Ketika sampai di Desa bonang kami langsung menuju ke makam dengan berjalan kaki kira-kira dua ratus meter dari jalan pantai utara (pantura). Kami bertemu dangan penjaga makam disana dan sempat berbincang-bincang sejanak. Perbincangan kami dengan penjaga makam harus terputus adzan maghrib, namun sebenarnya kami masih belum mendapatkan keterangan yang memuaskan pada saat itu.
Ternyata singkatnya waktu tak selamanya adalah βmimpi burukβ, karena dengan tibanya kami di makam sunan bonang pada penghujung hari, memberi kami kesempatan untuk sholat berjamaah di masjid peninggalan Sunan Bonang yang sebagian besar masih orisinil.
Usai sholat Maghrib, kami menikmati teh hangat yang di suguhkan untuk menemani perbincangan kami dengan Pak Wahid, saat kami bersilaturahim ke rumahnya. Pak wahid menyambut kami dengan baik, beliau adalah juru kunci makam Sunan Bonang. Selama ini beredar ruomour bahwa makam sunan bonang ada di beberapa tempat, Pak Wahid tidak menampik hal tersebut. Beliau menjelaskan dahulu memang sunan Bonang pernah berdakwah menyebarkan Agama Islam ke beberapa tempat di Pulau Jawa. Namun tempat yang kami kunjungi ini (Desa Bonang) adalah merupakan desa tempat tinggal Sunan Bonang, disana banyak terdapat peninggalan Sunan Bonang, salah satunya adalah Masjid tempat kami sholat maghrib berjamaah.
Di sela perbincangan kami, pak Wahid kedatangan tamu yang mewakili rombongon untuk memohon izin berziarah ke makam sunan boning. Karena tak mau membuat orang menunggu kamipun mempersilahkan pak Wahid untuk mengantarkan tamunya berziarah, dan Kami turut serta berziarah bersama rombongan. Para pengunjung yang datang untuk berziarah ke makam Sunan Bonang ini tidak mengenal waktu, bahkan terkadang sampai tengah malampun masih ada saja orang yang datang untuk berziarah.
Para penziarah ini meyakini bahwa dengan mendekatkan diri dengan para ulamaβ dan para Wali Allah, termasuk yang sudah wafat (berziarah) dapat menjadi karomah ataupun perantara terkabulnya doβa doβa mereka. Kemudian para penziarah ini berdoβa masing-masing usai ritual ziarah selesai. Sementara pak Wahid yang memimpin acara ziarah ini langsng menemui kami, dan kamipun pamit undur diri.












































Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru