Setelah membayar tiket masuk yang hanya sebesar Rp 4.000 saja, kami segera dimanjakan oleh pemandangan Ngarai yang terbentang jauh di hadapan kami. Ya, kami berada di tempat yang telah di sediakan oleh pemerintah setempat untuk dapat menikmati keindahan Ngarai Sianok dari jarak yang pas sehingga kami dapat melihat lembah dan sungai dari tempat yang bagus. Jujur saja, saya sendiri sulit untuk mengungkapkan keindahan tempat ini dengan kata kata. Pemandangan ini membuat saya tidak heran jika objek wisata ini adalah satu dari sekian banyak tujuan wisata kebanggaan Sumatra Barat.
Dari pintu masuk, kami berjalan melintasi toko toko kecil yang menjual souvenir khas Ngarai Sianok dan Bukittinggi menuju panaroma yang lebih menjorok ke depan dibanding bagian lain di tempat ini. Pemandangan yang luar biasa. Lembah dan sungainya terlihat begitu tenang dan menenangkan. Ingin mendapatkan pemandangan yang lebih lagi, saya menaiki menara bertingkat dua yang setiap tingkatannya memberikan pemandangan yang berbeda. Saya tidak merasa bosan berlama lama di sini. Dan begitu pula yang saya lihat dari raut wajah para pengunjung kala itu.
Ngarai Sianok yang merupakan lembah curam ini memiliki kedalaman 100 m dan panjangnya 15 km. Sedangkan lebarnya sekitar 200 m yang terbentuk akibat hasil dari gerakan turun kulit bumi (sinklinal). Sungai yang mengaliri Ngarai ini adalah Batang Sianok yang memiliki air yang jernih.
Sudah datang kesini tidak lengkap rasanya bila tidak mampir untuk melihat Goa Jepang. Sambil berjalan menuju goa, kami melihat monyet berekor panjang yang sedang asyik bermain bersama para pengunjung. Monyet monyet ini sedikit agresif, mungkin karena telah terbiasa diberikan makanan oleh para pengunjung yang datang. Tapi untungnya, monyet monyet itu tidak mengganggu.Â
Memasuki Goa Jepang adalah pengalaman yang lain lagi. Goa yang berada 40 m di bawah tanah ini dibangun selama tiga tahun, dari 1942 â 1945. Pembangunannya dikerjakan secara paksa oleh tentara Jepang kepada penduduk setempat. Kami menelusuri goa yang memiliki 21 lorong ini selama kurang lebih setengah jam. Memang tidak semua lorong kami masuki, karena beberapa bagian yang memang sedang dalam masa pengembangan.
Ah, rasanya lengkap sudah wisata sore ini di Ngarai Sianok. Walaupun keluar dari Goa Jepang harus menaiki 132 buah anak tangga yang sedikit melelahkan, tapi semua itu terbayar saat kembali melihat pohon pohon hijau yang yang berjajar rapi di lembah curam di seberang sana. Belum lagi hawanya yang sejuk serta angin yang bertiup pelan, membuat setiap pengunjungnya betah untuk menikmati keindahan alam ini.












































Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru