Selain dikenal sebagai Kota Pahlawan, Surabaya juga terkenal dengan aneka kulinernya. Hal ini saya alami di malam terakhir kami berada di kota ini. Saya melihat di setiap sudut kota selalu tersedia warung-warung yang berjualan makanan baik yang menjual makanan camilan, warung nasi kaki lima maupun warung permanen, dan tersedia pula restoran mewah. Apapun pilihannya, semua tergantung pada jenis makanan atau suasana seperti apa yang kita inginkan.
Menurut kacamata penglihatan saya setelah beberapa hari di surabaya, dalam jarak beberapa meter antara warung satu dengan yang lainnya pasti ada warung makan atau tempat jajanan, dan yang membuat saya takjub adalah semua tempat makan itu rata-rata ramai dengan pembeli.
Setelah cukup lama memperhatikan hal serupa, maka saya pun tak ingin ketinggalan mencoba makanan khas Surabaya. Dan makanan yang menarik perhatian saya adalah sego sambel yang artinya nasi sambal. Nasi yang dihidangkan dengan potongan tempe, ikan pari serta sambal ini benar-benar menggelitik minat saya untuk mencoba. Akhirnya setelah mengantri sekitar 15 menit tiba juga giliran saya mendapatkan sepiring sego sambel lengkap dengan lauknya, namun ternyata ini belum akhir dari perjuangan kami untuk menikmati pedasnya sego sambel. Kami lagi-lagi harus mengantri untuk menikmati makanan khas Surabaya ini, karena harus menunggu tempat yang kosong untuk kami duduk sementara malam itu sangat ramai pelanggan. Tak berselang lama kami pun bisa menikmati sajian khas Surabaya tersebut sambil duduk lesehan di samping gerobak penjual minuman botol. βTernyata begini cara menikmati sensasi makanan yang memiliki rasa yang pedas dan gurih iniβ, pikir saya. Makanan yang membuat orang menikmatinya tidak berhenti bercucuran keringat seperti sedang berolah raga ini memang paling asyik dinikmati berlesehan sambil mendengarkan musik khas Surabaya.
Tak puas dengan hanya mencoba satu menu saja, saya pun kembali memesan menu yang cukup nikmat untuk disantap dalam cuaca dinginnya malam. Menu yang saya pesan adalah ronde madu, minuman yang mirip dengan sarabba (minuman khas Makassar) ini benar-benar membuat saya merasa hangat di malam yang sedang diguyur hujan. Perut yang terisi penuh seakan memperlambat langkah kaki dan membuat mata saya terkantuk. Namun suasana malam yang ramai dengan suara orang-orang yang memesan makanan seakan memecah dinginnya malam.
Saya masih sangat takjub melihat banyaknya pembeli yang rela mengantri hanya untuk mendapatkan sepiring sego sambel. Lalu kemudian Gus Ayub, penjual minuman botol menerangkan tentang kebiasaan masyarakat Surabaya ngantri dan duduk di warung makan. βYa beginilah kebiasaan orang Surabaya yang senang cangkruk (menghabiskan waktu dengan ngobrol-ngobrol ngalor ngidul)β, kata Gus Ayub sambil menghisap rokoknya yang hampir habis.
Dari sini saya menarik kesimpulan kalau mangkal sambil minum kopi di warung-warung di malam hari telah menjadi kebiasaan orang Surabaya. Dan tampak banyak di antara mereka yang merasa di saat seperti itu bisa mengobrol lepas dan santai sambil menikmati malam di Kota Surabaya.












































Komentar Terbanyak
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Terungkap! Penyebab Kapal Dewi Anjani Tenggelam: Semua ABK Ketiduran
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun