Β
Di atas perahu terdapat enam orang. Kami berjejalan di atas perahu sambil mengabadikan momen, alias foto-foto. Diantara mereka berlima, mungkin saya yang agak penakut. Tantangan mengayuh perahu dari tengah laut hingga ke dekat pantai dan menuju eksplorasi hutan bakau membuat saya mencoba tenang. Don't be panic, they said. Gelombang air yang turun naik akhirnya menepikan kami juga. Dan disini cerita berperahu di sepanjang Sungai Cigenter dimulai.
Β
Saya senang disini hutan bakaunya masih terawat. Tanaman bakau sejati pun masih ada. Ditambah lagi saya berperahu layaknya tuan putri yang diantar oleh dayangnya, wah seru banget! Ketika tanaman di sekeliling terlihat, dua ular yang bergantung di atas pohon adalah salah satu tantangan kami. Ternyata hutan bakau bukan saja memperlihatkan keanekaragaman vegetasi alamnya, tapi hewannya pun turut serta hadir di depan kami.
Β
Kami memerlukan waktu sekitar 3 jam, pulang - pergi, untuk melewati aliran sungai yang cukup panjang ini. Sebelum berperahu, kami mampir di Pulau Handeuleum, disini letak perahu itu berasal. Kami diajak Mas Yayus kesini dan bertemu dengan beberapa staf TNUK yang mendiami pulau tersebut. Nggak lama kemudian, perjalanan mengayuh perahu dilanjutkan.
Β
Mas Yayus, pemandu wisata dari Balai TNUK ini pun menyarankan kami agar jangan panik jika di atas perahu. Coba nikmati pemandangan alam di daerah ini, begitu katanya. Ia banyak bercerita tentang inisiatif pemerintah Banten membuat canoying di hutan bakau. Dan hal ini membuat saya berpikiran sama, pemerintah Jambi harus buat seperti ini, karena panorama hutan bakau Jambi pasti bisa layaknya di Ujung Kulon.
Β
Pengin ngerasain berperahu di antara rimbunnya tanaman bakau? Hubungi Mas Yayus untuk informasi lebih lanjut mengenai pariwisata di Taman Nasional Ujung Kulon: 081806102357. (travel/travel)












































Komentar Terbanyak
Wanita Palembang Nekat Nyamar Jadi Pramugari, Batik Air Buka Suara
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Nyeleneh! Jemaah Zikir di Candi Prambanan: Mau Lepaskan Kutukan Roro Jonggrang