Dahsyatnya Sunrise dari Negeri di Atas Awan
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Dahsyatnya Sunrise dari Negeri di Atas Awan

Meliyani Budiono - detikTravel
Jumat, 14 Sep 2012 09:16 WIB
Jakarta - Pagi, siang, sore, dan malam selalu menjadi waktu yang menyenangkan untuk melewati hari di Dieng Jawa Tengah. Apalagi saat fajar tiba, garis jingga nan tipis membuat Dieng bagai negeri di atas awan.Dieng merupakan dataran tinggi yang berada di dua kabupaten Jawa Tengah sekaligus, yaitu Banjarnegar dan Wonosobo. Selain keindahan panorama alamnya, Dieng memiliki beberapa wisata lainyang juga seru untuk dinikmati.Tahun ini, saya dan keluarga berlebaran di daerah dataran tinggi Dieng. Saya sudah sering mendengar kecantikan daerah ini dari Ayah dan teman-teman yang sudah pernah datang ke tempat ini.Banyak pilihan wisata yang sangat menarik di sini. Mulai dari melihat sunrise di Gunung Sikunir, wisata budaya di Candi Arjuna dan kelompok candi lainnya, melihat anak berambut gimbal yang konon pemberian dari dewa-dewa, wisata kuliner dengan ciri khas Mie Ongklok, wisata alam lainnya seperti Telaga Warna dan Kawah Sikidang, serta masih banyak lainnya yang bisa Anda pilih sesuai hati.Dieng di apit oleh Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Hal yang paling membuat saya terpesona adalah menikmati sunrise atau matahari terbit dari Gunung Sikunir. Saya berhasil menikmati sunrise saat hari kedua.Sebelumnya, pada hari pertama saya harus menyesuaikan diri dengan udara Dieng yang super dingin. Tidak hanya itu, hari pertama di Dieng saya dan keluarga juga sudah merasakan nikmatnya Mie Ongklok, khas Dieng Plateu.Brrr! Udara dingin sangat terasa ketika saya membuka mata pagi itu. Pagi itu, Mas Ipin yang menjadi guide sudah datang ke hotel tempat saya dan keluarga menginap. Jam baru menunjukkan pukul 04.00 dini hari. Setelah salat Subuh, kami langsung pergi menuju pintu masuk Gunung Sikunir di Desa Sembungan. Dengan perbekalan yang wajib dibawa seperti head-lamp, air hangat, sarung tangan, syal, dan topi, kami bergegas menuju Sikunir.Butuh waktu 20 menit dengan menggunakan mobil, untuk sampai di pintu masuk Sikunir. Ternyata banyak wisatawan lokal maupun asing yang sudah memenuhi parkiran mobil yang juga bersebelahan dengan Telaga Cebong.Wow! Pesona Sikunir memang sudah terdengar ke seluruh pelosok negeri, ya. Pada awalnya orang tua saya juga ingin ikut ke puncak Sikunir, tapi baru 5 menit jalan mamah sudah tidak kuat lagi untuk melanjutkan perjalanan. Jadi kami putuskan yang ke puncak hanya saya, teman saya bernama Tya, dan tentunya Mas Ipin.Jalurnya tidak begitu sulit, jadi cocok untuk semua kalangan. Setengah perjalanan kami berhenti karena Tya merasa keram. Kenapa bisa keram? karena Tya "menantang" suhu Dieng yang mecapai 7 derajat Celcius ini. Ya, Tya hanya memakai celana selutut dengan bahan yang tipis. Pantas saja kalau dia keram lutut.Sambil menunggu Tya istirahat, saya langsung mengabadikan foto-foto yang mengalihkan pandangan saya dari Tya. Sekumpulan awan dengan warna jingga tipis yang menandakan matahari hendak tampak ke Bumi terlihat di ufuk timur Dieng.Bergegas, kami kembali berjalan dengan kondisi Tya yang masih merasakan ngilu akibat keram. Cukup dengan berjalan santai selama 45 menit, kami akhirnya sampai di zona 1. Namun, kami harus mencapai Zona 2. Menurut Mas Ipin, zona ini menjadi puncak bagi wisatawan untuk mengabadikan momen sunrise di Sikunir. Di atas puncak ini sudah banyak wisatawan yang sampai lebih cepat daripada kami.Tanpa buang waktu, kami akhirnya kami bergegas ke Zona 2. Zona di mana puncak terbaik Sikunir dengan panorama yang luar biasa bagus dibanding Zona 1. Ternyata benar apa yang dikatakan Mas Ipin, hamparan awan yang indah layaknya membuat kami seperti melihat negeri di atas awan.Dari puncak ini, kami bisa melihat beberapa gunung, yakni Gunung Merapi, Lawu, Slamet, dan Sindoro. Belum selesai perjalanan kami di puncak ini, Mas Ipin sudah mengajak kami melihat Telaga Cebong dari atas bukit.Kami pun kembali berjalan selama 5 menit dan langsung melihat Telaga Cebong dari ketinggian sekitar 2.800 mdpl. Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 07.30 WIB. Rasanya kami tidak mau turun lagi. Tapi apa daya, kami tetap harus turun dan kembali ke hotel.Kami pun kembali ke hotel dan bersiap-siap untuk mengupas lebih banyak lagi wisata Dieng bersama Mas Ipin. Kawah Sikidang adalah target kunjungan kami selanjutnya.Kawah Sikidang hampir sama dengan kawah-kawah yang pernah saya kunjungi. Namun bedanya, untuk menuju kawah ini lebih baik menggunakan masker karena bau belerangnya cukup menusuk hidung. Diameter Kawah Sikidang tidak begitu besar, tapi di sini Anda bisa memasak telur rebus dengan harga Rp 2.500. Setelah melihat Kawah Sikidang, kami pun membeli oleh-oleh khas Dieng, yaitu Carica dan Jamur Dieng. Carica adalah manisan dari buah pepaya khas Dieng yang rasanya sangat manis dan bikin nagih. Jamur khas Dieng ini rasanya kriuk dan lebih gurih dibanding jamur-jamur yang pernah saya cicipi.Selesai sudah hari itu, pada hari keesokan harinya kami diajakke Teater Dieng Plateu. Tak terasa sudah 3 hari 2 malam kami menghabiskan waktu di Dieng. Memang benar, kalau hanya sehari saja di Dieng rasanya tidak cukup waktu untuk emnikmati keindahannya.Sayang, ada beberapa kawasan wisata di Dieng yang tidak diurus dengan baik. Padahal bisa menjadi wisata yang sangat menarik. Dieng, negeri ai atas awan dengan beragam pesona kecantikan yang terindah. (travel/travel)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads