Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 01 Jul 2011 14:59 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Melaka, Kota Pusaka Dunia di Malaysia (Part 2)

ugc
ugc
ugc
ugc
ugc
ugc
detikTravel Community - Nasi Ayam Bebola

Kalau nasi ayam Hainan sangat populer di Singapura, di Melaka ada versi yang lebih unik. Sebetulnya, ini adalah masakan yang sama, tetapi dengan cara penyajian yang berbeda. Nasi ayam Hainan adalah paket nasi gurih dan potongan ayam kukus. Di Melaka, disebut nasi ayam bebola (chicken rice-ball). Ayam kukusnya sama - kadang-kadang juga tersedia versi panggang. Tetapi, nasi gurihnya dihaluskan dan kemudian dibentuk menjadi bola.

Di ujung Jonker Walk ada sebuah kopitiam (warung kopi) bernama Chop Chung Wah yang sejak buka pada pukul 8.30 pagi selalu ramai diantre orang. Nasi ayam Chop Chung Wah biasanya sudah habis pada sekitar pukul 13 siang. Ini adalah kedai pertama yang menghidangkan sajian khas ini. Jika Anda malas antre, ada pilihan lain yaitu Famosa Chicken Rice-Ball (Jalan Kang Jebat dan Jalan hang Kasturi). Terus terang, saya lebih suka nasi ayam Famosa karena nasi dan ayamnya kurang asin.

Makanan murah-meriah yang juga populer di Melaka adalah sate celup. Sekarang yang terkenal adalah Capitol di Lorong Bukit Cina. Tergantung apa bahannya, harga satu tusuk sate antara RM 0,50-1. Mirip lok-lok, isinya adalah ayam, cumi, bakso, cabe isi bakso, tahu, tahu bakso, babat, dan banyak lagi ragam lainnya. Sate dicelupkan ke kuah kacang beramai-ramai. "Pemandangan" inilah yang agaknya dianggap kurang menyenangkan bagi sebagian orang. Tetapi, orang Malaysia sangat menyukai sajian sate celup ini.

Melaka juga memiliki sangat banyak kopitiam dengan sajian sederhana, seperti roti bakar dilapis selai kaya, telur setengah matang, dan nasi lemak. Biasanya, nasi lemak yang dijual berukuran sangat kecil - seperti umumnya nasi kucing di Jawa - dengan lauk minimalis. Dengan harga antara RM 1-2, kita mendapat sebungkus berisi sekepal nasi lemak (uduk), sambal blacan manis, teri dan kacang, serta seiris kecil telur dadar.

Juga banyak didapati foodcourt di Melaka. Ada foodcourt yang khusus menyajikan makanan Melayu dan India, seperti: roti john, sup lembu, nasi kerabu, nasi padang, dan lain-lain. Di Jalan Bunga Raya ada satu foodcourt yang sudah sejak dulu populer, menyajikan berbagai makanan Tionghoa. Bila ingin masakan yang lebih bersifat internasioanl, tujuannya adalah Mahkota Parade Shopping Centre, di seberang padang Pahlawan.

Pusat Budaya Peranakan

Melaka adalah pusat budaya Peranakan - juga dikenal dengan istilah Babah-Nyonya, yaitu keturunan Tionghoa yang menikah dengan perempuan setempat dan beranak-pinak. Keturunan mereka dibesarkan dalam persilangan budaya yang unik.

Pada awalnya, pendatang dari Negeri Cina ke Semenanjung Malaysia ini adalah kaum pekerja tambang, kuli pelabuhan, dan para tauke alias pedagang. Mereka menikah dengan perempuan keturunan Jawa, Melayu, bahkan Aceh. Salah satu "cabang" budaya yang unik dari hasil persilangan ini adalah budaya kuliner baru yang disebut sebagai kuliner Peranakan.

Bagi saya, Melaka adalah tujuan penting untuk mencicipi masakan Peranakan - yaitu masakan Melayu dengan pendekatan kuliner Tionghoa. Sekalipun restoran yang paling populer adalah Nancy, tetapi favorit saya adalah Restoran Peranakan di Jalan Tun Tan Cheng Lock. Pertama, karena tempatnya lebih besar dan merupakan rumah tua yang dirawat baik. Kedua, karena citarasa masakannya pun prima.

Menu favorit saya di Restoran Peranakan adalah: ayam keluak, ayam pongteh, udang lemak nenas, tahu peranakan, sambal bendih. Ayam keluak adalah opor dengan bumbu pekat, dimasak dengan keluak (kluwek). Ayam pongteh mirip semur kental dengan aroma ngohiong. Udang lemak nenas mirip lempah bersantan, dimasak dengan nenas. Tahu peranakan adalah nama lain untuk tahu telur gaya Peranakan Jawa. Dan sambal bendih adalah okra (lady’s fingers) kukus dengan sambal blacan.

Jangan lupa mengunjungi beberapa rumah lama maupun Museum Babah Nyonya Peranakan. Bahkan, di Jonker Walk, ada beberapa ruko lama yang diubah menjadi hotel butik. Bila ingin mewah, ada juga sebuah puri (mansion) milik orang Tionghoa kaya yang dipugar menjadi The Majestic Malacca Hotel.

Di Jalan Tokong juga ada klenteng Cheng Hoon Teng yang didedikasikan kepada Kapitan Cina Li Wei King. Rumah-rumah mewah dari orang-orang Tionghoa kaya masa lalu juga masih dapat terlihat di sekitar Jonker dan Heeren Street.

Di sekitar Jonker Walk banyak dijumpai pedagang barang antik dengan kualitas yang cukup baik. Berbagai perabotan, hiasan, dan pernak-pernik - khususnya dari budaya Peranakan - dapat dijumpai dalam jumlah yang cukup banyak di sini. Harganya masih cukup masuk akal bila dibanding dengan toko antik di Singapura, Kuala Lumpur, maupun Jakarta.

Banyak Jalan Menuju Melaka

Selain warga Malaysia dari berbagai penjuru, kafilah wisatawan terbesar ke Melaka adalah dari Singapura. Perjalanan bermobil dapat ditempuh dalam rata-rata tiga jam dari Singapura ke Melaka. Banyak pula bus umum yang melayani penumpang trayek Singapura-Melaka pp. Dari Kuala Lumpur, Melaka dapat ditempuh dengan mobil dalam waktu satu setengah jam.

Bandara Internasional Melaka di Batu Berendam kini semakin ramai menjadi pintu masuk wisatawan. Riau Air dan Wings Air dari Indonesia punya penerbangan terjadwal ke Melaka - khususnya karena peningkatan wisata medis dari Indonesia ke Melaka. Dari Bengkalis, Dumai, dan Pekanbaru juga ada ferry setiap hari menuju Melaka.

Sampai jumpa di Melaka!

BERITA TERKAIT
BACA JUGA