Jam tangan saya sudah menunjukan pukul 10.45 waktu Bangkok, yang kebetulan sama dengan waktu di Jakarta. Ketika itu, saya Β masih menikmati macetnya jalan raya di kota ini dari ketinggian kereta api layang BTS. Angkutan dengan dua jalur ini memang menjadi angkutan favorit saya karena selain dapat pergi kemana saja di pusat kota namun dapat juga membawa kita ke pinggiran kota termasuk kea rah timur menyebrang sungai para raja yaitu Chaopraya. Saya masih ada di dalam kereta antara stasiun Β Siam dan Chitlom, dengan iseng saya membuka GPS yang ada di handphone dan mencari lokasi tempat ibadah. Ternyata di dekat Wat Arun ada tampak sebuah masjid.
Dengan cepat saya memutuskan untuk turun di Stasiun Saphan Thaksin yang persis ada di Sungai Chaopraya dan menjadi transfer point antara moda angkotan Β sky train BTS dengan moda angkutan sungai yaitu Chaopraya Ekspress. Dengan, membayar ongkos sekitar 14 Baht, tidak lama kemudian saya sudah bercampur baur dengan penduduk kota Bangkok dan turis mancanegara dalam perahu yang dengan cepat membelah sungai dengan air yang sedikit kecokelatan, tetapi tetap bersih dan layak untuk dilayari. Sekitar 20 menit kemudian di sebelah kiri saya sudah kelihatan Wat Arun atau Kuil Sang Fajar dengan bentuk nya yang bagaikan nasi tumpeng. Saya pun turun di dermaga N8 untuk kemudian transfer lagi dengan perahu kecil yang menyeberang ke dermaga Wat Arun karena jaraknya hanya selebar sungai Chaopraya, maka ongkosnya pun hanya 3 Baht.
Dari dermaga saya terus berjalan menujun jalan raya, wat Arun tetap ada di kiri saya. Saya kembali menghidupkan GPS saya dan kemudian mengikuti petunjuknya saja. Setelah berjalan di jalan kecil semacam gang kalau di Jakarta, Pendek kata setelah berjalan kurang lebih lima menit, dari kejauhan sudah kelihatan kubah masjid berwarna hijau di seberang jalan. Ternyata kita harus menyeberang jalan lewat kolong jembatan. Dan, setelah itu di sebelah kanan jalan sudah kelihatan bangunan masjid dengan menara yang juga berwarna hijau kekuningan. Di depannya ada papan nama dan ditulis dalam bahasa Thai dan Inggris. Masjid Tonson namanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah sedikit acara rutin mengambil gambar dan melihat sekeliling, kembali jam tangan dilihat dan waktu sudah menunjukan pukul 12.15 waktu setempat. Β Di pekarangan masjid sudah banyak jemaah yang datang dan berkerumun sambil bercakap-cakap. Hampir semua jemaah berwajah Thai, sehingga kedatangan tamu dari Indonesia tidak membuat mereka sadar. Tempat wudhu ada di luar masjid, dan ketika saya masuk ke dalam ternyata adzan baru mulai di kumandangkan. Yang menarik di pintu masuk banyak terdapat peci haji yang dapat kita pinjam selama sholat. Tinggal pilih yang mana kita suka dan yang ukurannya cocok dengan kepala kita. Tentu saja jangan lupa mengembalikannya setelah selesai sholat nanti.
Β
Tidak lama kemudian khotib naik ke semacam mimbar yang terbuat dari kayu yang dipelitur cokelat tua. Dia memakai semacam jubah berwarna putih dan memengang tongkat kebesaran yang terus dipegang selama khotbah sambil berdiri. Jadi, jamaah tetap dapat melihat seluruh tubuh selama khotib melaksanakan khotbah.
Khotbah dengan bahasa Thai yang saya hanya mengerti kurang dari satu persen, yaitu ketika mengucapkan "Allah Subhana wataalah, Al Quran, dan Rasul". Namun karena ucapannya yang sangat lembut dan bahasa yang mendayu-dayu, suasana terasa semakin khusyuk saat mendengarkannya sambil sesekali mengangguk seakan-akan mengerti. Jemaah di sebelah saya kebetulan adalah seorang pegawai kerajaan lengkap dengan seragamnya.
Β
Setelah selesai sholat, ternyata mereka melakukan doa bersama yang cukup panjang dan dipimpin imam. Doa dimulai dengan membaca surat-surat pendek yang diulang beberapa kali. Wah lama juga yah, saya menunggu sampai sholat benar-benar selesai dan kemudian saya mencoba berbicara dengan pegawai kerajaan yang duduk di samping saya.
Β
βAssalamualaikum, Khab Kun Krab,β demikian ucapan saya yang segera dijawab dengan ramah. "Khun put pasa Thai?" tanyanya dengan serius. "Nitnoy," jawab saya. Dia menanyakan apa saya bicara bahasa Thai, saya jawab saya bisa sedikit-sedikit. Akhirnya kami bercakap-cakap dalam bahasa campuran Thai dan Inggris. Dari sang imam saya mengetahui sedikit banyak bahwa Masjid Tonson dibangun pada sebelumpemerintahan Raja Song Tham pada awal abad ke-17, yaitu pada masa Ayutthaya. Renovasi terakhir masjid ini diadakan pada 1954, untuk memertahankan keaslian arsitektur masjid ini. Di halaman masjid ini juga terdapat beberapa makam pemuka agama Islam di Thailand.
2. Makan Siang di Warthai di depan Masjid
Tepat di depan masjid, terdapat semacam toko kecil yang menjual buku-buku Islam, baik pelajaran sholat, surat yasin , dan pelajaran agama lainnya, sayangnya semuanya dalam bahasa Thai. Di sebelah toko Β tadi ada juga sebuah Warthai (Warung Thai) yang tampak sangat sederhana. Benar-benar seperti warteg di Jakarta. Karena sudah lapar akhirnya nasi, ikan dan beberapa jenis sayuran segera dipesan dan hanya perlu membayar 25 Baht untuk makan siang termurah saya di Bangkok. Lengkap dengan sebotol minuman air mineral yang harganya 7 baht. Tentu saja komunikasi semuanya dengan bahasa Thai yang kebetulan saya bisa untuk hal-hal yang sederhana seperti menanyakan harga makanan dan juga minuman.
3. Bangkok Smile Bike
Yang menarik juga adanya jalur sepeda di tempat ini yang saya lihat dengan adanya gambar sepeda di jalan dan juga tempat parkir sepeda. Ternyata di Bangkok ada semacam angkutan penyewaan sepeda yang namanya Bangkok Smile Bike dan dekat masjid ini juga merupakan salah satu stasiun no.5, yaitu Wat Kanlayanamith dan Tonson Moque. Kapan yah di Jakarta ada seperti ini?
4. Haroon Mosque
Masjid yang kedua ini terletak tidak jauh dari Hotel Sheraton Royal Orchid. Sehingga masih dapat ditempuh dengan perahu di sungai Chaoprya dan kemudian dilanjutkan dengan sekitar 10 menit berjalan kaki. Wah daerah ini sebenarnya sudah sering Β saya kunjungi, tetapi baru tahu kalau di belakang jalan ini terdapat Masjid Haroon. Letaknya di Soi 36 Chareon Krung. Soi sendiri adalah bahasa Thai untuk jalan kecil atau gang, sedangkan thanon adalah kata untuk jalan raya. Karena itu untuk menuju masjid ini, kita harus melalui semacam gang yang tampaknya agak sedikit kumuh dan banyak orang duduk-duduk di teras rumah. Pemandangan yang cukup biasa seperti di daerah perumahan padat di Jakarta.
Masjidnya sendiri cukup besar tapi tidak seindah masjid Tonson. Menurut cerita, masjid ini dibangun pada abad ke-19 oleh pemuka agama Islam yang keturunan Arab yang berasal dari Indonesia. Masjid ini dinamakan Masjid Haroon sesuai dengan nama pendirinya, yaitu Haroon Bafadel. Yang menarik dari masjid ini adalah banyaknya ukiran ayat-ayat suci Al-Quran yang diukir pada kayu jepara.
Pada waktu didirikan Masjid ini letaknya persis di tepi sungai Chao Praya dan dinamakan Masjid Β Ton Samrong. Masjid aslinya terbuat dari kayu dengan arsitekrur campuran Jawa dan Ayuthaya. Namun, pada tahun 1899 tempat tersebut dijadikan kantor Bea Cukai dan masjid dipindahkan ke lokasi yang sekarang.
5. Bangkok Mosque: Masjid Β khusus Pendatang dari Asia Selatan
Ini adalah masjid yang paling besar dari ketiga masjid yang saya kunjungi. Namun, arsitekturnya terasa sangat modern dan berlantai dua. Kalau melihat pelakat yang tertulis, masjid ini memang belum terlalu lama dibangun. Terltulis pada pelakat bahwa masjid ini dibangun oleh Tamil Muslim Association dan diresmikan pada tanggal 25 Agustus 2006.
Untuk menuju masjid ini, saya kembali memanfaatkan GPS saya. Saya naik BTS dan turun di Stasiun Surasak. Berjalan kaki dengan santai melewati Hotel Holiday Inn Silom, terus berjalan sekitar 5 menit melalui Thanon (jalan) Mahesak kemudian belok kanan ke Thanon Surawong dan kemudian harus belok kiri Β masuk gang kecil atau soi untuk sampai ke masjid ini. Maklum alamat resminya adalah 332 soi san Chao Maepla Taphai, Thanon Suriwong, Bangrak.
Ketika masuk ke Masjid kebetulan sudah waktunya sholat asar. Yang menarik, masjid ini karena letaknya agak di pusat kota, lebih banyak dikunjungi pendatang ataupun penduduk Bangkok yang berasal dari Asia Selatan, wajah Pakistan, dan India sangat dominan termasuk juga imam masjid.
Sebenarnya, masih banyak masjid-masjid lain di Kota Bangkok. Namun, tidak cukup waktu untuk mengunjungi semuanya. Dengan melihat langsung beberapa masjid yang ada di kota ini, dapat juga memperkaya khasanah tentang kehidupan umat Islam di negara lain.Β












































Komentar Terbanyak
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Melawai Plaza: Markas Perhiasan Jakarta yang Melegenda Itu Tak Lagi Sama
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru