Drama dan Petualangan di Puncak Tertinggi Sulawesi
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Drama dan Petualangan di Puncak Tertinggi Sulawesi

Rahmiana Rahman - detikTravel
Kamis, 24 Okt 2013 18:42 WIB
Jakarta - Pegunungan Latimojong merupakan salah satu pegunungan yang banyak dilirik oleh pencinta alam di Sulsel. Selain menikmati panorama, traveler juga bisa melatih susah senang bersama di puncak tertinggi di Pulau Sulawesi ini.Perjalanan yang dipilih kali ini adalah melalui Dusun Karangan, Desa Latimojong, dengan tujuan Puncak Rantemario. Sebenarnya ada beberapa jalur yang dapat dilalui untuk mencapai puncak.Jalur ini adalah jalur yang membutuhkan waktu yang paling singkat dibandingkan lainnya. Tapi, medan yang harus ditempuh cukup sulit karena terus menanjak.Kamis, 23 Agustus 2012"Perjalanan segera dimulai lagi,” kata saya dalam hati.Perjalanan terasa ramai kali ini. Selain teman-teman dari Jakarta, ada juga teman-teman dari Mapala STIEM Palopo, dan teman-teman yang tinggal di Enrekang.Pukul 08.36 Wita, kami start dari rumah Adit dengan truk kecil pinjaman dari Icca. Pukul 09.10 Wita, kami tiba di kost Kak Erwin di Baraka. Kami sempat berputar-putar Pasar Baraka saat itu untuk melengkapi logistik.Barulah pada pukul 09.48 Wita, kami tiba di bengkel tempat menunggu jeep yang akan kami tumpangi. Pukul 10.24 Wita kami menuju Karangan. Pukul 12.05 Wita jeep berhenti untuk istirahat sejenak. Perjalanan yang di tempuh memang jauh dan medan menuju Karangan sangat menantang.Pukul 12.05 Wita perjalanan kami lanjutkan setelah istirahat di dekat Masjid Baitul Haq, Bonto Mondong. Jam di ponsel saya menunjukkan pukul 13.00 Wita saat mataku dimanjakan oleh sungai dengan pemandangan menarik.Karena kondisi jalur yang tidak memungkinkan untuk jeep melaju dengan penumpang banyak, beberapa orang turun dan berjalan beberapa meter. Setelah jalurnya memungkinkan, mereka kembali naik di jeep.Pukul 13.50 Wita, kami tiba di Desa Latimojong dan langsung menuju ke rumah Pak Dusun. Sebelum berangkat, sebagian dari kami menunaikan salat di Masjid Jabal Nur, Karangan.Pukul 15.44 Wita kami berangkat. Tentunya, dimulai dengan berdoa bersama. Awalnya, jalur perjalanan masih sangat landai dengan sedikit tanjakan, setelahnya kami menemukan tanjakan setelah melewati sungai kecil.Jam di HP saya menunjukkan pukul 16.06 Wita. Saat itu ada sumber air berupa aliran sungai kecil. Perjalanan kami lanjutkan. Pukul 16.25 Wita dapat lagi sebuah sungai kecil. Pukul 16.47 Wita, kami mendapati pondok yang isinya sayur kacang buncis.Di daerah ini masih terdapat banyak sinyal. Barulah pada pukul 17.09 Wita sebagian dari kami tiba di Pos 1 (1.800 mdpl). Perjalanan kami lanjutkan dan pukul 18.09 Wita kami tiba di Pos 2. Sekitar 2,2 km dari pos 2 ada Air Terjun Sarung Pak-Pak.Jumat, 24 Agustus 2012Pagi menjemput, aktivitas pagi kembali dilakukan. Setelah sarapan, pukul 08.13 Wita, kami menuju Pos 3 dan tiba di ketinggian 1.940 mdpl pada pukul 9.00 Wita.Kami tiba pukul 10.04 Wita di Pos 4, yang merupakan kawasan konservasi dengan ketinggian 2.475 mdpl. Pukul 11.55 Wita kami tiba di Pos 5 (2.467 mdpl) dan istirahat makan siang.Pukul 15.00 Wita kami menuju Pos 6 dan tiba 45 menit kemudian. Lalu pada pukul 17.55 Wita kami tiba di Pos 7 dan langsung mendirikan tenda dan menikmati dinginnya malam di ketinggian 3.100 mdpl. 25 Agustus 2012Pukul 06.17 Wita kami menuju Pos 8. Hal ini tidak sesuai dengan kesepakatan di malam sebelumnya untuk mulai berjalan pukul 05.00. Pukul 06.29 Wita sebagian dari kami tiba di Pos 8 setelah melewati jalur yang menanjak dan daratan lumut.Pukul 06.30 Wita perjalanan dilanjutkan menuju puncak. Pukul 07.13 Wita tibalah kami di puncak, dengan sebuah tranggulasi menjulang dengan gagahnya. Langsung kami berpose untuk mengabadikan momen kebersamaan ini.Dengan bantuan teman, Uchenk, akhirnya saya bisa duduk di atas tranggulasi itu. Di atas tranggulasi, saya sempat menarik nafas panjang merasakan hembusan angin yang rasanya tidak seperti biasa."Terima kasih Allah, setiap kali diriku merasa di puncak, semakin tersadar betapa kecilnya diri ini. Tidak ada daya apa pun kecuali atas sedikit kekuatan dan banyak semangat yang Engkau berikan. Terima kasih atas nafas yang masih selalu Engkau berikan. Dan sebagai hamba, saya bersyukur atas setiap nafas di atap Sulawesi ini," ucap saya dalam hati.Pukul 08.23 Wita, kami meninggalkan puncak. Perjalanan turun terasa lebih mudah hingga tiba di Pos 7 pada pukul 09.20 Wita. Setelah makan siang maka pukul 12.30 Wita kami meninggalkan puncak.Sebelum tiba di pos 1, saya dan Uchenk sepakat menunggu teman-teman dari Jakarta yang ditemani Amar, Enal dan Adit di sebuah pondok setelah Pos 1. Pondok itu yang tadi aku sebutkan sebelumnya yang dipenuhi oleh sayur kacang buncis. Pukul 17.30 Wita kami tiba di pondok kecil itu.Gelap semakin menjemput. Alat penerang yang kami gunakan hanyalah sebuah headlamp dan HP masing-masing. Kami berada di antara dua pilihan, harus kembali berjalan untuk mengetahui keberadaan mereka? Atau menuju Karangan mencari bantuan?Saat itu lelah semakin menyeruak. Untungnya perut masih bisa diajak kompromi, setelah diisi roti pemberian Hajir dan sebuah mie. Uchenk saat itu berkata kalau sampai pukul 21.00 Wita belum ada kabar, kita ke Karangan saja dan saya sepakat.Dalam hati, rasa cemas akan mereka semakin menjadi. Di satu sisi, saya jengkel kepada beberapa teman yang tidak satu pun menunggu mereka. Semuanya seolah ingin cepat sampai Karangan. Sehingga terjadilah sesi curhat di pondok kecil itu.Beruntung ada sinyal, sehingga memungkinkan saya mengusir sedikit kejengkelan dengan menghubungi mama dan adik. Dari HP pula mata selalu tertuju melihat jam. Ada perasaan senang dari kejauhan kulihat beberapa cahaya mengarah ke pondok."Uchenk, sepertinya itu teman-teman kita," kata saya. Cahaya semakin dekat hingga terlihat jelas segerombolan orang yang memang menuju pondok. Harapan tadi terhempas. Ternyata mereka bukan teman-teman kami.Mereka orang Enrekang yang juga akan mendaki Puncak Rante Mario. Setelah bertegur sapa, Uchenk menitip pesan kalau bertemu dengan teman-teman dari Jakarta, sampaikan kalau kami menunggu di pondok setelah Pos 1.Detik terasa cepat berlalu. Pukul 21.00 Wita terlihat di HP. Kami memutuskan menuju Karangan. Saat ingin mengangkat daypack HP Uchenk berdering. Ada telepon dari Amar. "Artinya, dia sudah dekat dari sini," ucap saya berharap.Dan dia memang sudah ada di pos 1 bersama Mas Cecep dan Mbak Hani. Bergantian saya dan Uchenk mengarahkan Amar untuk membawa Mas Cecep dan Mbak Hani ke pondok itu, tempat kami menunggu mereka.Selang beberapa menit, Amar muncul. Saya menanyakan keberadaan Mas Cecep dan Mbak Hani. Amar menjawab mereka ada di belakangnya. Uchenk segera mengambil headlamp Amar. Saya mengajak mereka untuk menuju Pos 1 Terlebih dahulu.Rasa lelah saat itu semakin menghampiri, saya mengumpulkan kekuatan untuk mengikuti langkah Uchenk layaknya tim SAR. Sesekali kami berteriak memanggil nama Mas Cecep dan Mbak Hani. Tiba di Pos 1, kami tidak melihat mereka. Langkah kembali berayun melewati Pos 1.Tidak jauh dari tulisan Pos 1 itu hati kembali lega ketika melihat Mas Cecep, Mbak Hani, Mas Lintom, Mbak Lilik dan Mas Ari, dengan ditemani Adit dan Enal. Adit dan Enal masih tetap dengan senyumnya walaupun sudah double carrier.Uchenk segera mengambil satu carrier dan dengan langkah perlahan, bahkan saat itu Mas Lintom begitu lunglai, perjalanan dilanjutkan hingga ke pondok. Di pondok inilah mereka kembali beristirahat.Setelah merasa cukup beristirahat, Mbak Hani dan Mas Cecep ingin melanjutkan perjalanan ditemani oleh Adit, Enal dan saya menuju Karangan. Amar dan Uchenk menemani Mas Ari, Mas Lintom dan Mbak Lilik yang butuh istirahat.Setibanya di rumah Pak Dusun, aku membangunkan Ibin dan teman-teman lainnya. Saat itu pukul 01.00 Wita. Sambil mengutarakan kondisi teman-teman dari Jakarta dan kekecewaan saya pada mereka, saya meminta minta tolong dua orang untuk mengecek mereka.Saat itu Ibin dengan sigapnya bersiap. Saya tahu, Ibin sangat khawatir dengan keadaan teman-teman dari Jakarta. Bahkan saya merasa sangat memberatkan Ibin. Awalnya Erul yang menemaninya. Ternyata di tengah perjalanan menuju Pos 1 dia kembali lagi karena suatu alasan.Saya semakin mengungkapkan rasa kecewa padanya. Setelahnya saya naik lagi menemui teman-teman yang sedang berkumpul. Kembali saya mengungkapkan kekecewaan dengan intonasi yang lebih tinggi.Tapi, semoga saja mereka mengerti bahwa kekecewaan itu hadir karena saya sangat menghargai yang namanya arti persahabatan. Persahabatan dalam hal saling membantu, saling menjaga dan saling melindungi. Pukul 03.00 Wita dini hari, baru mata saya bisa terpejam.Minggu, 26 Agustus 2012Minggu pagi di Karangan terasa lebih istimewa ketika aku melihat kedatangan Mbak Lilik, Mas Lintom dan Mas Ari ditemani Uchenk dan Ibin. Wajah mereka segar kembali. Tidak seperti malam sebelumnya yang dipenuhi keletihan.Sembari packing, saya minta maaf atas emosi kecil yang diluapkan dini hari tadi. Semoga Hendrik, Erul, Fandi, Ozin dan Hajir tidak menyimpan dendam di hati mereka.Β Pukul 10.02 Wita perjalanan dilanjutkan menuju Baraka meninggalkan Desa Latimojong, Dusun Karangan. Banyak hal berkesan di perjalanan ini. Semoga menjadi kenangan untuk kita. (travel/travel)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads