This Is It! Pepes Ulat ala Suku Kamoro
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Dream Destination Papua

This Is It! Pepes Ulat ala Suku Kamoro

Husni Mubarak Zainal - detikTravel
Senin, 03 Des 2012 16:56 WIB
loading...
Husni Mubarak Zainal
Ulat sagu, kuliner khas dari suku Kamoro. Dapat dimakan hidup-hidup ataupun diolah menjadi berbagai macam santapan
Ulat sagu bakar yang menyerupai sate
Maikamo-Tobhokamo, si pepes ulat khas papua
Pepe sulat yang telah selesai disiapkan dan dibungkus akan dibakar hingga matang, disajikan selagi panas.
This Is It! Pepes Ulat ala Suku Kamoro
This Is It! Pepes Ulat ala Suku Kamoro
This Is It! Pepes Ulat ala Suku Kamoro
This Is It! Pepes Ulat ala Suku Kamoro
Jakarta - Jika biasanya pepes berbahan dasar ayam atau ikan, maka berbeda di Kampung Kaugapu, Timika, Papua. Masyarakat Suku Kamoro di sana membuat pepes dari ulat dan tepung sagu. Rasanya pun tidak kalah enak!Mengunjungi Suku Kamoro yang tinggal di muara-muara sungai di selatan Timika tidak lengkap tanpa mencicipi kuliner khas mereka. Beberapa kuliner khas dari Suku Kamoro, bisa membuat orang yang tidak biasa dengan kuliner unik akan mengernyitkan dahi. Salah satunya adalah ulat sagu.Di tangan perempuan Kamoro, ulat yang tampak menjijikkan dapat diolah menjadi santapan dengan cita rasa yang tinggi. Ulat sagu dapat dengan mudah ditemukan pada batang-batang pohon sagu yang telah dipangkur. Oleh para perempuan Kamoro, hewan gemuk berwarna kuning dengan kepala berwarna coklat kemerahan ini akan dikumpulkan dan dibawa pulang untuk disajikan kepada seluruh keluarga.Di suatu siang di Desa Kaugapu, Mama Felicia seorang perempuan Kamoro menghidangkan saya santapan ulat sagu andalannya. Di atas selembar daun, dia memasukkan tepung sagu yang telah diberi sedikit air. Kemudian beberapa ekor ulat yang telah dicabuti kepalanya turut dimasukkan ke dalam lembaran daun sagu."Sa pu suami suka kalau banyak sagunya," sambil berkelakar dia menjelaskan mengapa dia kembali menaburkan tepung sagu hingga memenuhi seluruh ruang di atas lembaran daun kecil ini.Jemarinya yang cekatan seakan tidak menua bersama dengan usianya, dengan lincah dilipatnya lembaran-lembaran daun sagu. Pepes ulat yang telah siap kemudian dipanggang di atas bara api hingga kulit daun menghitam dan mengelupas.Saya segera mengambil sebuah pepes ulat yang mengepulkan asap panas, melepas lembaran daun pembungkusnya dan menikmati sensasi gigitan pertama dari pepes teraneh yang pernah saya cicipi. Lidah saya mengecap sebuah rasa baru, pepes ulat ini membuat saya teringat pada rasa ubi manis bedanya rasa ulat yang sedikit asam membuatnya segar saat digigit.Tekstur sagu yang kenyal berpadu dengan gurihnya ulat yang telah dibakar. Proses pembakaran rupanya telah mengurangi kekenyalan dari kulit ulat dan membuatnya renyah saat digigit. Di tambah lagi sagu yang kaya akan karbohidrat dan ulat yang kaya akan protein serta proses pembakaran yang bebas minyak membuat santapan ini sehat dan bergizi.Mama Felicia kemudian menawari saya sebuah cemilan yang sekali lagi membuat saya mengernyitkan dahi. Di atas sebatang ruas sagu, tampak beberapa ekor ulat yang gemuk ditusukkan menyerupai sate. Warna kulitnya yang kuning kecoklatan menandakan ulat-ulat ini baru saja dibakar. Kali ini tanpa pikir panjang saya langsung menyantap hidangan cemilan ala Suku Kamoro itu. Rasanya tidak kalah lezatnya!Hari ini melalui suku Kamoro saya belajar, bahwa rasa dan pencitraan semuanya adalah hasil olah otak kita. Saat kita dapat sejenak melupakan batasan dan membuka diri untuk pengalaman yang baru. Niscaya hidup kita akan semakin kaya. Percayalah, saya baru saja membuktikannya!
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads