Safari, gajah, dan petualangan seru. Ya, tiga hal itulah yang akan kita temui di Pusat Latihan Gajah (PLG) Way Kambas, objek wisata yang aling familiar di Lampung. Cukup berkendara kurang lebih 2 jam dari Bandar Lampung untuk mencapai Way Kambas, via kota Metro. Medan menuju Way Kambas relatif mudah, tidak ada tanjakan berkelok-kelok, landai dan lurus, namun seperti biasa, jalan-jalan yang rusak. Kerusakan paling parah di desa Sukadana, selepas kota Metro, jadi waspada saja.
Sebelum masuk kawasan PLG, kita harus membayar tiket masuk sebesar Rp. 2500 per orang, dan Rp. 6000 untuk mobilnya. Setelah pos masuk tersebut kita masih harus melanjutkan perjalanan sejauh 10 km, hingga sampai di kawasan PLG. Kita bisa langsung menuju Visitor Center untuk meminta info Safari Gajah. Safari? iya safari, kita akan berkeliling kawasan Taman Nasional Way Kambas dengan menunggang gajah! Sekali Safari gajah, kita hanya perlu membayar seharga Rp. 150.000 per orang. Seekor gajah bisa kita tunggangi sendiri, bersama pawangnya, atau kita tandem dengan kawan kita. Hitungan harganya per orang, bukan per gajah. Setelah kita mengajukan permintaan, maka kita harus menunggu gajah gajah yang akan mengantar kita bersafari. Saat saya tiba, kira-kira pukul 12.00 siang, gajah-gajah tersebut sedang diangon, dilepas bebas untuk makan dan bebas bermain. Oleh karena itu pawang akan menjemput gajah-gajah yang diangon itu untuk mengantar kita, wah maaf ya gajah, kita mengganggu jadwal bebasmu.
Setelah gajah datang, kita bisa langsung naik ke punggung gajah. Tak perlu khawatir geli atau sakit, punggung gajah itu sudah dilapisi busa dan kain. Hup, saya naik ke punggung Aries, nama gajah yang saya tunggangi, bersama pak Rahman, pawang yang sudah melatih Aries selama 8 tahun. Safari pun dimulai! awalnya agak canggung karena ternyata tulang punggung gajah yang terus bergerak karena ia berjalan, cukup mengganggu pangkal paha. Tipsnya, luruskan kaki, rileks, dan ikuti arah gerak si gajah.
Saat mulai memasuki kawasan hutan, ahh itulah saat dimana kita benar-benar bersafari. Matahari menyembul malu-malu di balik awan kelabu sisa hujan tadi pagi, angin berhembus segar, membuat ilalang dan tanaman perdu di sepanjang jalan bergoyang-goyang, sangat menenangkan. Saat itu rasanya benar-benar lepas, hanya tentang gajah dan alam raya. Lupakan sejenak kubikel kantor saya yang kecil itu, atau rutinitas kota yang menghimpit. Ladang luas membentang, dan saya terus menyusurinya bersama Aries, sangat menikmati dan mulai terbiasa dengan gerakannya. Sepanjang jalan, Aries, terus menerus mencabut rumput atau tanaman perdu dengan belalainya, mengibas-ngibaskan rumput ke gadingnya agar hilang tanahnya, lalu dimakan. Sepanjang jalan! iya, sama seperti kita yang hobby ngemil.
Bukan safari namanya jika tidak masuk ke rawa-rawa. Wah asyik sekali, dari punggung Aries, saya bisa melihat air rawa-rawa bergejolak karena langkahnya, beberapa kali Aries menggaruk kakinya untuk melepas lintah yang menempel, ya namanya juga rawa-rawa. Safari terus berlanjut, melewati sekumpulan gajah yang sedang mencari makan, bersama seekor gajah kecil yang masih berusia 1 tahun, ah lucu sekali. Rute yang ditempuh untuk sekali safari lazimnya sekitar 1 - 1,5 km selama 1 jam. Menariknya beberapa turis asing, dari Jepang misalnya bisa mengajukan safari khusus yang diadakan malam hari atau seharian penuh, tentu kita harus membuat janji dulu dengan pihak PLG sebelumnya.
Saat ini PLG Way Kambas punya 62 gajah terlatih yang siap menghibur kita, wisata ini menarik karena kita bisa mengobservasi kehidupan gajah di habitat aslinya. Harus dicoba!












































Komentar Terbanyak
Wanita Palembang Nekat Nyamar Jadi Pramugari, Batik Air Buka Suara
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Nyeleneh! Jemaah Zikir di Candi Prambanan: Mau Lepaskan Kutukan Roro Jonggrang