Jakarta - Pendakian menaklukan Gunung Ungaran cukup menegangkan. Dibutuhkan kejelian, kerjasama, dan tentunya semangat tanpa batas. Namun, ketika mencapai puncak seolah bayarannya lebih dari setimpal.Perjalanan saya dan teman-teman dimulai dari Semarang dengan menggunakan motor. Pendakian pun dimulai dari pos mawar. Dari awal perjalan, saya sudah merasa kelelahan. Begitu pula dengan teman saya, Caca. Berniat untuk menyerah, namun akhirnya kami memaksakan diri untuk melanjutkan pendakian.Kami memulai pendakian sekitar pukul 23.30 WIB. Medan perjalanan tidak terlihat sama sekali tanpa menggunakan senter. Tiba di pos 2, kami istirahat dan bertemu dengan sesama pendaki. Mereka berjumlah sekitar 20 orang, tidak seperti kami yang hanya berjumlah 7 orang. Kami pun berbincang-bincang bersama mereka. Setelah istirahat sekitar 5 menit, kami kembali melanjutkan perjalanan.Setibanya di pos 3, dua teman saya, Iib dan Ijal, memutuskan untuk turun lagi karena ada urusan mendadak. Di pos itu pula, kami mulai membuka bekal dan menyalakan kompor. Kami memasak mie instan yang dibawa oleh setiap masing-masing orang. Setelah kenyang, kami kembali melanjutkan perjalanan.Perjalanan sekitar satu jam lagi menuju puncak, namun medan perjalanan mulai terlihat tidak jelas. Banyak bebatuan dan batang pohon di jalanan. Kepala saya sempat terbentur batang pohon yang melintang di jalan. Bahkan, Kita semua terpeleset karena jalanan yang licin setelah hujan.Setelah mengalami perjuangan yg berat, akhirnya kami sampai di puncak. Ada yang langsung tidur, memasak, dan berfoto-foto untuk mengabadikan keindahan di depan mata. Perjalanan yang melelahkan. Tapi, kepuasan yang kami dapat melebihi perjuangan yang kami jalani.
(travel/travel)
Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru