Bertualang di Kebun Teh
Ivonne Gantini - detikTravel
Jumat, 25 Nov 2011 01:00 WIB
Jakarta - Tinggal di kota besar seperti Jakarta, seringkali membuat kami jenuh dengan rutinitas sehari-hari. Pergi dan pulang kantor saja selalu bersaing dengan kemacetan lalu lintas. Kami berempat, terdiri atas Ivonne, Ika, Jo, dan Lida. Ingin sekali refreshing. Tapi, karena terbatasnya waktu, kami tidak bisa memilih lokasi terlalu jauh. Akhirnya kami memutuskan untuk refreshing ke Puncak. Selain refreshing, kami juga ingin tahu bagaimana sulitnya para petani teh memanen hasil kebunnya.Kami memulai perjalanan dari Jakarta jam 11 siang dan tiba di Puncak sekitar jam 1 siang. Setelah makan siang, kami memulai pendakian ke kebun teh di sekitar Rindu Alam. Jalan yang kami lalui merupakan jalan setapak yang sangat kecil-kecil dan sempit. Udara segar membuat kami semua semangat. Ini dia udara segar yang kami cari-cari dan tidak kami temui di Jakarta. Pemandangan di puncak kebun teh sangat indah dan menyegarkan apalagi ditambah kabut di puncak-puncak gunung.Karena serunya foto-foto kami tidak memerhatikan saat hujan sudah mulai turun. Kami mencoba berlari menuruni bukit kebun teh itu tapi ternyata menuruni bukit tidak semudah saat kami mendakinya. Hujan yang turun dengan sangat deras membuat jalan setapak menjadi sangat licin. Saat mendaki, kami sudah merasa cukup lelah dan setelah jalan setapak tersebut terendam air hujan, perjalanan menuruni bukit kebun teh benar-benar membuat kami sangat lelah.Kami berusaha berpegangan pada ranting-ranting pohon teh, kadang-kadang kami mencabut akar-akar kecil yang salah hingga kami hampir jatuh terguling dari bukit. Kami terus berusaha menuruni jalan setapak dengan lutut yang gemetaran.Jo adalah orang pertama yang tiba di gubuk. Tanpa mempedulikan kami, Jo langsung berusaha secepatnya menuruni bukit. Aku tiba di gubuk setelah Jo. Tetapi, Ika dan Lida tertinggal di atas bukit. Ika pun menjerit-jerit ketakutan dan Ika meminta pertolongan dari seorang pendaki bukit yang kebetulan juga sedang berjalan turun."Mas, mas tolongin dong! Pegangin saya." Permintaan tolong Ika langsung disambut oleh si Mas dengan senang hati. Sementara Lida masih kebingungan menuruni bukit sendirian.Setelah bersusah payah, hingga hampir seluruh bajunya terkena tanah merah, akhirnya Lida berhasil menuruni bukit. Sayangnya, kami tidak ada persiapan membawa baju cadangan satu helai pun. Kami terpaksa menghabiskan waktu berjalan-jalan dengan kondisi hampir masuk angin. Apalagi, kami juga sangat lapar. Kami hanya bisa mencuci baju kami sedikit-sedikit di toilet umum yang airnya sangat dingin.Kami memutuskan untuk makan malam di cafe dan resto Cimory. Nasi goreng ikan asin, sosis sapi besar, dan teh hangat membuat kami semangat kembali untuk melanjutkan perjalanan pulang. Ternyata, untuk menyajikan segelas teh hangat saja, tidak semudah yang kami bayangkan. Perjuangan para pemetik teh mendaki bukit dan menuruni bukit sungguh suatu kerja keras yang patut dihargai. Kami sangat menikmati waktu refreshing ini. Pasti besok-besok kami akan jalan-jalan lagi.
(travel/travel)












































Komentar Terbanyak
Nyeleneh! Jemaah Zikir di Candi Prambanan: Mau Lepaskan Kutukan Roro Jonggrang
Bukan Hanya Wisatawan, Menkes Juga Merasa Berat Bayar Tiket Pesawat
DPR Beberkan Biang Keladi Harga Tiket Pesawat Domestik di Indonesia Mahal