Uji Kesabaran Melewati Pegunungan Himalaya
Dhorothea Triarsari - detikTravel
Rabu, 08 Agu 2012 09:00 WIB
Jakarta - Pegunungan Himalaya, menjadi kompleks gunung tertinggi di dunia. Akan tetapi, membutuhkan kesabaran ekstra untuk bisa menikmati keindahan Himalaya. Cuaca dingin dan jalur yang terjal pun menjadi musuh perjalanan.Pegunungan Himalaya yang berada di wilayah India, menjadi salah satu destinasi terindah di dunia. Namun, memerlukan usaha guna mencapai titik terindah pegunungan tersebut.Titik start pertama yang menjadi pintu menuju Himalaya, yaitu Leh. Leh merupakan sebuah kota di negara bagian Jammu dan Kashmir, India.Jarak antara New Delhi ke Leh sekitar 1.047 km. Untuk sampai di kota ini saya menggunakan penerbangan dari New Delhi dengan pesawat terbang. Penerbangan berlangsung selama dua jam.Saat-saat menjelang pendaratan sesekali saya menengok ke jendela. Ya, pemandangan yang terlihat sangat memukau. Puncak Himalaya yang tertutup salju, menjadi lukisan alam nan indah.Berada di pegunungan Himalaya, Leh berada pada ketinggian 3.000 meter di atas permukaan laut. Lokasi ini sama dengan ketinggian puncak gunung di Indonesia.Baru pertama kali berada di tempat setinggi itu, tentu saja tubuh bisa protes dan terkena penyakit acute mountain sickness (AMS). Jadi, pergi ke Himalaya naik pesawat, kemudian istirahat total selama dua hari adalah sebuah keharusan untuk membiarkan tubuh melakukan penyesuaian dengan cuaca di Pegunungan Himalaya.Setelah tinggal di Leh selama beberapa hari, kami pun melanjutkan perjalanan ke kota Srinagar melalui perjalanan darat. Biasanya jalan darat dari Leh ke Srinagar baru dibuka pada bulan Mei.Musim dingin mulai berakhir di bulan Mei. Saat musim dingin tiba, salju yang mewarnai puncak Himalaya terlihat sangat tebal dan menutup sebagian jalan. Oleh sebab itu, jalan dari Leh pun terpaksa harus ditutup.Kami menempuh perjalanan dari Leh ke Srinagar sejauh 434 km. Kami berharap, dalam dua hari perjalanan sudah bisa sampai ke kota yang memiliki taman-taman Mughal yang menjadi warisan dari zaman Shah Jehan, pendiri Taj Mahal. Mobil jip pun menjadi transportasi yang kami gunakan menuju Srinagar. Supir kami yang bernama Agha merupakan mantan anggota angkatan darat India. Jalan menanjak dan menikung dia lalui tanpa ada rasa takut. Keberaniannya juga terlihat ketika nekat melewati jalan yang ditutup karena ada peledakan salah satu bagian bukit batu. Benar saja, dinamit meledak tak jauh dari lokasi kami. Syukur, kami tidak terkena dampak peledakan itu.penyebab kami lebih memilih jalur darat agar bisa menikmati keindahan salju Himalaya. Panorama salju yang membentang ketika kami berada di Fotula Top yang menjadi jalan raya antara Leh dan Srinagar. Brrr! Dinginnya jalan yang berada pada ketinggian 4.100 mdpl ini menembus jaket yang kami gunakan. Sore hari, setelah menempuh perjalanan sejauh 234 km, kami memilih untuk bermalam di sebuah losmen yang berada di daerah Kargil. Kota Kargil ini mirip dengan kota kecil dalam negeri koboi. Dalam satu kota hanya ada satu deret keramaian toko, pasar, dan hotel.Sebelum tidur, Agha memperingatkan agar kami bersiap meninggalkan Kargil pukul 04.00. βSupaya terhindar macet di daerah Jozila Pass,β katanya dalam bahasa India.Namun, ketika kami sudah siap berangkat pukul 04.00, Agha mengatakan kalau kami hampir tidak bisa berangkat karena jalan dari Leh ke Srinagar ditutup. Hanya mobil dari daerah Srinagar yang bisa jalan ke Leh.βTapi akan kami usahakan untuk minta dispensasi dari polisi agar kalian bisa lewat dengan alasan mengejar kereta ke Jammu lusa,β katanya berusaha menenangkan kami.Lewat salat Jumat, kami juga belum mendapat berita keberangkatan. Bahkan ketika kami sudah siap naik mobil, lagi-lagi kami mendapat halangan saat tiba di perbatasan. Setelah melakukan perundingan alot, akhirnya kami diperbolehkan melewati perbatasan dan melanjutkan perjalanan.Entah kesalahan apa yang kami perbuat, lagi-lagi perjalanan terhenti saat tiba di Dras. Dras merupakan sebuah desa dengan papan bertajuk "Dras, the second coldest inhabited place in the world". Ini adalah desa terdingin kedua di dunia setelah Siberia. Di tempat itu kami menyempatkan diri untuk istirahat.Ada yang unik di sini, selama berada di desa ini kami tidak melihat satu pun wanita muda. Malah, ada satu atau dua perempuan tua keluar rumah mengenakan kerudung. Kalau pun ada perempuan muda, ia pasti didampingi seorang laki-laki. Kehadiran kami, perempuan-perempuan dari Indonesia dengan segala kegaduhannya tentu menjadi perhatian masyarakat di sana.Hingga malam tiba, tak ada juga kabar yang memperbolehkan kami jalan. Alhasil, Agha meminta kami menyewa kamar untuk beristirahat. Kamar ini harganya semalam hanya 250 rupee atau sekitar Rp 50.000. Namun, tidak ada air yang mengalir di kamar mandinya. Diperkirakan alas tidur dan selimutnya juga bertahun-tahun tidak dicuci. Astaga!Baru pukul 10.00 kami diizinkan melaju menuju Jozila Pass. Jalanan yang kami lewati sangat padat karena truk-truk pengangkut barang dari Srinagar masih melaju ke arah Leh. Mobil harus berhenti sejenak memberi jalan buat truk untuk lewat.Memasuki Jozila Pass yang fenomenal itu, salju tampak masih tebal. Bahkan ketika membuka jendela mobil, kami bisa meraih tumpukan salju yang menempel di dinding batu. Pemandangan Jozila Pass ini memang luar biasa indah. Tak sia-sia kami harus menginap semalam di Dras yang luar biasa dingin itu.Maka ketika jalan sedang macet karena harus bergantian lewat dengan truk pengangkut barang. Kami memanfaatkan waktu itu untuk turun dan menikmati keindahan salju. Kegirangan kami tentu memancing keheranan orang-orang setempat yang juga terjebak macet. Mereka pasti sudah bosan melihat salju tapi kami malah kegirangan.Memasuki daerah bernama Sonamarg, sudah tak terlihat lagi salju. Pemandangan berganti mirip pegunungan Alpen, di mana terdapat rerumputan, pohon pinus dan aliran sungai jernih berwarna hijau toska. Di kejauhan masih tampak pegunungan Himalaya dengan puncak esnya.
(travel/travel)












































Komentar Terbanyak
Wanita Palembang Nekat Nyamar Jadi Pramugari, Batik Air Buka Suara
Nyeleneh! Jemaah Zikir di Candi Prambanan: Mau Lepaskan Kutukan Roro Jonggrang
Melawai Plaza: Markas Perhiasan Jakarta yang Melegenda Itu Tak Lagi Sama