Jakarta - Selama empat tahun kerja di media, ini pengalaman paling melelahkan yang pernah saya alami. Dimulai saat saya dan Putri Kusuma, rekan reporter saya mencari pemukiman (kampung atau dusun) terpencil di daerah Jawa Barat. Setelah melakukan riset dan koordinasi fixer (warga lokal yang membantu mencari informasi) via telepon.Setelah mendatangi empat desa, dua puluh jam di dalam mobil, empat jam naik ojek, empat jam jalan kaki yang sangat melelahkan melewati hutan, dan perkebunan jati di tengah guyuran hujan selama dua hari survey lokasi. Kami kembali 16 april 2011 dengan tim lengkap. Dua reporter, dua camera person (saya salah satunya), dua orang talent (untuk rekonstruksi kisah lalu), seorang pengawal alat, seorang fixer, seorang driver, satu mobil taft GT, dan dua belas ojek serta belasan dus logistik dan tas backpack. Kami pun berangkat menembus bukit kebun jati emas milik seorang Korea menuju Desa Ciangkrek.Jangan mengira jalannya berliuk-liuk mulus beraspal. Jalan yang kami lewati dilapisi pecahan batu-batu kali besar yang jadi pondasi sebelum diaspal. Matahari sudah sangat condong ke barat dan kami harus menuju Ciangkrek sebelum gelap. Setelah semua barang logistik siap di mobil, dua belas ojek pun berangkat beriringan membawa kami dan beberapa barang ringan yang bisa di bawa diatas ojek.Banyak cerita lucu yang sebenarnya kasihan juga jika mengalaminya. Motor yang membawa Michael, seorang talent yang gemuk terpaksa harus didorong empat kali. Bayangkan motor bebek tahun 90-an harus menahan beban 60x120 kilogram mendaki bukit dengan sudut kemiringan 75 derajat! Saya juga sempat terkena sial berapa kali. Tukang ojek dan saya tidak lebih berat dari motor itu sendiri tapi apesnya, motor yang saya tumpangi dibuat ceper. Untuk melewati jalan seperti ini seperti menunggangi kuda kurus yang liar tanpa pelana, pinggang saya hampir patah saat melewati pecahan batu-batu kali ini dengan shockbreaker untuk motor balap. Belum lagi pedal rem kaki yang akhirnya patah karena dua kali menghantam batu besar. Bahkan Fitri, reporter yang mengurusi keuangan liputan harus mengobati jempol kanannya yang sobek akibat terserempet pecahan batu kali yang kami lewati.***Kampung Pasir Jambu, Dusun Ciangkrek, Desa Mekar Asih, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi ini seperti terletak di dalam kawah gunung berapi. Letaknya saja di permukaan datar puncak bukit tinggi, masih dikelilingi lagi bukit yang lebih tinggi di sekitarnya. Tidak ada puskesmas atau posyandu dan hanya ada satu sekolah dasar dengan empat orang guru di sana. Pak Buchori Muslim salah satunya, pria berumur enam puluh tahun ini sudah 27 tahun mengajar di sana. Dan, kisahnya lah yang akan kami ceritakan secara visual di program "Pengabdian" di TransTv.Meskipun di dataran tinggi, jangan kira tempat ini sedingin Pangalengan, Bandung atau setidaknya kawasan Puncak, Bogor. Di sini memang tidak sepanas Jakarta tapi seperti terjebak di kamar kost-an yang beratap seng dengan dinding triplek di Bandung. Tetap saja terasa gerah luar biasa. Apalagi, lokasi syuting kami terpisah 200-500 meter jauhnya. Belum lagi harus menuruni bukit terjal menuju sungai dengan peralatan syuting yang banyak. FYI, satu kamera XDCam Sony EX3 beratnya 4,5 kilogram. Ditambah lensa Canon superwide beratnya jadi 5,5 kilogram, dan itu yang saya gunakan selama syuting di sini belum ditambah tripod libec 3 kilogram. Hasilnya, berat badan saya malah nambah 3 kilogram karena balas dendam saat makan siang dan makan malam.Dusun Ciangkrek ini sebenarnya tempat yang menyenangkan. Semua set untuk bertualang ada di sini. Sawah dan kebun sayuran yang terletak di punggung bukit, sungai jernih dengan batu-batu kali, dan anak-anak yang selalu mandi di sana setiap pulang sekolah. Juga puluhan rumah berdinding anyaman bambu menambah kental nuansa desa yang sedikit tersentuh hal-hal modern.Namun, dibalik muatan lokalnya yang kental, dusun ini punya banyak masalah. Karena letaknya di puncak, satu-satunya jalan ke sana hanya bisa dilalui menggunakan ojek. Kalau hujan harus jalan kaki karena tidak ada ojek yang berani melewati jalanan berbatu dan tertutup lumpur tanah merah dengan tanjakan 75 derajat. Letaknyapun dilemma, Dusun Ciangkrek letaknya di tengah-tengah perusahan kebun jati emas yang dikelilingi tembok dan gerbang tinggi. Ketika kami datang kesanapun harus melewati gerbang tersebut. Karena didampingi oleh Pak Kadus kami bebas masuk tanpa harus mengurus surat izin.Umumnya, mata pencaharian masyarakat di sini adalah bertani. Diberkahi tanah yang gembur, meski letaknya di punggung bukit yang sempit, padi dan sayuran yang ditanam di sini tumbuh subur. Hampir semua kebutuhan dasar terpenuhi. Adanya warung-warung kopi di sinipun hanya untuk pekerja kebun jati yang mampir untuk beristirahat. Namun berbeda dengan kesehatan dan pendidikannya. Ketika ada salah satu warga yang sakit atau hendak melahirkan, masyarakat setempat bergotong-royong membuat tandu dan rela jalan kaki dua jam lebih untuk mendatangi puskesmas terdekat. Pendidikannya pun memprihatinkan, rata-rata pemuda di sana hanya tamat sekolah dasar. Jika hendak melanjutkan ke sekolah menengah pertama, mereka harus rela meninggalkan Ciangkrek.***Tujuan kami datang ke sini bukan untuk mengenalkan tempat wisata baru di Pelabuhan Ratu. Bukan juga untuk menyelesaikan permasalahan setempat. Selain merekam pengabdian seorang guru selama 27 tahun kami juga ingin memberikan informasi kepada penonton terutama pihak yang berwenang. Bahwa hingga tahun 2011 banyak daerah-daerah terpencil di Indonesia yang masih jauh dari sentuhan kesehatan dan pendidikan yang layak.
Komentar Terbanyak
Ada Gerbong Khusus Merokok di Kereta, Kamu Setuju?
Terpopuler: Dedi Mulyadi Terancam Dicopot, Ini Penjelasan DPRD Jabar
Bisa-bisanya Anggota DPR Usulkan Gerbong Rokok di Kereta