Menggelandang di Kota Gudeg
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Menggelandang di Kota Gudeg

Viski Tiarizki - detikTravel
Rabu, 09 Nov 2011 13:57 WIB
Jakarta - Sebelum malam Natal (24/12/2009)kami berangkat ke Jogja masing-masing membawa uang saku sekitar Rp200.000,-. Untuk keberangkatan ini kami menggunakan jasa transport kereta api ekonomi dari Stasiun Rancaekek. Suasana di Bandung kala itu sangatlah dingin karena guyuran hujan. Akibat kejadian alam ini stasiun pun tergenang oleh air.Dengan tiket seharga Rp26.000,00 kami bisa sampai di Jogja. Melihat suasana stasiun saat itu yang tampak lenggang, pemikiran kami kereta api ekonomi yang akan kita naiki kosong. Tapi, tidak pada kenyataannya. Saat kereta datang, kami kebingungan mencari gerbong yang kosong, paling tidak kami bisa duduk dengan nyaman sampai ke Jogja.Saat salah satu teman kami (Fathir) menemukan gerbong yang (berharap) cukup untuk kami, ia pun bergegas langsung naik ke gerbong kereta api yang lumayan tinggi pijakan kakinya, tetapi ia masih tertahan di depan pintu. Dan, ternyata di dalam gerbong itu masih disesaki oleh para pedagang yang mencari nafkah, tetapi (jujur saja) mengganggu penumpang yang lain.Setelah berusaha dan berdesak-desakan untuk masuk ke dalam gerbong, selanjutnya Iqbal naik ke atas gerbong yang cukup tinggi itu tapi tetap terhenti di depan pintu. Saat sedang berusaha naik, Jhoni yang memiliki postur tubuh lebih subur berusaha menaiki gerbong yang pijakan kakinya tinggi itu (dengan susah payah) dan saya (Oky) masih menunggu di bawah dengan tidak sabar karena takut kereta segera diberangkatkan.Benar saja, suara khas kereta untuk memberi tahu kalau kereta akan berangkat berbunyi "Tuuutttt..tuuuttttttt." Jhoni masih berusaha untuk manaiki kereta.Karena takut tertinggal akhirnya saya melompat ke pintu lain yang pastinya masih tetap satu kereta. Tepat di samping pintu Jhoni berusaha naik. Ternyata itu gerbong yang berbeda. Awalnya saya berdiri di depan pintu kereta, lalu saya melihat seorang anak kecil yang berdiri di WC kereta sendirian. Karena penuh sesak dan di WC itu hanya ada seorang anak kecil, dengan sigap saya memasuki WC itu ditemani oleh anak kecil tadi.Saat sedang berbincang-bincang, datanglah seorang laki-laki yang melihat kami sedang ada di WC tapi kemudian dia kembali pergi.Tidak lama lelaki itu bertanya kepada saya, "Mas, penuh ya?"Saya pun menjawab "Iya, penuh mas." lalu ia pergi lagi.Tidak lama ia pun kembali lagi dan berkata "Mas, tolong sebentar Mas, saya udah nggak tahan."Muncul pertanyaan ambigu dalam benak (waduh, mau macem-macem nih orang). Dengan bingung saya bertanya, "Kenapa Mas?""Saya nggak kuat mau buang air besar, pinjam WCnya sebentar."Yah, kenyamanan saya dan anak kecil itu pun menjadi terganggu. Kembali saya berdiri di depan pintu WC dengan membawa daypack di bagian depan.Tak lama pria tadi membuka pintu WC dan nampak muka ceria karena terbebas dari beban berat diperutnya. Melihat suasana yang teramat sesak saya kembali masuk ke dalam WC.Awalnya hanya saya dan pria yang tadi "mengebom" WC kereta yang berada di sana. Tidak lama kemudian muncul lagi orang baru dengan nafas terengah ia masuk ke WC dan berkata, "Aduh, nggak ada udara segar di sana," lalu ia mengeluarkan sedikit kepalanya ke jendela WC yang tidak terhalang kaca.Lama ia berdiri di atas kloset WC kereta tadi dan kemudian ia duduk di atas kloset WC itu. Saya dan pelaku (yang tadi buang air besar) hanya melihat saja.Perjalanan ini sangatlah lama dan mengesalkan. Kaki saya terasa kaku karena berdiri berjam-jam. Tidak lama mas-mas yang tadi buang air ikutan duduk dan memanjangkan kaki di dalam WC. Space untuk saya duduk pun semakin berkurang.Saya berdiri di dalam WC kereta bersama 3 orang dewasa menuju Jogjakarta karena pegal, sesekali kaki saya angkat satu, secara bergantian.Β Selama 6 jam perjalanan saya memosisikan badan seperti itu, setelah ada space untuk duduk saya langsung mengambilnya karena jujur saya sudah tidak kuat berdiri lagi.Setelah perjalanan sekitar 8-9 jam dari Stasiun Rancaekek sampailah kami di Stasiun Lampuyanagan, Jogja. Nafas lega sangat terlihat para penumpang lain.Β Saya pun segera menghubungi teman yang lainnya dan saat bertemu hal yang langsung mereka katakan. "Bau dari mana nih?" Saat itu saya masih terdiam.Fathir mengusulkan untuk mencari kamar mandi agar kita dapat membersihkan badan. Ide yang baik menurut saya.Β Mandilah kita di kamar mandi umum Stasiun Lampuyangan. Setelah mandi, akhirnya tercium bau wangi yang segar dari badan kami yang semalaman berdiri di dalam kereta.Dari Stasiun Lampuyangan kami meneruskan perjalanan ke Gunungkidul Untuk melihat keindahan pantai di sana.Β Sepulang dari pantai, untuk menghemat budget, kami menginap di salah satu rumah sanak famili dari kami. Tidak menyia-nyiakan waktu, kami berkeliling melihat keindahan apa saja yang ada di sana. Dan, yang kami lihat terdapat beberapa gua di daerah Gunungkidul tepatnya Desa Serpeng Lor.Di sana terdapat Gua Ngingrong, gua yang paling besar di daerah sana. Lalu ada Gua Seropan, dulu gua ini sangat bagus karena terdapat skalaktit berwarna putih tapi sekarang sudah tidak seindah dulu mungkin karena pengaruh suhu dan cuaca.Setelah puas bermain di Gunungkidul kami berencana kembali ke Jogja untuk menikmati suasana malam di Malioboro. Dengan naik bus sampailah kami di Terminal Giwangan. Lalu kami naik lagi Trans Jogja untuk dapat sampai ke Malioboro. Saat itu hujan lebat dan ada kemacetan ke arah Malioboro sehingga keberangkatan tertunda 2 jam lebih lama.Setelah lama menunggu akhirnya kami sampai juga di Malioboro. Saat itu hujan masih turun walaupun rintik-rintik. Karena sudah terlalu sore menjelang malam dan magh Iqbal sudah kambuh, kami pun berusaha mencari penginapan di sekitar Malioboro.Bermodal perut lapar, mata kantuk, dan badan pegal kami mencari penginapan. Namun, pada saat itu tidak ada satu pun kamar tersedia untuk kami.Β Saat itu kami berada entah dimana sampai seorang tukang becak menghampiri kami dan berkata, "Cari penginapan Mas, di sini ada yang murah dan bersih."Karena lelah kami pun mengikuti tukang becak itu. Dibawanya kami ke dalam gang, sampai bertemu dengan ibu atau pemilik penginapan.Β Penginapan itu hanya Rp70.000,- per kamar. Mendengar harga yang murah Fathir pun mengiyakan untuk menyewa satu kamar untuk semalam, saat yang lain sedang berbicara dengan ibu tua tadi, Iqbal yang berdiri paling belakang menepuk pundak dan berkata "Ky, liat ke belakang."Saat saya menoleh ke arah yang ditunjuk Iqbal. Ternyata ada wanita dengan mengenakan hot pants, wajah yang dilapisi bedak, dan lipstik yang merah merona. Sejenak saya berfikir, "Tempat apa ini?"Saat memberi tahu yang lain, Jhoni dan Fathir hanya terdiam. Lalu segera masuk ke kamar yang kami pesan.Β Fatir berkata, "Ini bukan penginapan, ini tempat prostitusi!"Karena sudah terlanjur malam kami pun tetap manginap di sana. Karena takut berada di sana (takut tiba-tiba polisi datang) kami berencana untuk menghabiskan malam di Malioboro.Setelah lama berjalan-jalan. Lelah pun menghampiri kami, kembalilah kami tempat menginap. Saat memasuki gang tempat kami menginap ada plang bertuliskan "Pasar Kembang".Β Wah, sudah jelas ini tempat dimana pria hidung belang dan kupu-kupu malam berkumpul.Saat masuk ke gang, ada orang dengan badan tegap menghentikan langkah kami dan berkata "Mas, isi uang kebersihan dulu."Dalam hati berkata, "Kebersihan? Kok malem-malem? Sebegitu poloskah kami?"Saat melangkah banyak bapak-bapak paruh baya berkata "Mas, cewek Mas?" Dengan memalingkan wajah kami pura-pura tidak mendengar dan ingin segera sampai ke kamar. Akhirnya sampailah kami di kamar, dari luar terdengar riuh suara dangdut koplo, campur sari, dan lain-lain.Kita masih takut sama dosa kita yang udah "bejibun", nggak mau ditambah sama yang beginian. Untuk menanyakan arah kiblat di tempat itu saja kita tidak berani karena suasana di sana banyak orang mabuk, pria hidung belang, dan para "kupu-kupu" yang sepertinya tidak mendukung.Dipaksakannya kami tidur agar segera pagi. Saat pagi tiba, lagu dangdut koplo yang tadi terdengar berganti dengan lagu tombo ati dari Opick.Β Kami segera packing dan bergegas meninggalkan tempat itu. Sebenarnya masih banyak tempat yang belum kami datangi, seperti museum, taman sari, keraton, dan lain-lain. Tapi, waktu dan keterbatasan dana yang mengharuskan kami segera pulang ke Kota Kembang.Kami pun pulang menggunakan bus terakhir dari terminal kecil yang saya lupa namanya menuju Bandung. Kembali melaksanakan kegiatan hari-hari kami. (travel/travel)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads