Laporan dari Thailand
Museum Rattanakosin, Sejarah Tak Pernah Seasyik Ini!
Senin, 11 Jun 2012 16:00 WIB
Fitraya Ramadhanny
Jakarta - Belajar sejarah dan mengunjungi museum mungkin dianggap sebagian orang adalah hal yang membosankan. Tapi, jika Anda mengunjungi Museum Rattanakosin di Bangkok, Thailand, semua terasa mengasyikkan.Ibukota dari Negeri Gajah Putih dulu pernah bernama 'Rattanakosin' yang digunakan pada 1782 sebelum diganti menjadi 'Krungthep Mahankorn' atau 'Bangkok'. Selain itu, 'Rattanakosin' juga merupakan nama era di bawah pemerintahan Dinasti Chakri, era di mana berbagai jenis seni dan budaya telah diwariskan, dikembangkan dan dikombinasikan terus menerus.Ketika masuk ke lorong Museum Rattanakosin Jumat (8/6/2012), detikTravel disuguhi gambar dan tulisan yang menempel di tembok mengenai sejarah Thailand dari waktu ke waktu. Kemudian kita akan diajak masuk ke sebuah ruangan untuk mengenal gaya hidup dan pekerjaan 12 komunitas Rattanakosin sebagai refleksi Thailand di era tersebut.Nah, bagian yang menyenangkan adalah kita hanya perlu berdiri di lokasi komunitas yang ingin kita ketahui sesuai dengan peta. Kemudian sajian audio visual akan muncul seolah kita merasakan era tersebut.Rattanakosin dibentuk oleh kebijaksanaan Raja Phra Bhuda Yodfah Julaloke Maharaja (Raja Rama I). Selain melakukan perencanaan kota, ia juga mengangkat moral penduduknya dengan menguatkan unsur seni dan kebudayaan.Dalam sebuah ruangan, pengunjung juga akan diperlihatkan jenis hiburan rakyat era Rattanakosin. Ada pertunjukan mirip wayang yang disebut Nang Tai (Big Skin), tari topeng yang bercerita Ramayana, opera China, dan masih banyak lagi.Pengunjung juga akan diajak melihat skala model Grand Palace yang berisi penjelasan audio visual mengenai arsitektur, dan fungsi berbagai sisi bangunan dari istana kerajaan. Sayangnya, penjelasan tersebut hanya disuguhkan dengan bahasa Thailand. Tapi, ada pemandu yang selalu menemani dan siap menerima pertanyaan selama kunjungan.Dari luar, gedung Museum Rattanakosin memang tampak sudah tua. Tapi di dalamnya tampak seperti baru. Ruangan yang dilengkapi teknologi, membuat belajar sejarah terasa tak membosankan.Museum Rattanakosin buka tiap hari Selasa hingga Minggu dengan tiket 100 Baht atau sekitar Rp 30 ribu rupiah. Tapi untuk pelajar, biksu, penyandang cacat, dan penduduk berusia 60 tahun ke atas tak dikenakan biaya.Adhie Ichsan - detikHot











































Komentar Terbanyak
Ketika Perbedaan Bahasa Indonesia-Malaysia Mengundang Tawa
Indonesia Bakal Punya Negara Tetangga Baru, Siap Merdeka di 2030
Malaysia Rajai Pariwisata ASEAN, Indonesia Kalah dari Vietnam