"Ini tempat terbaik di China bagian tenggara untuk mencari teh. Semua jenis teh tersedia di sini," kata Muslim, seorang turis asal Indonesia kepada detikcom, di Zhongshan Lu Road, Xiamen, Fujian, Republik Rakyat China, pekan lalu.
Dari ujung barat yang menghadap pantai hingga ujung jalan sepanjang kurang dari 1 km, belasan bahkan puluhan toko menjajakan berbagai macam teh. Toko itu berhimpit dengan toko souvenir, giok, baju, permainan, atau alat elektronik. Namun aroma teh tidak bisa lepas dari hidung. Selalu tercium wangi lembut dan memberikan sensasi minum teh sejak ribuan tahun lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Variasi teh yang berjajar di Zhongshan Lu sangat lengkap seperti teh putih, teh hijau, teh hitam dan teh oolong. Untuk yang terakhir, merupakan teh yang pengoksidaannya dihentikan antara antara teh hijau dan teh hitam. Masing-masing memberikan efek, aroma dan rasa yang berbeda.
Selain itu, terdapat pula teh 'pur-erh', sejenis teh khas dari asal Yunan. Teh ini dipadatkan dalam bentuk seperti batu-bata, cakera atau gasing. Ada juga 'teh Kuning Samaada' yang merupakan teh berkualis tinggi yang pada sejarahnya dihidangkan untuk anggota istana kekaisaran.
"Harganya murah. Ada yang model kiloan, ada yang model kemasan. Tehnya berbeda dengan di Indonesia, kebanyakan daunnya lebih kecil, lembut dan harum tanpa diberi melati pengharum," imbuh Muslim.
Menurut sejarah, tradisi minum teh berasal dari RRC sejak 5.000 tahun silam. Namun, asal mula teh masih merupakan legenda. Salah satunya cerita tentang Kaisar Shen Nung.
Pada suatu hari, Kaisar Shen Nung akan minum air hangat, Namun saat air dimasak beberapa daun jatuh dari pohon yang menjuntai dan tertiup angin ke panci. Sang Kaisar ingin tahu dan memutuskan untuk mencicipi air rebusan tersebut. Kaisar pun merasakan air itu sedap dan menyehatkan tubuh.
Pada abad ke-17, pedagang dari bangsa Belanda dan Portugis pertama kali memperkenalkan teh ke Eropa. Bangsa Rusia merupakan penggemar awal teh di Eropa. Teh yang mereka bawa melalui jalan darat dari Cina menggunakan kereta yang ditarik oleh unta.
"Kalau ke China, tidak lengkap kalau tidak membawa pulang oleh-oleh asli sejak ribuan tahun lalu yang menyehatkan, teh," pungkas sang pramuniaga.












































Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru