Makassar, Jakarta dan Papua dalam 12 Jam Terakhir
Rabu, 21 Nov 2012 11:55 WIB
Husni Mubarak Zainal
Jakarta - Perjalanan ke Papua memberikan energi yang luar biasa. Jam-jam terakhir sebelum menjelajah Bumi Cenderawasih adalah perpisahan dengan rumah serta harapan untuk sebuah petualangan yang menakjubkan.Kalau boleh jujur, saya bukanlah penggemar penerbangan pagi! Penerbangan pagi memaksa saya bangun lebih awal di banding ritme biologis saya, semua demi menyesuaikan dengan jadwal check in dan boarding penerbangan di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar. Hal ini membuat saya tidak merasa segar sepanjang hari, sesuatu yang cafein pun tak mampu membantu.Tapi hari ini berbeda, sejak semalam mata saya terasa sulit untuk dipejamkan. Adrenalin yang meningkat memberi saya energi lebih untuk tetap terjaga hingga pagi. Sebentar lagi saya akan terbang ke Jakarta, untuk menghadiri briefing bersama tim detikTravel sebelum melanjutkan penerbangan ke salah satu destinasi impian saya di ujung timur Indonesia, Papua! Sedari kecil, saya sering bermimpi bertualang ke negeri-negeri yang asing. Ayah saya yang senang berjalan selalu membawa pulang hadiah berupa cerita menarik, Papua salah satunya. Keindahan burung cendrawasih yang dikenal sebagai bird of paradise adalah hal pertama yang memperkenalkan saya kepada pulau kedua terbesar di dunia ini. Saya sempat berpikir, mungkin benar adanya tempat burung ini berasal adalah surga. Kemudian sewaktu SMA, saya mengenal Papua lebih dalam lagi melalui karib saya yang berasal dari Timika. Saya kembali mengecek semua perlengkapan dan kebutuhan perjalanan selama 12 hari ke depan yang telah saya siapkan, berharap tak ada yang terlupa dan perjalanan akan menyenangkan.Saat makan malam terakhir saya bersama Ibu, saya mengutarakan keinginan saya ke Papua keesokan harinya."Apa yang bakal kamu lakukan di Papua nak?" tanya ibu saya dengan sederhana."Berjalan dan bersenang-senang, Ma" jawab saya singkat.Sejujurnya saya belum memiliki bayangan apa yang akan kami lakukan di Papua. Sedikit rasa was-was pun saya rasakan. Tapi kemudian kembali lagi saya teringat, bukankah salah satu bagian terbaik dari perjalanan adalah menemukan? Maka saya hanya berharap dapat menemukan banyak hal, pelajaran dan cerita baru dari ujung timur Indonesia. Mari memulai perjalanan!












































Komentar Terbanyak
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Wanita Palembang Nekat Nyamar Jadi Pramugari, Batik Air Buka Suara
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru