Laporan dari Sri Lanka
Dunia Slumdog Millionaire di Colombo
Selasa, 03 Apr 2012 12:21 WIB
Fitraya Ramadhanny
Jakarta - Menjelajah ke kawasan kumuh di Colombo, Sri Lanka, adalah tantangan untuk para backpacker. Di balik suasana kumuh itu, kita bisa melihat semangat sebuah bangsa yang ingin berdiri sejajar dengan dunia.Jika Anda ingin tahu wajah asli Colombo, jangan hanya beredar di kawasan Fort atau Cinnamon Garden yang penuh dengan bangunan kolonial yang cantik, mal dan tata kota yang rapi. Cobalah menjelajah kawasan Pettah sampai Slave Island untuk melihat suasana Colombo yang khas.detikTravel menjelajah Colombo pada Jumat (30/3/2012) lalu. Dengan bajaj, penelusuran dimulai pagi hari dari kawasan Galle Road dengan Taman Galle Face Green yang indah di tepi pantai menghadap ke Laut Laccadive yang berbatasan dengan India.Di pagi hari, aktivitas di taman ini adalah orang-orang lari pagi atau berjalan-jalan. Jangan lewatkan bekas gedung DPR Sri Lanka yang antik, yang kini menjadi kantor Sekretariat Presiden.Dari situ, penulis menuju kawasan Fort, yang merupakan kawasan Pelabuhan Colombo dan aneka bangunan kolonial. Yang paling menjadi perhatian adalah gedung Cargills and Miller yang dilindungi sebagai bangunan cagar budaya warisan arsitektur kolonial.Dari Fort, barulah kita bisa melihat kawasan padat Colombo di Pettah. Pettah adalah kantung penduduk yang multi etnis. Selain etnis Tamil dan Sinhala, ada juga Melayu dan Tionghoa. Suasananya seperti dalam film Slumdog Millionaire.Jejeran toko memadati Pettah, apalagi di dekat Pettah Market yang menjadi kawasan pasar besar di Colombo. Di sela-sela jalan sempit dan kumuh, kerap kali kita melihat gelandangan dan pengemis, terutama di depan kuil atau masjid. Tempat ibadah yang paling sering didatangi wisatawan adalah Masjid Jamiul Alfar yang bermotif kotak-kotak putih merah.Di pagi hari itu, kita bisa melihat lalu lalang orang yang berangkat kerja atau pergi ke pasar. Tukang kelapa muda, teh tarik dan aneka jajanan pagi juga meramaikan pinggir jalan.Ingin suasana hiruk pikuk lagi? Dari Pettah, mampir saja ke Colombo Central Terminal. Terminal bus utama di Colombo. Anda bisa pergi kemanapun di Sri Lanka dari stasiun bus ini. Namun memang kondisi bus di Sri Lanka tidak sebagus bus di Indonesia. Central pun sebagai terminal bus utama ukurannya hanya sebesar Terminal Blok M.Nah, pasar paling ramai di Colombo ada di sebelahnya, Manning Market. Buah, sayur, daging, rempah-rempah ada semua di sini. Sebagaimana pasar tradisional Asia lainnya, Manning Market juga tumpah-tumpah sampai ke pinggir jalan. Suasana becek dan kumuh sepertinya juga bukan masalah.Dari Manning Market, sekalian juga mampir ke Fort Rail Station. Meski hanya seukuran Stasiun Jatinegara, inilah stasiun utama Sri Lanka untuk menuju ke berbagai pelosok negeri.Terakhir, meluncurlah menuju Slave Island. Kawasan yang pada masa kolonial Inggris merupakan daerah budak asal Afrika, kini menjadi daerah pemukiman padat dengan beraneka toko. Kawasan Slave Island memiliki Danau Beira yang luas. Di seberang danau, kita kembali ke daerah Galle yang berisi dengan aneka hotel-hotel nan mewah.Meskipun terkesan kumuh, Colombo memiliki sisi lain yang perlu para wisatawan tahu. Ketika mata mereka menatap asing pada Anda, hampiri dan ucapkan, "Ayubowan!" Salam sejahtera, dan mereka akan langsung berubah ramah pada Anda.Rasakanlah derap semangat rakyat Sri Lanka dari hiruk aktivitas pagi di Colombo. Mereka adalah orang-orang yang sama seperti kita di Tanah Air dalam langkah mencari penghidupan di pagi hari. Senyum mereka tersungging segar, sesegar air kelapa yang saya minum pagi itu di Pettah Market.












































Komentar Terbanyak
Bule yang Ngamuk Dengar Warga Tadarusan di Gili Trawangan Ternyata Overstay
Viral 'Tembok Ratapan Solo', Politisi PSI: Bukti Jokowi Dicintai
Bandara Mencekam, Penumpang Panik-Ketakutan Saat Bos Kartel Tewas