Upacara Rebo Kasan, Cara Warga Bangka Menolak Bala
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Upacara Rebo Kasan, Cara Warga Bangka Menolak Bala

Putri Rizqi Hernasari - detikTravel
Kamis, 15 Mar 2012 07:43 WIB
loading...
Putri Rizqi Hernasari
Berbagi air wafaq Rebo Kasan (dok. aksansanjaya/dtraveller)
Tetua membacakan doa (dok. aksansanjaya/dtraveller)
Tetua mencelupkan piring ke guci (dok. aksansanjaya/dtraveller)
Guci upacara (dok. aksansanjaya/dtraveller)
Ketupat lepas (dok. aksansanjaya/dtraveller)
Upacara Rebo Kasan, Cara Warga Bangka Menolak Bala
Upacara Rebo Kasan, Cara Warga Bangka Menolak Bala
Upacara Rebo Kasan, Cara Warga Bangka Menolak Bala
Upacara Rebo Kasan, Cara Warga Bangka Menolak Bala
Upacara Rebo Kasan, Cara Warga Bangka Menolak Bala
Jakarta - Ada acara menarik yang rutin dilakukan masyarakat Bangka setiap hari Rabu terakhir bulan Shafar. Mereka beramai-ramai melakukan Upacara Rebo Kasan. Tujuannya tak lain tak bukan adalah untuk menolak bala. Saksikan langsung upacara adat ini.Dari visitbangkabelitung.com yang dikunjungi detikTravel, Kamis (15/3/2012), Upacara Rebo Kasan adalah upacara yang dilakukan sebagai simbol untuk menolak bala. Acara ini rutin dilakukan oleh masyarakat di Desa Air Anyer, Kecamatan Merawang, Bangka. Biasanya, Rebo Kasan diselenggarakan setiap hari Rabu terakhir di bulan Shafar penanggalan hijriah.Nama Rebo Kasan diambil dari kata Rebo Kasat yang berarti Rabu terakhir di bulan Shafar. Upacara Rebo Kasan sudah dilaksanakan sejak abad ke-16 dan kemudian diturunkan ke generasi berikutnya.Pada masa itu, nenek moyang masyarakat Air Anyer biasanya melaksanakan salat sunnah empat rakaat dengan membaca satu kali Al Fatihah, Al Kautsar sebanyak 17 kali, Al Ikhlas sebanyak lima kali, Al Falaq dan An Nas satu kali pada tiap-tiap rakaatnya. Kemudian, mencabut dua helai daun kelapa dari ketupat yang dihanyutkan ke laut. Ini menyimbolkan bahwa bencana sudah dibuang ke laut.Tradisi ini terus dijalankan hingga sekarang, namun dengan beberapa perubahan. Saat ini, ritual tolak bala dimulai sekitar pukul 09.00 WIB. Saat itu akan dikumandangkan azan, kemudian masyarakat Air Anyer akan memasukkan piring ke dalam guci berisi air. Kemudian, warga yang lain akan membagikan ketupat lepas kepada tamu undangan, dan memanjatkan doa. Satu ketupat untuk dua orang.Selesai mengucapkan 'amin', warga dan undangan serentak menarik ujung daun ketupat. Tunggu dulu, upacara tidak berhenti di situ, acara terus dilanjutkan dengan beramai-ramai mendatangi guci dan meminta airnya.Itulah yang disebut dengan air waqaf, air yang dipercaya bisa menghalau bala. Ada yang membawa gelas sampai bekas botol minuman untuk menyimpan airnya. Kemudian mereka menuju ruangan di samping masjid.Ritual Rebo Kasan diakhiri dengan makan bersama para warga menggunakan alas makan dari dulang, atau nampan yang telah dibawa oleh masing-masing warga. Di dalam dulang tersebut sudah tersedia ketupat lengkap dengan lauk-pauk dan buah.Meskipun dalam proses ritualnya dilakukan di depan masjid dan menggunakan doa-doa, nuansa magis masih terasa lewat mantra-mantra yang terselip di setiap rangkaian.
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads