Apapun Bisa Terjadi di KA Ekonomi Rangkas-Tanah Abang
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Apapun Bisa Terjadi di KA Ekonomi Rangkas-Tanah Abang

Syamsul Asinar - detikTravel
Selasa, 29 Okt 2013 11:24 WIB
loading...
Syamsul Asinar
menikmati pengamen di kereta api ekonomi
Penumpang kereta selamatkan diri dari hujan batu dari luar
Berbelanja karet rambut di kereta
Pedagang tape ketan dan uli di kereta ekonomi Rangkas
Apapun Bisa Terjadi di KA Ekonomi Rangkas-Tanah Abang
Apapun Bisa Terjadi di KA Ekonomi Rangkas-Tanah Abang
Apapun Bisa Terjadi di KA Ekonomi Rangkas-Tanah Abang
Apapun Bisa Terjadi di KA Ekonomi Rangkas-Tanah Abang
Jakarta - Pengalaman melancong tak hanya berkesan saat kita sudah mencapai destinasi wisata. Terkadang pengalaman unik itu juga dapat ditemui saat perjalanan. Misalnya, naik KA Ekonomi Tanah Abang-Rangkas yang punya banyak cerita.Atraksi budaya, panganan tradisional dan pernik unik yang memperkaya pengalaman ketika melancong, tidak hanya dapat ditemukan di tempat tujuan. Seringkali ia muncul dalam perjalanan. Seperti kisah di dalam kereta api ekonomi seperti yang kami alami.Perjalanan kali itu saya sekadar hendak mengajak satu teman satu sekolah di Asian Rural Institute. Frauke, gadis Jerman. Dia sengaja datang kunjungi kebun saya. Sekalian ingin lihat Indonesia, katanya. Maka selain ke kebun kecil yang saya kelola, dia saya ajak ke beberapa tempat yang saya kira menarik di sekitar Jawa Barat, Jakarta dan Banten.Kawasan Banten yang kami tuju adalah Desa Kanekes atau biasa disebut Kampung Baduy. Bulan Juli lalu, kami kemudian ditemani seorang teman, tante dan sepupu cilik yang juga ingin bertandang ke Baduy.Karena tidak ingin terburu-buru, kami tiba di Stasiun Kereta Api Tanah Abang hampir pukul 11.00 wib. Tanpa pikir, kami membeli tiket kereta yang akan segera berangkat. Dapat kereta ekonomi lokal. Ongkosnya cuma Rp 2.000 per penumpang. Angka yang membelalakkan mata kawan saya. Sangat murah!Lenggang di dalam kereta, tak banyak penumpang dan jauh dari kekhawatiran saya. Sejurus setelah kereta meninggalkan Stasiun Tanah Abang, para pedagang mulai bergerak menyusuri lorong sempit antar baris kursi. Dari gerbong ke gerbong.Seorang pedagang roti tawar tampak sibuk mengunggah lima kantung plastik besar di rak tempat penumpang menaruh barang (bagasi). Masing-masing berisi segepok roti tawar. Dari sekantung plastik yang sudah ia buka, ia tata roti tawar gemuk-gemuk ke atas tampah lalu mengedarkannya ke penumpang. "Rrr-roti... roti tawar!"Lalu bergiliran pedagang aneka barang lalu lalang. Mulai dari penjual minuman dingin dalam botol, sampai kopi hangat yang langsung diseduh air dari termos yang dijinjing. Rokok, pernak-pernik, aksesoris sampai jarum jahit. Tante saya berkali-kali menyetop dan menanyai pedagang, "Jual karet rambut?"Panganan kue-kue tradisional beberapa melintas. Mata saya menyambar penjual uli dan tape ketan hitam. Semua serba sebiji Rp 2.000. Saya angsurkan uang Rp 10.000. Dapat tape tiga kantong plastik kecil. Sisanya uli. "Cobalah!" tawar saya ke Frauke.Lalu dengan hati-hati ia kecap-kecap tape. "Tastes like rice wine!" cetusnya. Saya menelengkan kepala tapi setuju. Lalu dengan antusias ia meniru saya mencocolkan uli ke tape.Di sela-sela penjual makanan minuman, ada saja pengamen yang beraksi. Mulai dari sekelompok anak muda dengan dandanan ala punk dan menyanyikan protes. Anak kecil yang berkaraoke dengan tape kecil pembunyi musik, perempuan dewasa menyanyi dangdut dengan mesin sejenis dan sekelompok pengamen memainkan musik Sunda.Kereta panas, tanpa kipas angin. Apalagi penyejuk ruangan. Perjalanan terasa lambat. Kereta singgah di setiap stasiun kereta. Ada sekitar 15 stasiun saya kira. Saya abai mencatatnya dan lewat sedikit pukul 14.00 WIB kereta berhenti di Stasiun Rangkas.2 hari kemudian, ketika perjalanan pulang ke Jakarta, kami menumpang kereta api ekonomi AC Kalimaya yang melayani rute Serang–Tanah Abang dengan ongkos Rp 20.000 per penumpang. Tapi untuk rute Rangkas–Tanah Abang, kami cuma kena tarik ongkos Rp 15.000 per orang.Kereta ini lumayan nyaman karena ada penyejuk ruangan, benda ajaib yang dipuja penghuni kota sepanas Jakarta. Perjalanan Rangkas ke Tanah Abang pun berjalan jauh lebih melesat. Kereta hanya berhenti satu kali untuk singgahi stasiun Tiga Raksa."Tidak ada pengamen dan pedagang kayak kereta kemarin, ya?" tanya Frauke. Aku mengiyakan.Lalu kudengar sahabatku itu mendesah, "Kereta kemarin lebih menyenangkan. Lebih berasa sedang traveling." Tapi apa dia juga akan berkomentar yang sama jika mengalami kejadian seperti yang saya alami satu kali ketika menumpang kereta yang sama.Saat terjadi perseteruan antara kelompok klub sepak bola. Sekelompok pendukung satu klub menghujani kereta dengan batu-batu. Karena di dalam kereta terdapat banyak pendukung klub sepak bola seteru klub pujaan mereka.
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads