Saat kami tiba di pulau ini. Ada sebuah bangunan yang langsung menarik perhatian kami yakni sebuah pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) yang berada di desa Gugop. Bangunan besar yang mirip hangar ini mengambil posisi diatas tanah tinggi. Bahan seng yang menutup sekujur bangunan membuatnya tampil beda dengan bangunan lain di sekitarnya yang dominan seragam mirip komplek perumahan.
PLTD berdaya 1500 Kilo Watt ini menjadi nadi kehidupan bagi enam desa di pulau Beurueh yakni desa Gugop, Serapong, Ule Paya, Blangsitungkoh, Paluh dan Lampuyang. Ia akan mulai menyala mulai dari pukul 18.00 dan mati pukul 24.00. Desa-desa lain seperti Rinon, Alue Raya, Lhong Bale dan Meulingge memiliki PLTD sendiri dengan kapasitas yang lebih kecil untuk kebutuhan masing-masing. Jarak dan kondisi geografis tidak memungkinkan untuk semua desa di hubungkan dengan satu pembangkit.
Hidup dan kehidupan pun menyesuaikan dengan jadwal nyala listrik. Anda tak akan menjumpai TV menyala di pagi atau siang hari. Begitupun dengan air. Meski tersedia air gunung, namun kondisinya yang keruh memaksa para penduduk sekitar untuk menggunakan air dari sumur bor untuk keperluan memasak dan mandi. Walhasil air di bak dan penampungan hanya akan penuh di malam hari. Tak heran jika akhirnya penduduk disini begitu menghemat air. Mandi pun disesuaikan dengan keberadaan listrik dan ketersediaan air.
Minum air es adalah sesuatu yang istimewa di pulau ini. Setidaknya inilah yang kami rasakan ketika sore itu ingin sekedar menghilangkan dahaga. Alih-alih jenuh dengan sajian kopi Aceh, kami memesan es teh dan es sirop yang harganya dibanderol sama dengan harga secangkir kopi, 3000 rupiah per gelas. βButuh waktu dua malam untuk membuat es batu.β Ungkap Ridwan pemilik sebuah kedai kopi di desa Gugop. βItu sebabnya harga minuman es disini lebih mahal ketimbang secangkir kopi.β Tambahnya.
Harga sewa listrik pun tak terbilang murah di pulau ini. Untuk 4 KVA, setiap kepala rumah tangga harus membayar 145.000 rupiah per bulan. Kapasitas itu hanya cukup untuk menyalakan TV, lemari dan lampu penerangan secukupnya selama enam jam per hari. Lampu penerangan pun terbatas hanya di sudut-sudut keramaian dan jalan yang banyak dilalui penduduk. Selebihnya bakal tampak gelap seperti halnya hutan yang ada di puncak gunung Ceumoh.
Meski serba terbatas, kehidupan di pulau Bereuh justru tampak lebih guyub di malam hari. Banyak orang berkumpul di kedai-kedai kopi sembari menonton TV bersama. Masyarakat disini sudah terbiasa untuk bekerja dari pagi hingga sore untuk kemudian bersantai bersama pada malam hari. Hidup tak harus terhenti hanya karena keterbatasan, kebersamaan justru tercipta ketika terang hanya dibatasi enam jam. Sungguh inilah cerminan jati diri Indonesia yang sesungguhnya. (Taufiq-Wahid ).












































Komentar Terbanyak
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru
Agar Turis Betah, Pemerintah Malaysia Minta Warga Lebih Ramah