Dahsyatnya Tebing Vertikal di Lembah Harau

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Dahsyatnya Tebing Vertikal di Lembah Harau

Sukmadede - detikTravel
Rabu, 27 Nov 2013 10:20 WIB
Tebing yang kekar di Lembah Harau
Di Echo Homestay
Sarasah Bunta
Dahsyatnya Tebing Vertikal di Lembah Harau
Dahsyatnya Tebing Vertikal di Lembah Harau
Dahsyatnya Tebing Vertikal di Lembah Harau
Jakarta - Apabila Anda berkunjung ke Payakumbuh di Sumbar, Anda akan menemukan bukit cadas terjal yang terletak di Lembah Harau. Tebing-tebing granit yang terjal dan hampir vertikal ini merupakan pesona alam nan unik.Hamparan sawah terbentang luas di kiri dan kanan jalan, saat melewati Jalan Raya Bukittingi, Payakumbuh. Sebelum sampai di Lembah Harau, kami sempat mampir di Gua Ngalau Indah, gua stalagmit dan stalagtit yang berada di lereng bukit. Akses masuknya tak begitu jauh dari jalan raya.Jika langsung dari Bukittinggi, perjalanan dari Bukittinggi ke Lembah Harau akan memakan waktu sekitar 1-1,5 jam. Kaca mobil sengaja dibuka dan membiarkan udara segar memasuki paru-paru kami. Mulai terlihat dari kejauhan, kecantikan pemandangan Lembah Harau.Dinding-dinding batu yang memerah kecoklatan seperti memagari lembah, hamparan sawah dan hijaunya pepohonan. Ketika semakin mendekati dinding batu, maka semakin terlihat guratan-guratan bak relief alami. Batu-batu kekar itu diwarnai oleh waktu dan cuaca. Di bagian tertentu dinding batu, ada tanaman yang tumbuh juga. Ketinggian dinding batu ini mungkin hingga sekitar 200 meter.Konon, sudah banyak pemanjat tebing yang memang sengaja datang ke tempat ini, ingin merasakan dinding batu cadas yang curam dan lurus itu. Sampailah kami di Echo Homestay yang memang sudah kami booking sebelumnya. Setelah check-in, kami pun berkenalan berbincang-bincang dengan Pak Ade yang mengelola tempat ini.Terdapat sekitar 20 kamar yang berdesain eco-architecture di penginapan itu, dengan gaya ramah lingkungan. Terlihat dari bangunannya yang 80% menggunakan bahan kayu, atap dari ijuk, kamar mandi yang tanpa penutup/atap, dengan bagian atasnya ditanami tanaman. Kesannya, kita mandi di alam terbuka. Penginapan ini pun menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang menginap di Lembah Harau, terutama yang datang dari mancanegara.Setelah menggali sedikit informasi tentang tempat ini, dilanjutkan dengan makan siang. Saya dan istri memutuskan untuk menyambangi air terjun, atau disebut sarasah dalam bahasa setempat.Melalui jalan yang berkelok-kelok, memasuki hutan kecil dan celah dinding batu yang makin menyempit. Akhirnya kita sampai ke air terjun pertama, dan berlanjut ke dua air terjun lainnya. Di ketiga air terjun tersebut, beberapa orang sudah ada di sana menikmati dinginnya air sebelum kami tiba.Sore harinya, kami kembali ke penginapan dan menikmati pemandangan senja Lembah Harau dari beranda cafeteria Echo. Ditemani hangatnya kopi dan cemilan sore itu, tampak dinding batu Lembah Harau yang kekar semakin memerah warnanya.Keesokan paginya, terjadi hal yang jarang kami alami atau belum pernah. Tepatnya di tempat penginapan lain yang pernah kami datangi. Pagi itu kami dibangunkan oleh suara-suara dari Siamang yang bergelayutan dan saling bersahutan menyambut pagi! Ibarat wake up call, tapi ini yang versi alam!Dinding batu yang menjulang tinggi berjarak beberapa meter dari belakang kamar menjadi pembatas alami penginapan ini. Dari bagian atasnya lah suara-suara Siamang tadi berasal.Di tempat yang juga merupakan suaka margasatwa ini, selain siamang ada juga monyet ekor panjang, harimau sumatera, beruang, tapir, kambing hutan, burung enggang dan beberapa jenis hewan lainnya.Pagi hari itu, kami berangkat ke tempat yang berbeda arah dengan tempat yang kami datangi sehari sebelumnya. Di Lembah Harau juga terdapat tempat wisata pemandian yang menjadi tempat bagi pengunjung, baik lokal maupun yang datang dari luar daerah.Di halaman bagian depan, terlihat beberapa kendaraan sudah terpakir dan jajaran warung yang menawarkan makanan dan minuman. Selain warung-warung tadi, ada juga masyarakat yang menjajakan aneka jenis tumbuhan lokal, seperti anggrek, kantung semar dan beberapa jenis lainnya. Menghabiskan waktu hingga siang hari di sana, lalu kami melanjutkan perjalanan ke bagian bumi Minang lainnya.Kedatangan kami kali ini ke Lembah Harau, tak sempat untuk mencoba memanjat dinding batunya. Mungkin nanti, di lain waktu.
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads