Jakarta - "Sesaat lagi kita akan mendarat di Bandara Sentani, Jayapura. Silahkan kembali ke tempat duduk Anda, tegakan sandaran kursi Anda dan kenakan kembali sabuk pengaman Anda!"***Selalu ada perasaan sentimentil ketika datang kembali ke Jayapura, Papua. Kota kecil yang terhimpit di antara topografi berbukit dan pantai selalu memesona dengan beragam budaya dan tentu saja tempat wisata yang tak ada habisnya. Seperti intan, makin diasah, Jayapura semakin indah seperti berlian.Ini kali ketiga saya mengunjungi tempat kelahiran saya sejak 2007 lalu. Ongkos yang mahal dan jarak yang sangat jauh dari Jakarta membuat saya berpikir dua kali untuk mengunjungi Jayapura setiap waktu.Setelah mendapat izin cuti dari kantor, pagi masih gelap dan dingin ketika saya sudah ada di terminal 1A Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Saya memilih penerbangan pukul 05.00 WIB. Selain lebih murah, lebih baik tiba di sana saat matahari masih semangat, bukan?Ada beberapa maskapai nasional yang melayani penerbangan dari Jakarta menuju Jayapura. Jalur transitnya pun berbeda-beda. Saya memilih maskapai Lion Air karena saat itu saya dapat harga murah. Jakarta-Jayapura Rp1.450.000,00, hanya sekali transit di Bandara Sultan Hassanudin, Makassar, Sulawesi Selatan.***Selama 2,5 jam Jakarta-Makassar, 30 menit transit, 3,5 jam Makassar-Jayapura, akhirnya pesawat Boeing MD-90 mendarat kasar di landasan pacu yang lumayan pendek di Bandara Sentani, Jayapura. Hal baiknya adalah akhirnya kaki yang malang ini bisa direnggangkan juga. Hal buruknya, saya kehilangan Ipod Nano dan Headphone Philips dari tas ransel yang dimasukkan ke bagasi. Setelah melapor petugas maskapai setempat, ia hanya mampu membuatkan surat kehilangan untuk laporan ke kantor pusat, berspekulasi panjang lebar, dan makin membuat kesal.Sebaiknya datang ke Jayapura jangan bulan ramadhan. Kota yang tingginya kurang lebih 1 meter di atas permukaan laut tentu saja punya limpahan cahaya yang banyak sekali dari matahari. Semenit saja Anda berdiri diluar ruangan pukul 09.00, pasti sudah keringatan seperti yang saya alami saat ini. Namun, saya datang di musim berbuah matoa. Buah yang konon endemik ini dijual di setiap sudut kota. Tak tanggung, satu kilo buah matoa harganya Rp50.000,00. Daging buah ini bentuknya seperti rambutan. Rasanya campur aduk dari durian, lengkeng dan rambutan. Yang pasti, rasanya manis sekali. Jangan rakus makan buah ini kalau tidak ingin radang tengorokan tiga minggu kemudian seperti nasib saya.***Waktu kecil dulu, saya sering main ke pantai Dok 2. Pantai di depan kantor Gubernur Jayapura ini yang paling ramai dikunjungi tiap sore dan akhir pekan. Selain paling dekat dari kota, pantai ini gratis untuk siapa saja. Maklum, di pantai lain seperti Base G dan Sekuai ada tiket masuknya.Tidak ada yang berubah dari pantai yang sudah lama saya tinggalkan ini. Garis pantainya dipisahkan oleh bangunan pemantau cuaca milik BMKG. Sebelah kanan, penuh batu karang, pecahan beling, dan pasir pantai yang kasar. Di sebelah kirinya, tak ada batu karang sama sekali, tapi justru jarang ada yang berenang disitu.Dari pantai ini, telihat dua pulau kecil yang terlihat seperti benteng yang menjaga Kota Jayapura. Uniknya, dua pulau yang berdekatan ini dihuni oleh penduduk yang menganut keyakinan beragama yang berbeda. Pulau yang ada menara berbentuk salib dihuni penduduk beragama Kristen. Pulau disebelahnya dihuni penduduk beragama islam. Dan hebatnya, sejak saya lahir hingga kini tak pernah mendengar dua pulau tersebut saling serang karena perbedaan itu. Mereka hidup rukun dalam perbedaan.Ada beberapa hal yang berubah. Hotel Aston dan Swiss-Bell hotel, telah berdiri d isini. Cafe-cafe eksklusif pun mulai berani ekspansi bisnisnya jauh dari Jakarta. Namun, bioskop satu-satunya di sini, Bioskop Imbi yang terletak di Taman Imbi telah lama tutup karena bangkrut.***Tidak cukup satu minggu liburan kota paling ujung timur Indonesia. Banyak sekali pantai indah di sini, bukit-bukit untuk melihat landscape Jayapura, dan matahari terlihat lebih besar di sini. Sayang, saya terlalu malas untuk bangun pagi dan mengambil gambarnya.Festival Sentani. Festival tahunan ini kini menjadi andalan Dinas Pariwisata setempat dalam menarik turis lokal dan mancanegara untuk datang ke sini, rencana yangΒ cukup menjanjikan untuk kemajuan pembangunan kota. Namun, ada kekecewaan yang saya rasakan. Pantai Dok 2 tidak berubah, harga makanan yang mahal, dan tiket masuk lokasi wisata yang tidak wajar menjadi beberapa hambatan yang mungkin bisa dibenahi lebih baik lagi. Dan yang pasti, jika harga tiket pesawat lebih murah lagi, Jayapura tidak lagi menjadi sekadar kota tujuan impian.
Komentar Terbanyak
Ada Gerbong Khusus Merokok di Kereta, Kamu Setuju?
Terpopuler: Dedi Mulyadi Terancam Dicopot, Ini Penjelasan DPRD Jabar
Bisa-bisanya Anggota DPR Usulkan Gerbong Rokok di Kereta