Pemandangan Spektakuler dari Labuan Bajo ke Bajawa
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Pemandangan Spektakuler dari Labuan Bajo ke Bajawa

Hendra Fu - detikTravel
Selasa, 24 Sep 2013 17:40 WIB
Bandara Udara Komodo
Pemandangan Labuan Bajo
Danau Ranamese
Gapura Bajawa
Pemandangan Spektakuler dari Labuan Bajo ke Bajawa
Pemandangan Spektakuler dari Labuan Bajo ke Bajawa
Pemandangan Spektakuler dari Labuan Bajo ke Bajawa
Pemandangan Spektakuler dari Labuan Bajo ke Bajawa
Jakarta - Traveler bisa mendapat berbagai pengalaman dan pemandangan tak terlupakan dalam perjalanan. Dalam perjalanan menuju Bajawa, traveler bisa menikmati cantiknya Gunung Inerie, Danau Ranamese dan panorama Labuan Bajo.Pulang adalah kata yang tepat, dibanding berlibur. Tidak hanya karena ini adalah kali kedua saya menginjakkan kaki di tanah Flores, tetapi karena saya selalu merasakan penerimaan yang sangat hangat.Sore itu, seolah de ja vu, bersama travel partner saya yang bernama Biru berjalan keluar dari Bandara Komodo Labuan Bajo. Kami menjumpai orang yang sama yang akan mengantar saya ke penginapan.Saya sedikit merasa tersanjung karena orang tersebut masih mengenal saya. Bersama dengan dua turis Kanada yang juga satu penginapan dengan saya, mobil yang kami tumpangi pun menderu dan meluncur menuju Golo Hilltop Guest House. Saya pernah singgah di penginapan ini sekitar 8 bulan lalu.Wajah Flores agak berbeda dari pertama kali saya berkunjung. Bulan Januari lalu saya melihat penampakan bentang alam Flores yang hijau nan subur, karena sedang berada pada musim penghujan. Kali ini saya melihat Flores yang kuning kecoklatan, gersang.Selain itu, jalan raya satu arah yang dulu saya lewati mulus rupawan, kali ini sedang mengalami perluasan, dengan beberapa lubang dan bebatuan di kiri kanan jalan.Tidak sampai 15 menit, kami tiba di Golo Hilltop Guest House. Seperti biasa, saya langsung menuju restoran yang merangkap resepsionis untuk check-in dan mengambil kunci. Lagi-lagi saya dibuat takjub karena pemilik guesthouse masih hafal muka saya dan ingat di kamar mana saya pernah tinggal.Usai basa-basi sebentar, salah seorang porter yang ternyata masih kenal dengan saya, mengantarkan saya dan Biru ke kamar yang letaknya paling atas. Kamar deluxe seharga Rp 450 ribu ini sengaja saya pesan karena merindukan pemandangan sepotong Labuan bajo, yang nampak sempurna bila dilihat dari sana.Sebenarnya terdapat pilihan kamar standar seharga Rp 350 ribu. Namun saat saya mencoba booking, ternyata semua kamar standar tidak ada yang kosong.Setelah beristirahat sebentar di kamar sambil menikmati pemandangan Labuan Bajo, kami bergegas turun ke bawah menuju kolam renang. Berenang adalah agenda utama kami sore itu untuk memanjakan diri seraya menanti matahari tenggelam.Seperti biasa, saya harus melewati restoran merangkap resepsionis yang berada tepat di samping kolam renang. Saya pun memesan sepoci teh jahe hangat favorit saya. Spot favorit saya kebetulan baru saja kosong karena turis asing yang sebelumnya duduk di sana tampak berkemas dan kembali ke kamar.Hal yang saya sukai dari spot ini adalah saya bisa menikmati sepotong kecantikan Bajo yang tidak terhalang oleh apapun. Saya dan Biru beranjak dari kolam renang menuju restoran untuk makan malam sekitar pukul 7.Kami memesan nasi goreng seafood yang harganya Rp 25 ribu, yang menurut saya layak dengan rasa dan kuantitas potongan ikan, udang dan cumi-cuminya. Sambil duduk tenang di restoran, kami memanfaatkan fasilitas wi fi yang alhamdulilah lancar jaya.Restoran tutup sekitar pukul 21.00 Wita dan tentu saja tidak ada lagi aktivitas setelah jam tersebut. Semua orang masuk ke kamar masing-masing untuk tidur, tidak terkecuali kami.Subuh, sekitar pukul 05.00 waktu setempat, saya dan Biru sudah bersiap-siap berkemas. Kami harus mengejar bus ke Bajawa sebelum pukul 07.00. Setelah mandi dan check-out, kami berjalan kaki menuju jalan raya, ke arah persimpangan jalan yang dimaksud oleh salah satu pekerja di Golo Hilltop.Semalam ia menjelaskan bahwa di pertigaan jalan tersebut biasanya bus ke Bajawa lewat, jadi kami tidak perlu ke terminal segala. Tidak sampai 30 menit, berhenti sebuah bus di hadapan kami. Bus tersebut hanya melayani rute ke Ruteng.Awalnya kami tidak berminat untuk naik, berhubung tujuan utama kami langsung ke Bajawa. Sayangnya, ujar kondektur bis, bis yang langsung ke Bajawa sudah berangkat sedari pagi tadi dan kami terlambat.Jadi terpaksa kami naik ke bus tersebut untuk kemudian melanjutkan perjalanan dari Ruteng. Bis dengan tarif Rp 40 ribu tersebut mengantarkan kami ke Ruteng dalam waktu sekitar 4 jam.Jalanan mendaki dan berkelok-kelok khas jalan Trans Flores mengatup mulut kami rapat-rapat saking kagumnya. Perbukitan yang menghijau, lembah yang menjurang, sabana yang tandus, pemukiman warga yang cukup berjarak satu sama lain, dan deretan hutan silih berganti seperti rol film yang berputar di luar jendela.Pelebaran jalan yang cukup memperlambat laju bis tidak terlalu mengganggu kekhusyukan saya menyatu dengan alam di sekeliling saya, walau debu keringnya cukup mengganggu. Perjalanan memakan waktu sekitar 4 jam.Bis kami berhenti di sebuah perempatan jalan raya di Ruteng. Layaknya selebritis baru turun dari Limo, saya dan Biru dikerubuti oleh agen travel yang menawarkan diri mengantarkan kami ke Bajawa.Setelah disepakati harga Rp 60 ribu dengan salah seorang travel agent, saya dan Biru meletakkan tas kami di mobil dan menunggu mobil berangkat. Sekitar satu jam dari ketibaan kami, mobil akhirnya berangkat.Mobil itu berisi 5 penumpang, saya dan Biru, seorang bapak dan dua orang teman baru kami yang bernama JJ dan Andro yang ternyata juga akan ke Riung esok harinya. Riung adalah destinasi kami selanjutnya.Suasana yang sebelumnya dingin dan asing perlahan mencair seiring dengan bergulirnya roda mobil menembus setiap liku perbukitan menuju Bajawa. Ada sekitar dua kali mobil kami berhenti.Yang pertama untuk mengunjungi Danau Ranamese, sebuah danau yang dapat kami lihat dengan mudah tanpa harus treking berkilo-kilo meter. Kami hanya perlu menghentikan mobil, berjalan sedikit ke tepian jalan dan voila! Danau Ranamese tampak membentang dengan indahnya.Perhentian kedua kami adalah ketika Andro mendadak sakit perut dan panik mencari toilet umum. Sontak seisi mobil terpingkal-pingkal melihat kepanikan Andro. Wajar saja, siapa yang mengira ada WC umum di atas jalan perbukitan dengan hutan dan jurang di kanan kiri.Namun ajaibnya, Tuhan masih sayang Andro. Tak lama, kami menemukan sebuah WC umum. Wc yang sangat sederhana, dengan seng yang secara manual diangkat dan digeser untuk menutup pintu.Selagi menunggu Andro, saya dan yang lain iseng berjalan ke suatu spot, dimana kami sempat melihat ada seorang ibu dan anak kecil sedang mengumpulkan kayu bakar. Merasa kagum dan tertarik, kami pun berfoto sejenak dengan mereka.Bagaimana tidak kagum, mereka dan orang-orang yang biasa mencari kayu bakar di hutan, sudah terbiasa berkali-kali naik-turun bukit dan lembah dalam sehari. Hal ini tidak mungkin diterapkan pada saya yang baru trekking sebentar saja sudah anfal.Begitu Andro selesai, kami mengucapkan selamat tinggal pada teman-teman baru tersebut, lalu kembali melanjutkan perjalanan. Sore itu kabut sudah mulai turun dan temperatur di luar mobil semakin sejuk hingga membuat kami menggigil.Bajawa yang letaknya di atas perbukitan memang terkenal akan temperatur rendah ala puncak. Sebelumnya saya sudah diingatkan oleh kenalan saya yang tinggal di Bajawa agar membawa jaket, celana panjang dan kalau perlu sarung tangan atau kaos kaki.Beberapa menit kemudian, muncul pemandangan menakjubkan lainnya. Sebuah gunung berbentuk kerucut yang ujungnya benar-benar masih melancip. Seisi mobil sibuk mengeluarkan kameranya untuk mengambil gambar, kecuali bapak yang duduk di depan.Pak sopir hanya tersenyum sambil menenangkan kami yang sibuk memotret. Kata beliau, besok kami bisa puas berfoto dengan gunung yang bernama Inerie itu, karena gunung itu adalah background kampung adat Bena, kampung adat yang memang menjadi tujuan wisata kami.Dengan munculnya Gunung Inerie di kejauhan, kata pak sopir, berarti tidak lama lagi kami akan sampai di Bajawa. Benar saja, tidak lama kemudian, mobil kami berhenti di sebuah pertigaan.Menjulang gagah sebuah tugu selamat datang menyambut kami. Dengan sumringah, seolah beban lelah 4 jam yang kami rasakan dari Ruteng ke kota ini menguap begitu saja. Welcome to Bajawa!
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads