Jutawan Bersahaja dari Hutan Wabudori
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Endro Catur Nugroho|5772|PAPUA 1|27

Jutawan Bersahaja dari Hutan Wabudori

Redaksi Detik Travel - detikTravel
Senin, 22 Agu 2011 13:43 WIB
loading...
Redaksi Detik Travel
Calon jutawan sagu dari Wabudori
Bapak dan Ibu Martinus: Sang jutawan sagu
Tempat pembuatan sagu di tepi sungai Wabudori
Jutawan Bersahaja dari Hutan Wabudori
Jutawan Bersahaja dari Hutan Wabudori
Jutawan Bersahaja dari Hutan Wabudori
Jakarta - Hingga hari keempat di Biak, kami belum berhasil menikmati papeda, makanan khas Papua (dan Maluku). Uniknya, di hari keempat, 15 Oktober 2010, kami sudah berkesempatan melihat asal mula makanan ini. Sagu, bahan utama membuat papeda, ternyata memulai kisah panjangnya dari tepi sungai-sungai eksotis Supiori. Dari tempat terpencil seperti inilah sagu berkelana hingga ke seluruh dunia.

Β 

Bapak Martianus sudah membantu membuat sagu sejak ia belum bersekolah dan bisa membaca. Lima puluh tahun lebih sudah ia habiskan menyusuri sungai dan hutan Supiori bersama orangtuanya. Kebiasaan orang Supiori adalah membangunt tempat kerja membuat sagu di tepi sungai, tinggal dan bekerja selama lima hari, dan Sabtu-Minggu pulang ke rumah di desa. Itu pula yang dilakukan Bapak beranak lima ini. Ia membangun tempat kerjanya di tepi sungai Wabudori, Distrik Supiori Utara.

Β 

Sagu tidak hanya diambil dari pohon yang tumbuh liar, tapi juga dari pohon yang sengaja ditanam. Bapak Martianus tahu benar, tanpa dibantu, pohon sagu akan terus berkurang. Permintaan sagu cukup besar, bukan cuma dari Papua dan Maluku tapi dari seluruh dunia.

Β 

Dari gelondongan Metroxylon Sagu inilah sagu bermula. Setelah dipotong-potong kecil, batang sagu yang berpori besa diparut atau dicacah hingga berbentuk serpihan kecil. Saat ini mesin pencacah berdaya listrik sudah biasa digunakan.

Β 

"Kita sudah tidak sabar pakai mesin tangan, lama," ujar Pak Martianus sambil terkekeh.

Β 

Dari serpihan ini, tugas perempuan lah untuk memerasnya hingga keluar air yang mengandung bubuk sagu. Air sagu dialirkan ke dalam saluran yang terbuat dari pelepah pohon sagu. Air akan memisahkan diri di atas. Di bagian bawah pelepah terkumpul bubuk sagu.

Β 

Dalam seminggu, Pak Martianus bisa menghasilkan sepuluh hingga lima belas tuman (ember dari daun bobo, sejenis pohon palem) yang laku dijual seharga Rp200.000,00 satu tuman. "Kalau sedang beruntung, bisa dapat lebih," katanya.

Β 

Dua belas juta, itu pendapatan minimum Bapak Martianus dan keluarganya. Menurut pengakuannya, uang sejumlah itu cukup untuk menghidupi keluarganya di Desa Sabar Miokre, Distrik Supiori Barat. Tak hanya keluarganya, keluarga pembuat sagu lain pun sama beruntungnya.

Β 

Dari lebatnya hutan Wabudori, siapa sangka banyak dijumpai jutawan-jutawan kaya yang memilih hidup bersahaja.

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads