Pertemuan Singkat dengan Suku Anak Dalam
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Muhamad Prabu Wibowo|11654|RIAU & JAMBI|42

Pertemuan Singkat dengan Suku Anak Dalam

Redaksi Detik Travel - detikTravel
Selasa, 16 Agu 2011 10:40 WIB
loading...
Redaksi Detik Travel
Suku Anak Dalam, Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi
Suku Anak Dalam, Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi
Suku Anak Dalam, Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi
Pertemuan Singkat dengan Suku Anak Dalam
Pertemuan Singkat dengan Suku Anak Dalam
Pertemuan Singkat dengan Suku Anak Dalam
Jakarta -

Pada tanggal 8 Oktober 2010, Tim ACI Riau dan Jambi menelusuri Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD). Terdapat suku asli yang menetap di taman nasional ini, Suku Anak Dalam. Biasanya mereka hidup di tengah-tengah hutan. Namun, terkadang mereka keluar dari hutan untuk mengunjungi kerabatnya ataupun mencari makan. Menurut salah seorang pengelola Taman Nasional Bukit Duabelas, kehidupan mereka nomaden atau sering berpindah-pindah. Mereka akan mencari ladang baru ketika ada salah seorang dari mereka yang meninggal untuk membuang nasib sial.

Dalam perjalanan menelusuri TNBD ini kami beberapa kali menemui suku anak dalam yang sedang keluar hutan. Ciri-ciri mereka antara lain, biasanya mereka hanya memakai cawat/penutup di kemaluan mereka. Bahkan sebagian dari mereka tidak berpakaian sama sekali. Untuk laki-laki, terkadang mereka juga membawa tombak untuk berburu. Mereka terlihat melintas di depan masyarakat sekitar TNBD. Namun, kalau saya perhatikan, tidak terdapat konflik antara kehidupan suku anak dalam dengan masyarakat sekitar. Kami juga menemui seorang dari suku anak dalam yang sudah memakai celana dan bahkan jam tangan. Menurut orang sekitar, hal itu merupakan pemberian dari masyarakat sekitar.

Terdapat beberapa adat dari suku anak dalam yang harus dipatuhi. Sebisa mungkin anda harus meminta izin dahulu. Salah satu adat yang harus dipatuhi adalah semua wanita tidak boleh difoto. Untuk memfoto suku anak dalam, dalam hal ini laki-laki, harus meminta izin terlebih dahulu dari mereka. Ketika kami bertemu dengan beberapa suku anak dalam, kami berhenti, memberikan makan, dan mencoba berkomunikasi dengan mereka. Dari pengalaman kami, suku anak dalam memiliki bahasanya sendiri yang sulit dimengerti. Mereka menggunakan bahasa Indonesia hanya terbatas pada kosakata tertentu. Mereka mengerti ketika kami ajak foto. Kami tanya, "foto?". Mereka menjawab dengan, "oo, wanita engga bole". Hal ini mungkin dikarenakan banyak wisatawan atau pendatang yang mengajak foto, sehingga mereka terbiasa dengan kata "foto".

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kami juga menemukan sekumpulan beberapa ibu dan wanita yang terdapat anak kecil. Ketika kami meminta izin untuk memfoto anak lelakinya, si Ibu tidak mengizinkan dengan bahasa yang kami tidak mengerti. Hal ini bisa dilihat dari intonasi dan gaya berbicaranya yang agak kencang. Mungkin kalau dituliskan dengan kata-kata, yang terucap adalah, "#$@%@#@!#%! #^#$@^^%#%@! *&^&%!##$%&*!" Karena memang sulit dimengerti. Dalam hal ini, Anda bisa menggunakan isyarat untuk membantu komunikasi Anda. Ingat, segala hal yang berkaitan dengan suku anak dalam ini, Anda harus meminta izin terlebih dahulu. Jika Anda menghargai mereka, mereka juga akan menghargai Anda.

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads