Manisnya Tetesan Nira di Kulon Progo
Sari Suwito - detikTravel
Kamis, 08 Sep 2011 15:53 WIB
Jakarta - Dalam mengisi liburan di kampung halaman di Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta saya dapat menikmati suasana desa yang masih sepi, jauh dari hiruk pikuknya kota besar. Β Sebagian besar aktivitas penduduk adalah bertani, disamping bertani ada juga penduduk yang memiliki usaha sampingan, yaitu menjadi pengrajin gula kelapa, yang dihasilkan dari pohon kelapa yang tumbuh di pekarangan rumah. Melalui tulisan ini saya ingin berbagi tentang Β kegiatan yang dilakukan oleh pengrajin gula kelapa di kampung ini.Β Salah satu keluarga yang merupakan pengrajin gula kelapa dengan tekun mengerjakan proses pembuatan gula kelapa ini. Bapak bertugas mengambil nira dari pohon kelapa, sedangkan ibu bertugas memasak nira hingga menjadi gula kelapa. Pembuatan gula kelapa ini dimulai dari proses pengambilan nira dari manggar (bunga) pohon kelapa. Setiap pagi dan sore memanjat pohon kelapa untuk mengambil nira yang ditampung dalam bumbung (wadah dari bambu) diambil dari manggarnya. Maka batang manggar atau bunga kelapa akan dipangkas sedikit agar air nira yang baru akan menetes dari ujung manggar tersebut. Β Lalu diletakkan bumbung yang lain, di dalam bumbung tersebut sebelumnya sudah diletakkan 1-2 sendok injet (larutan air kapur sirih).Β Β Setelah itu bumbung dikumpulkan lalu nira yang ada dalam bumbung tersebut digabungkan menjadi satu dalam satu panci Β dan kemudian dimasak di atas api. Bahan bakar ini dapat memanfaatkan bagian dari pohon kelapa seperti pelepah kelapa, daun kelapa yang sudah kering, sabut kelapa bahkan batok (tempurung) kelapa. Proses memasak ini memakan waktu sekitar 3-4 jam. Selama proses memasak, maka akan dilakukan "gojok", yaitu proses pencucian bumbung yang sudah terpakai tadi dengan menggunakan air panas yang digosong dengan batang manggar atau batang bunga kelapa. Sehingga bumbung menjadi bersih dan siap untuk menggantikan bumbung yang ada di atas pohon kelapa ketika air nira diambil.Β Selama proses memasak ini perlu dijaga agar air nira tidak meluap bahkan luber dari panci dengan cara mengaduknya, bahkan kadang dengan meletakkan daun kelapa yang masih hijau ke dalam panci tersebut. Setelah air nira berbuih dan agak mengental, untuk menjaga agar tidak meluap keluar panci biasanya diletakkan parutan kelapa ditepi panci tersebut. Dan, memang betul, air nira yang sudah mengental tidak meluap-luap ke atas lagi.Β Setelah air nira cukup mengental maka panci akan diturunkan dari atas api, dan dilanjutkan dengan proses "ngecek", yaitu proses menggosokkan alat yang terbuat dari kayu ditepi panci. Tujuan dari "ngecek" adalah supaya air nira bertambah kental secara merata dan cepat kering. Setelah Β dirasa sudah cukup kental maka nira akan dituang kedalam cetakan yang terbuat dari batok kelapa, yang sebelumnya batok ini dibasahi dengan air dingin. Β Setelah nira dimasukkan dalam cetakan maka setelah beberapa menit gula akan mengeras dan bisa dikeluarkan dari cetakan batok kelapa tersebut. Setelah dingin gula siap untuk dipacking untuk dijual.Β Dengan bersumber pada empat batang pohon kelapa dalam setiap harinya bisa menghasilkan 1-2 kg gula kelapa. Gula kelapa ini dijual dengan harga 9-10 ribu rupiah per kilogramnya, dan tentunya merupakan penghasilan tambahan bagi keluarga.
(travel/travel)












































Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru