Lupakan Kesedihan. Mari Menari Yosim Pancar.
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Endro Catur Nugroho|5772|PAPUA 1|27

Lupakan Kesedihan. Mari Menari Yosim Pancar.

Redaksi Detik Travel - detikTravel
Senin, 15 Agu 2011 10:25 WIB
loading...
Redaksi Detik Travel
Piring-piring siap terisi makanan
Salah satu piring peninggalan jaman VOC
Pemetik gitar tradisional
Semua begitu bersemangat
Akhirnya papeda bungkus pun tiba
Tak ada kesedihan. Semua gembira.
Lupakan Kesedihan. Mari Menari Yosim Pancar.
Lupakan Kesedihan. Mari Menari Yosim Pancar.
Lupakan Kesedihan. Mari Menari Yosim Pancar.
Lupakan Kesedihan. Mari Menari Yosim Pancar.
Lupakan Kesedihan. Mari Menari Yosim Pancar.
Lupakan Kesedihan. Mari Menari Yosim Pancar.
Jakarta - Selepas perjalanan dua hari dari Pulau Supiori, Papua, Tim Unyu Penyu Papua 1 memasuki kembali Pulau Biak dengan bonus menyaksikan upacara adat Umbambin di Kampung Bosna Bradi, Kecamatan Biak Utara, Pulau Biak. Siang itu, 15 Oktober 2010, udara sedang bersahabat. Hujan baru saja mengguyur Supiori dan Biak sehari sebelumnya. Langit memang kelabu. Tapi senyum yang terpancar seluruh orang di upacara ini jauh dari sendu.

Semua senang. Semua girang. Terutama pengantin perempuan yang dipajang di bawah tenda. Ia tersipu-sipu ketika kami mengarahkan kamera ke arahnya. Ia sudah tidak sabar menunggu hari Minggu. Hari ketika secara resmi bertemu dengan pasangannya. Mengucap janji di depan altar gereja.

Umbambin menjadi bagian terakhir rangkaian pesta pernikahan orang Biak. Di acara ini, keluarga pengantin wanita bertemu dengan keluarga pengantin pria secara resmi. Sebelumnya, diskusi tentang mas kawin sudah diselesaikan. Jadi, bisa dibilang, Umbambin adalah pesta sebelum pesta.

Lihat saja. Ibu-ibu membawa koleksi piring-piring mereka. Piring besar dan piring kecil. Piring datar maupun cembung. Sebagian piring itu antik, koleksi keluarga yang umurnya ratusan tahun. Beberapa bahkan bergambar kapal VOC. Sebagian lagi replika. Biasa dibeli seharga seratus hingga seratus limapuluh ribu di Pasar Inpres, Kota Biak.

Piring-piring kosong itu tak lama kemudian terisi makanan khas Biak. Papeda bungkus (daun pisang), kuah ikan, sayur pepaya, tumis sayuran. Tapi, untuk mendapatkan piring terisi, tiap orang harus membawa sirih pinang dan rokok. Praktik barter ini bukan karena alasan ekonomi. Tapi untuk mempererat persaudaraan.

Sebelum makan, selama proses pembagian makanan, orang-orang berkumpul di tengah lapangan. Sebuah kelompok alat musik tradisional terdiri dari bas, gitar, ukulele dan tentu saja tifa menjadi pusat kegiatan. Mereka memainkan lagu-lagu dinamis khas Papua. Di sekelilingnya, tua muda, laki dan perempuan menari mengelilingi grup musik ini. Terkadang, tangan pun digandengkan bersama.

Tak ada sedih. Yang ada hanya gembira. Saat menari Yosim Pancar memang saat yang pas untuk melupakan semua kesulitan hidup walau untuk sesaat.

Tak ada alkohol - walau tak dilarang - untuk bikin gembira. Tak ada makanan banyak pun bukan alasan untuk tidak ikut menari. Bisa melangkahkan dan menghentakkan kaki seirama, bergandeng tangan, dan memajang senyum paling lebar, itu modal cukup untuk ikut Yosim Pancar. Tak kenal seorang pun tak jadi masalah.

Kami tak kuasa untuk tidak ikut serta. Benar saja, lelah karena perjalanan seolah lenyap. Bagai tersihir, kami tak lagi memperdulikan jadwal perjalanan selanjutnya. Yang ada hanya senang, gembira dan bahagia. Saudara pun bertambah. Karena semua orang yang menari dalam satu lingkaran Yosim Pancar adalah bersaudara.

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads