Emansipasi Wanita di Sentra Industri Patung dan Ukir Mulyoharjo

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Muh Heri Suryono|401|JATENG & KEP. KARIMUN JAWA|46

Emansipasi Wanita di Sentra Industri Patung dan Ukir Mulyoharjo

Redaksi Detik Travel - detikTravel
Rabu, 15 Jun 2011 13:00 WIB
loading...
Redaksi Detik Travel
Ibu Rini sudah bekerja di sektor ini sejak sepuluh tahun yang lalu
Ibu Rini digaji harian borongan untuk pekerjaan ini
Ibu Rini sedang bekerja melakukan finishing meubel
Para pekerja perempuan ini bekerja menggosok kayu dan memoles kayu dengan pelitur atau cat
Demi menyambung hidup para perempuan ini tidak malu untuk bekerja kasar
Hasil Meubel yang langsung dipajang di depan workshop mereka
Emansipasi Wanita di Sentra Industri Patung dan Ukir Mulyoharjo
Emansipasi Wanita di Sentra Industri Patung dan Ukir Mulyoharjo
Emansipasi Wanita di Sentra Industri Patung dan Ukir Mulyoharjo
Emansipasi Wanita di Sentra Industri Patung dan Ukir Mulyoharjo
Emansipasi Wanita di Sentra Industri Patung dan Ukir Mulyoharjo
Emansipasi Wanita di Sentra Industri Patung dan Ukir Mulyoharjo
Jakarta -

Jepara dikenal sebagai penghasil ukiran yang sangat indah. Ukiran itu diwujudkan dalam mebel perangkat rumah tangga dan benda-benda lain yang bernilai seni. Tak jauh dari pusat kota Jepara terdapat Sentra Industri Seni Patung dan Ukir Desa Mulyoharjo, Kecamatan Bandengan. Lokasinya di dekat dengan pantai. Aneka ukiran berbagai motif, bentuk dan ukuran terdapat di tempat ini. Di Desa Mulyoharjo ini selain ada toko juga ada workshop. Biasanya, di belakang toko terdapat gudang atau tempat bekerja. Kebanyakan mereka adalah para pengukir yang membuat ukiran dengan aneka corak dan motif.

Saat kemarin selasa, 7 Oktober 2010 saya berkunjung ke Desa Mulyoharjo. Di workshop seni meubel dan ukir ada dua kelompok, para tukang pembuat barang mentah – barang yang belum jadi dan bagian finishing. Bagian produk mentah itu membuat aneka mebel saja, tanpa harus diperhalus, dipelitur atau dicat. Untuk bagian finishing ini biasanya dikerjakan oleh kaum perempuan. Salah satu yang kami temui adalah ibu Rini, 40 tahun, dia mengaku sudah bekerja disana selama 10 tahun, seperti pekerja perempuan lainnya, ia bekerja untuk memperhalus mebel dan ukiran. Yang mereka lakukan mulai menggosok dengan amplas, pelitur dan mengecat.

Menurut Ibu Rini, Para perempuan itu digaji mulai Rp 12 ribu sampai Rp 25 ribu per hari, dia dibayar harian bukan borongan. Di workshop tersebut nampak puluhan pekerja perempuan yang membantu proses finishing,mereka beremansipasi bahwa pekerjaan seperti tukang kayu dan ukir tidak hanya milik kaum laki laki namun juga kaum perempuan,karena bagaimanapun juga mereka butuh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads