Sawarna, Potret Desa Menawan Khas Indonesia
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Sawarna, Potret Desa Menawan Khas Indonesia

Rangga Yudhika - detikTravel
Selasa, 21 Feb 2012 09:36 WIB
loading...
Rangga Yudhika
Hijaunya Desa Sawarna
Suasana Rumah Panggung
Sawarna, Potret Desa Menawan Khas Indonesia
Sawarna, Potret Desa Menawan Khas Indonesia
Jakarta - Sebuah desa cantik yang terletak di Kabupaten Lebak, Banten, yaitu Desa Sawarna. Menciptakan sebuah pengalaman menarik akan keindahan alam khas Indonesia. Segalanya terlihat begitu sederhana, menciptakan potret kehidupan Indonesia nan indah."Yuk, ikut ke Sawarna!" begitulah ajakan adik saya, Rayudhika yang sedang mengakomodir perjalanan wisata untuk komunitas fotografinya. Keuntungan jika pergi bersama komunitas, kita bisa kenal dengan teman-teman baru yang belum pernah kita temui sebelumnya.Saya pun tersenyum dalam hati. Setelah sekian lama, akhirnya tiba juga kesempatan mengunjungi daerah wisata yang konon begitu mengagumkan. Dinas Pariwisata Banten sejak tahun 2000 silam sudah menetapkanΒ Desa Sawarna sebagai desa wisata binaan. Sontak saya pun langsung menggangguk tanda setuju dan mengajak seorang teman saya, Chayadi.Bisa dibilang, perjalanan ke Sawarna hanya dapat diakses oleh mobil kecil. Kia Travello sewaan menjadi pilihan paling ideal untuk kami. Lokasi Sawarna yang terletak di sebelah Selatan Kota Sukabumi dapat ditempuh melalui dua rute, yakni Sukabumi via Pelabuhan Ratu atau Anyer-Malingping untuk menyusuri sisi Pantai Selatan.Berdasarlan pengalaman touring bersama keluarga sebelumnya, rute kedua yang melewati Anyer-Malingping bukan pilihan yang baik karena kondisi jalan yang rusak. Dalam perjalanan menuju desa di daerah Sukabumi Selatan ini, akhirnya kami memilih rute Selatan, yaitu Pantai Selatan Sukabumi. Via Pelabuhan Ratu yang kurang lebih memakan waktu 6-7 jam dari pusat Kota Jakarta.Ketika tiba di area Desa Sawarna, kita akan langsung dibawa pada suasana yang berbeda, terutama ketika melewati gerbang masuk berupa jembatan gantung. Seolah-olah jembatan itu merupakan gerbang untuk melepaskan penatnya rutinitas dan mengajak untuk '"embali ke alam".Keseruan Desa Sawarna dimulai ketika harus berjalan di tengah jembatan selebar 1,5 m. Jembatannya turut bergoyang ketika kami lewati, agak goyah menahan beban dari derasnya sungai yang tepat di bawahnya. Perasaan terasa deg-degan dan cukup mengeluarkan keringat.Β Goyangan jembatan yang lumayan panjang ini banar-benar mampu membuat kami histeris, bisa menyebutnya "Orang Kota Masuk Desa". Ketika pertama kali masuk, desa ini sudah membuat kami tersenyum.Oya, jangan harap ada mobil yang melintas di desa ini. Semua kendaraan harus parkir di area parkiran yang berada sebelum jembatan. Praktis, hanya sepeda dan motor yang bisa berlalu lalang. Tenang dan begitu damai bukan? Tidak ada sikut menyikut pengemudi kendaraan seperti di Jakarta.Sedikit melewati beberapa pemukiman sederhana, kami beristirahat sejenak di homestay tempat menginap. Beberapa wisman (wisata mancanegara) dengan santainya memanggul papan selancar menuju pantai. Tak heran, kawasan ini telah dikenal sebagai salah satu lokasi surfing yang terkenal hingga ke luar negeri.Kabarnya, keluarga wisman ini sudah cukup lama menginap di Sawarna. Bahkan, mereka berencana untuk menginap hingga dua bulan! Anak-anak mereka justru dibiarkan berlari dan bermain bersama anak penduduk lokal Desa Sawarna. Mereka berlarian mengejar ayam atau saling gendong-menggendong. Padahal mereka tidak saling mengerti bahasa satu dengan yang lainnya.Β Pemandangan yang indah ketika melihat perbedaan yang berasal dari berbagai belahan dunia dengan bahasa yang berbeda bisa menjadi akrab. Tapi, justru kita yang satu tanah air sering berkelahi satu sama lain.Sejauh mata memandang, pemandangan luas di belakang homestay tampak begitu hijau dan alami. Pegunungan dan hamparan sawah yang mengelilingi Desa Sawarna semakin terlihat indah. Lokasi homestay yang tidak eksklusif dan justru membaur dengan beberapa perumahan warga justru semakin menambah daya tarik karena kami bisa membaur dengan warga yang kebanyakan tinggal di rumah panggung.Kami juga mengobrol dan berfoto bersama sebuah keluarga yang sedang makan siang di atas rumah panggung mereka. Suara ayam dan kambing turut meramaikan suasana desa. Rasanya tempat ini tempat yang sangat tepat untuk melepaskan segala kepenatan sehari-hari.Perjalanan panjang semalam yang begitu melelahkan pun sirna ketika mulai terdengar bunyi deburan ombak dari kejauhan. Sambil melewati hamparan rerumputan, kami pun semakin mendekat ke pantai yang memang begitu indah dengan pasir putihnya yang nyaris tanpa karang atau bebatuan.Para wisman yang membawa papan seluncur dengan santainya naik ojek motor yang membawa mereka ke sisi pantai. Semakin takjublah saya ketika melihat keindahan pesisir Pantai Sawarna. Bayangkan hamparan sisi pantai yang begitu luas dengan pasir putih yang begitu berkilau dibawah terik matahari. Ah, indahnya alam Indonesia ini!Saya pun langsung berlompatan diatas hamparan pasir luas tanpa perduli panasnya siang. Pantai Sawarna memang terkenal karena keindahan pantainya yang alami, dengan hamparan pasir putih yang begitu lembut.Β Saking sulitnya perjalanan menuju Sawarna, kami pun sangat menikmati setiap waktu yang kami lalui di sini. Atmosfer alami Desa Sawarna kembali kami rasakan sore harinya, ketika kami berjalan dari penginapan menerobos semak-semak hingga tiba di Tanjung Layar.Tanjung Layar adalah objek wisata paling terkenal di Sawarna, berupa bongkahan batu besar tak jauh dari sisi pantai. Tampak sangat elok disinari redupnya sang mentari. Dua batu besar yang tampak seperti layar ini menjadi latar yang indah untuk bernarsis ria. Sekilas, Batu Layar ini mirip dengan Tanah Lot di Bali. Jika beruntung dan air sedang surut, kita bisa berjalan hingga ke sisi Batu Layar tersebut.Saat beberapa teman terus saja memburu foto-foto menarik, saya dan Chayadi memilih untuk berselonjor di bawah saung, dikelilingi pesawahan sambil menikmati sebotol minuman. Tampak beberapa ibu petani menanam padi di tengah area sawah yang luas,Β  juga para bapak yang memetik buah kelapa langsung dari pohonnya. Sementara anak-anak mereka berlarian di tengah lumpur. Kesederhanaan yang luar biasa.Β Malam yang begitu tenang dan dipenuhi dengan suara jangkrik pun menjadi penutup kami di hari itu.Paginya, seperti biasa, menangkap sosok matahari terbit menjadi tradisi para fotografer ini. Tak tahan dengan godaan Pantai Sawarna, saya dan Chayadi memilih untuk langsung bermain dan berenang di pesisir pantai. Sambil duduk di pasir yang begitu halus, kami menikmati suasana the hidden paradise ini.Β  Beberapa peselancar bahkan sudah menikmati ombak yang cukup buas.Tak terasa, santai dan alaminya kehidupan di Sawarna membuat waktu berjalan begitu cepat. Ketika akhirnya harus kembali ke Ibukota, kami pulang dengan pikiran dan perasaan yang begitu lapang. Sebagai bumbu perjalanan pulang, beberapa kali kami harus turun supaya mobil kuat menanjak karena begitu terjal dan rusaknya jalanan. Kali ini kami sudah saling mengenal dan akrab satu dengan lainnya.Inilah salah satu manfaat travelling, memiliki teman dan saling berbagi kisah perjalanan.Β Petualangan Gua Lalay yang begitu terkenal di Desa Sawarna dengan petualangan stalaktitnya harus kami tunda, mungkin di kesempatan berikutnya mengunjungi Sawarna. Konon panjang gua ini sendiri bisa mencapai 1000 meter. Bisa dibayangkan serunya bertualang di gua yang begitu dalam dan gelap ini kan?Seperti kata Albert Einstein, "Look deep into nature, and then you will understand everything better."
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads