Melawan Badai Untuk menaklukkan Puncak Sulawesi

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Melawan Badai Untuk menaklukkan Puncak Sulawesi

Dayat Hida - detikTravel
Selasa, 22 Nov 2011 15:32 WIB
Jakarta - Makassar masih diguyur hujan lebat. Bersama empat orang sahabat petualangku, Murham, Udin, Ucok, dan Safar. Pukul 13.00 WITA perjalanan kami mulai dari Terminal Daya dengan menggunakan mobil Panther tujuan Enrekang dengan ongkos Rp60.000,00 per orang. Setelah menempuh beberapa jam perjalanan dan melintasi beberapa kabupaten akhirnya pada malam hari pukul 21.00 WITA kami tiba di Kabupaten Enrekang dan langsung istrahat.Β Keesokan paginya perjalanan kami lanjutkan meggunakan angkutan umum (pete-pete) tujuan Pasar Baraka dengan biaya Rp15.000,00 per orang. Selanjutnya dari Baraka menuju Dusun Rantelemo dengan menggunakan mobil Ranger yang memerlukan bayaran sebesar Rp20.000,00 per orang. Di sinilah titik terakhir yang bisa dilalui kendaraan.Β Petualanganpun dimulai dari Dusun Rantelemo (Dusun Latimojong) karena kita harus berjalan kaki dengan trek yang menanjak sejauh 3 km untuk sampai di Dusun Karangan, kaki Gunung Latimojong. Sepanjang jalan mata kita akan dimanjakan dengan Bunga Edelweis, bunga abadi yang hanya tumbuh di daerah tinggi.Β Sungguh pemandangan yang jarang sekali kita temukan di daerah lain. Sekitar jam 5 sore kami sampai di Karangan (1390 mdpl) dan langsung melapor ke Pak Dusun untuk selanjutnya mencari rumah seorang warga, Pak Mulle' namanya untuk kami jadikan basecamp. Malamnya banyak bercerita yang kami dapat dari Pak Mulle' seputar Gunung Latimojong. Ada hal yang menarik dari Dusun Karangan yaitu tentang musik bambunya.Β Esok paginya packing dan memulai perjalanan. Karena di antara kami semua tidak ada yang tahu jalur (pendakian petama) makanya Pak Mulle' bersedia mengantar sampai percabangan menuju pos 1. Setelah melewati perkebunan kopi dan melewati beberapa sungai dengan tanjakan yang cukup lumayan sekitar kurang lebih 40 menit kami sampai di pos 1. Dari pos 1 ke pos 2 jalur yang dilalui bervariasi, yaitu mendaki dan menurun.Β Mendekati pos 2 rute jalannya akan menurun karena pos 2 berada disebuah lembah ditepi sungai yang mengalir besar. Pos 2 ini berupa sebuah areal dibawah tebing batu, biasa juga disebut dengan nama Goa Sarung Pakpak. Sumber air melimpah di sini dan sangat cocok untuk dijadikan area camp. Pos 2 berada diketinggian 1800 mdpl. Sekitar sejam kami menyempatkan untuk memasak dan mengisi perut.Β Dari pos 2 perjalanan ke pos 3 agak sulit karna harus melewati tanjakan dengan kemiringan 80 derajat. Kondisi cuaca juga mulai berubah hujan deras mengguyur kami. jalur yang licin membuat langkah perlahan mulai lambat. Waktu tempuh untuk sampai di pos 3 adalah selama 1 jam perjalanan. Dari pos 3 menjuju pos 4 agak sedikit mudah dengan melewati hutan dengan vegetasi hutan palem. Waktu tempuh dari pos 3 adalah 45 menit.Β Menuju pos 5 agak sedikit mudah tapi waktunya agak lama karena trakkingnya lumayan jauh. Pos 5 berada pada elevasi 2480 mdpl merupakan sebuah daerah datar dan sangat cocok untuk dijadikan tempat camp bisa menampung paling tidak 12 tenda. Dan waktu yang kami tempuh dari pos 4 adalah sekitar 1 jam lebih. Di sini terdapat sumber air berupa sebuah sungai. Melanjutkan perjalanan menuju pos 6 sekitar 40 menit melewati hutan lumut.Β Seharian hujan tidak pernah berhenti dan kabut menghalangi jarak pandang. Karena cuaca semakin ekstrim dan tidak bersahabat kami putuskan untuk mendirikan tenda dan camp di pos 6. Keesokan paginya lanjut ke pos 7 kurang lebih 1 jam kami sampai. Lagi-lagi cuaca kembali berubah pos 7 mulai ditutupi kabut disertai angin kencang.Β Merupakan resiko melanjutkan perjalanan dalam keadaan badai. Kami melakukan Breafing apakah kembali ke camp atau lanjut, dengan beberapa pertimbangan Akhirnya diputuskan tetap lanjut ke pos 8 yang merupakan puncak tertinggi dari pegunungan Latimojong. Masih harus mencari tanda string line dan jalur dikarenakan jarak pandang penglihatan hanya sekitar lima meter. Kami juga sempat beberapa kali salah jalur dan harus kembali kejalur awal. Udara dingin yang menembus tulang akibat angin kencang membuat kami beberapa kali harus terjatuh.Β Kurang lebih satu jam perjuangan melawan badai, akhirnya kami melihat tugu sebagai tanda itulah titik triangulasi Puncak Rantemario. Teriakan Allahu Akbar, Allhamdulillah, luaaaar biasa itu semua adalah ekspresi kegembiraan kami telah berpijak di 3478 Mdpl, atapnya sulawesi. Jacket tebal yang membalut tubuh tidak cukup untuk melawan dingin. Sekitar lima menit mengabadikan diri dengan berfoto kami putuskan turun ke pos 6 lokasi camp. Keesokan harinya baru turun ke basecamp Dusun Karangan. Dalam perjalanan turun lagi-lagi kami diguyur hujan lebat hingga sampai di basecamp. Besok pagi, lanjut ke Makassar dengan membawa cerita dan pengalaman yang luar biasa sungguh jarang sekali dialami oleh orang banyak.Β "Perjalanan ke puncak, badai, dingin yang menembus tulang dan tebing-tebing terjal semua itu hanyalah proses. Pulang dengan selamat adalah tujuan dari perjalanan ini".__catatan perjalanan dayat.R405Β  (travel/travel)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads