Waw! Gila-Gilaan Bareng Gajah di Way Kambas
Septi Safriani - detikTravel
Rabu, 28 Des 2011 10:15 WIB
Jakarta - Mendengar Kota Lampung, spontan terbayang dalam ingatan akan seekor hewan gemuk dan berbelalai panjang. Ya, itulah "si Lugu" gajah yang patut dilindungi karena gadingnya yang diminati banyak orang. Kami sebagai warga Lampung, ingin sekali memperkenalkan pada dunia, bahwa gajah juga bisa diajak bersenang-senang, kami lebih suka menyebutnya dengan, gila-gilaan bareng gajah!Liburan kali ini, kami yang dengan bangga menamakan grup kami sebagai Tim Pukein, mengunjungi si Gemuk di rumah mereka, yaitu Taman Nasional Way Kambas. Terletak di Jln. Raya Way Jepara, Labuan Ratu Lama, Lampung. Sebenarnya Taman Nasional Way Kambas merupakan perwakilan ekosistem hutan dataran rendah yang terdiri dari hutan rawa air tawar, padang alang-alang atau semak belukar, dan hutan pantai di Sumatera. Taman Nasional Way Kambas memiliki 50 jenis mamalia, yang di antaranya adalah gajah Sumatera. Gajah-gajah yang masih liar dilatih di Pusat Latihan Gajah (9 km dari pintu gerbang Plang Ijo), kemudian dapat dijadikan sebagai gajah tunggang, atraksi, angkutan kayu, dan bajak sawah.Perjalanan kami tempuh dengan menggunakan dua sepeda motor, selama kurang lebih 2 jam dari Kota Metro. Tempatnya cukup mudah ditempuh karena kondisi jalan yang bagus, kecuali jika ingin masuk lewat pintu belakang. Kita harus melewati jalan bebatuan dan sawah-sawah, meskipun tidak lama. Di sepanjang perjalanan area lintas timur, beberapa pedagang durian coba menawarkan dagangannya di pinggir-pinggir jalan. Sungguh menggiurkan, tetapi kami lebih memilih untuk membeli durian pada saat perjalanan pulang, karena akan merepotkan saja jika dibeli saat sebelum sampai tempat tujuan.Sesampainya disana, kami langsung disambut dengan babi-babi hutan yang cuek. Awalnya kami ketakutan karena para babi itu dengan beraninya menyebar di sekitar manusia. Akan tetapi, setelah melihat tak ada satupun pengunjung yang takut, kami berasumsi bahwa para babi itu ramah-tamah, dan semua pengunjung nantinya akan terbiasa dengan mereka.Sesuai dengan nama kami, Tim Pukein (Pusat Keindahan, haha narsis!), maka benar saja, pakaian nyentrik dan gaya kami yang norak menjadi pusat perhatian saat itu. Kami langsung diajak berkenalan dan ngobrol dengan beberapa pawang gajah di sana. Dan beruntungnya, kami diajak menunggang gajah gratis berapa lama pun kami mau. Lumayan, karena bagi pengunjung umumnya, naik gajah dikenakan tarif Rp 10.000,00 per orang atau putaran. Kami menaiki seekor gajah yang bernama Lisnawati yang tubuhnya sedikit lebih kecil dibanding gajah-gajah lainnya. Sempat tertawa juga mendengar namanya, karena mereka menamai gajah-gajah tersebut dengan nama manusia, bukan nama-nama hewan yang unik. Tapi, kami pikir, itulah kreatifitas sang pawang, atau mungkin mereka nyaman dengan nama para penyanyi dangdut, hehe.Lisnawati dinaiki oleh kami, lima orang sekaligus, yaitu Septi, Ayu, Yuni, Reni dan sang pawang. Kami berputar-putar mengelilingi area bermain sang gajah, hanya padang rumput yang luas sih.... Di sepanjang perputaran, sang gajah hanya makan saja kerjanya, seolah tak menghiraukan beratnya beban yang sedang ia pikul saat itu. Padahal kami sempat merasa kasihan saat ia harus membawa kami ber-lima sekaligus, tapi rasa khawatir kami itu pupus dengan senyuman. Ternyata berada diatas punggung gajah lama-lama mengerikan juga. Tawa terbahak-bahak di awal petualangan berubah menjadi senyum kecut ketakutan saat keseimbangan mulai goyah. Kami meminta sang pawang untuk mengakhiri petualangan ini sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan yang pada normalnya itu hanya paranoid kami saja.Akhirnya sang pawang membawa kami kembali ke tempat penaikan gajah. Mereka sangat baik, bahkan ada satu pawang yang dengan rela mengikuti kemana gajah pergi hanya untuk mengabadikan kebahagiaan kami diatas punggung gajah dengan video recorder yang kami bawa. Sayangnya, hasil video itu tidak jelas karna kematairan sang pawang men-shoot peristiwa bahagia yang juga men-dagdigdug-kan jantung itu. Akhirnya dengan penuh kekecewaan, video tersebut tidak dapat kami upload.Setelah lelah bermain-main dengan gajah, kami berkeliling lokasi untuk menikmati pemandangan alam sambil berfoto-foto. Tak lupa mencari souvenir di pusat oleh-oleh yang ada di dekat tempat parkir. Diikuti dengan menikmati es degan untuk menghilangkan rasa dahaga kami. Puas hasrat kami ingin bersenang-senang saat itu, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke rumah.Di perjalanan pulang, sesuai dengan janji kami tadi, maka kami pun menghampiri durian-durian yang bergelantungan di pinggir jalan, ditemani penjualnya tentu saja. Beberapa durian telah kami pilih dan beli. Dan durian pun sudah siap diikat di antara ban belakang motor yang berputar. Tetapi, yang namanya Tim Pukein, gak akan puas sampai disitu saja. Kami lantas minta sang penjual untuk memotret gaya kami lengkap dengan atribut motor. Dengan senang hati sang penjual memberikan bantuannya.Sesampainya di rumah, kami langsung menikmati buah durian dengan puas. Perjalanan ini tidak akan kami lupakan sampai kapanpun. Tawa, canda, dan keisengan kami rasanya melukiskan banyak warna di tempat itu. Semoga dengan berbagi pengalaman ini, Taman Nasional Way Kambas dapat lebih dioptimalkan dan lebih bagus lagi.
(travel/travel)












































Komentar Terbanyak
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Terungkap! Penyebab Kapal Dewi Anjani Tenggelam: Semua ABK Ketiduran
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun