keadaan dalam Gua Umbultuk
Stalagtit Gua Umbultuk
Ada Sungai Bawah Tanah di Gua Umbultuk, Blitar
Ada Sungai Bawah Tanah di Gua Umbultuk, Blitar
Jakarta - Gua identik dengan batu, tanah atau pasir di bawahnya, tapi berbeda dengan Gua Umbultuk di Blitar. Gua ini memiliki sungai bawah tanah yang jernih dan asyik untuk dijelajahi wisatawan.Kami sangat beruntung! Itu ekspresi saya dan teman-teman seperjalanan begitu selesai caving di Gua Umbultuk yang terletak di Desa Tumpak Kepuh, Kecamatan Bakung, Kabupaten Blitar.Dalam petualangan seru kali ini, kami berlima, saya, Dian, Dini, Elen, dan Ledy, serta seorang pengemudi mengunjungi Blitar dan sekitarnya. Tujuan utama kami untuk mengunjungi Gua Umbultuk. Saya tergoda untuk mencoba datang ke tempat ini setelah semalaman saya di-brainwash oleh Mas Toni, teman baru kami yang bertemu di Karimunjawa beberapa waktu lalu.Menurut Mas Toni, gua ini sangat unik karena mulut guanya berupa sungai, yang bila musim hujan tiba hanya bisa dimasuki dengan cara menyelam. Selain itu stalaktit dan stalakmit di gua ini sangat spesifik, setiap segmen gua mempunyai ciri khas tersendiri. Cerita Mas Toni begitu menghipnosis saya sehingga saya ingin membuktikannya.Tidak sulit untuk menuju Gua Umbultuk, dari Kota Blitar kami bergerak ke selatan melalui jalan yang sudah halus teraspal. Jalan ini searah dengan jalan ke arah Pantai Tambak Rejo. Jangan takut tersesat jika tidak punya GPS, masyarakat Blitar sangat informatif dan sangat ramah. Hanya bermodal senyum dan mulut manis, niscaya semua informasi yang dibutuhkan akan lengkap didapatkan. Saya suka dengan mereka, sepanjang perjalanan saya menyapa mereka dengan anggukan kepala atau sekedar bilang "Monggo" dan respon tulus berupa lambaian tangan atau anggukan kepala dari mereka sungguh membuat hati saya tenteram.Sampai di lokasi, kami disambut oleh sekelompok pemuda tanggung yang menawarkan jasa pemandu. Saya dan teman-teman sempat tawar menawar dengan mereka, yang setelah selesai membuat kami semua menyesal kenapa harus menawar. Sebabnya, mereka memberikan servis lebih dan all in. Dua lampu dan dua pemandu yang kami sepakati berubah menjadi lima pemandu dan dua lampu petromax plus beberapa senter. Segera setelah lampu petromax dinyalakan, kami bersiap untuk memulai petualangan mengarungi sungai di dalam perut bumi.Untuk masuk ke mulut gua, kami harus berjalan merunduk sampai beberapa meter ke dalam. Cahaya dari mulut gua yang dialiri air setinggi lutut menjadi sumber cahaya utama sampai radius sepuluh meter ke dalam, selanjutnya dua lampu petromax yang kami bawa menjadi sumber cahaya satu-satunya selama di dalam gua.Saya mendengar gemericik air di sebelah kanan gua, dan dalam keremangan cahaya lampu saya melihat air terjun yang berundak-undak. Air turun melalui sedimen bebatuan yang membentuk terasering berwarna kecoklatan, sangat indah. Ada sebuah lorong di sebelah kiri air terjun, dan kami harus menaikinya. Saya sempat terantuk batu karena belum terbiasa dengan medan dan cahaya yang minim. Tapi sensasi suasana gua yang gelap dan basah mengalahkan semuanya. Saya dan teman-teman tetap bergerak maju. Di segmen pertama saya tidak melihat stalaktit. Dasar gua didominasi oleh kerikil halus dan atap gua yang berupa batuan keras karang khas pantai.Di segmen berikutnya saya mulai melihat stalaktit muda di atap gua, bentuknya seperti susu sapi betina yang bergelantungan dimana-mana dan dasar gua mulai dipenuhi dengan kerikil yang agak tajam. Di sini kami melihat ada sebuah stalaktit dan stalakmit yang sudah menyatu. Penduduk setempat menamainya Watu Sanggar Tretes, entah apa artinya, tapi pasti ada satu makna di balik penamaan batu itu.Segmen berikutnya adalah kolam lumpur. Saya tidak tahu darimana asal lumpur ini, namun perjalanan menjadi sangat lambat karena medan menjadi licin. Kami harus merayap, berpegangan pada dinding gua sambil menyeimbangkan badan agar tidak terpeleset dan sampai pada lokasi berikutnya dengan selamat. Di sini ukuran stalaktit relatif lebih besar dan lebih lebar dari segmen sebelumnya.Setelah bersusah payah dengan lumpur, segmen berikutnya menantang kemampuan berenang, kami sampai pada sungai yang terdalam. Kami harus berenang melewati bagian itu untuk sampai ke segmen selanjutnya. Pemandu kami meminta untuk berpegangan pada dinding gua sambil bergerak melawan arus sungai yang pada saat itu tidak begitu deras karena musim kemarau. Ada sedikit rasa panik, karena beberapa teman kami tidak bisa berenang.Saya bisa membayangkan rasanya kaki yang tidak bisa merasakan dasar sungai, di tengah cahaya yang minim dengan badan yang sudah menggigil karena sudah basah kuyup sejak memasuki mulut gua. Teman yang tidak bisa berenang digendong di punggung pemandu dan kami pun melewati daerah itu dengan selamat.Di tengah rasa was-was itu, tiba-tiba ada suara seperti bunyi gong yang bertalu-talu. Rupanya salah satu pemandu kami memukul dinding gua yang berbentuk buku-buku raksasa sehingga memantulkan bunyi tadi menjadi bunyi gong yang bergema bertalu-talu. Ah, itu Watu Gong rupanya, dan kami pun berlomba-lomba memukulnya. Hilang sudah rasa panik berganti dengan sukacita membunyikan musik alam.Di akhir segmen, kami tiba di Watu Selendang. Mega stalaktit yang mungkin usianya ribuan tahun menjuntai ke dasar gua membentuk selendang. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana batu ini terbentuk dari tetesan air dari atap gua yang tinggi. Tidak hanya satu, tapi puluhan batu menjulur membentuk papan-papan yang bila diamati sangat halus menyerupai selendang putri kahyangan. Kaki Watu Selendang ini diselimuti sebuah kolam yang airnya sangat jernih. Kami menghabiskan waktu lumayan lama di segmen ini, memuji kebesaran Tuhan untuk karyanya yang luar biasa indah.Sebenarnya Watu Selendang ini bukan segmen terakhir di Gua Umbultuk, masih banyak segmen-segmen lain di dalam gua yang konon kabarnya pemandangannya semakin ke dalam semakin indah. Mungkin lain kali saya akan kembali dan menuntaskan petualangan sampai ke ujung gua ini.Sekedar catatan, sebaiknya melepas alas kaki, dengan begitu kita bisa merasakan bermacam-macam tekstur lantai gua. Mulai dari kerikil halus, pasir, lumpur yang seolah bergerak, cadas, dan tentu memudahkan kita berenang di air. Saya juga melihat fauna khas kegelapan diantaranya kelelawar, udang dan ikan transparan. Setiap segmen dalam gua ini sangat unik, perbedaan bentuk dan ukuran stalaktit dan stalakmit sangat berbeda.Medan yang dilalui juga beragam, merunduk, merangkak, merayap, dan berenang. Sebaiknya gunakan gaya apung air bila melewati dasar gua yang tajam. Caranya tenggelamkan badan sampai sebatas dada, tekuk kaki dan berjalanlah seperti biasa.Lepas dari cerita mistis tentang gua ini, asal kita bersikap santun semuanya akan baik-baik saja. Saya sangat beruntung bisa melihat keindahan Gua Umbultuk. Saya percaya tidak banyak yang punya kesempatan untuk melihat fenomena ini.
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads