Papeda, Japan dan Barapen: Kembali ke Fitrah Manusia Papua

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Endro Catur Nugroho|5772|PAPUA 1|27

Papeda, Japan dan Barapen: Kembali ke Fitrah Manusia Papua

Redaksi Detik Travel - detikTravel
Senin, 11 Apr 2011 10:45 WIB
loading...
Redaksi Detik Travel
Japan Iyen, sering kalah pamor dengan papeda
Papeda, Japan dan Barapen: Kembali ke Fitrah Manusia Papua
Jakarta -

Orang Papua makannya nasi. Ada yang aneh dengan pernyataan itu? Tentu tidak. Setidaknya hari ini. Nasi sudah jadi makanan alternatif yang kadang malah menggusur makanan utama nenek moyang orang Papua: sagu dan keladi.

Di Kota Biak, masih mudah mencari papeda (sagu yang dimasak dengan air panas hingga mengental seperti lem). Tapi, alih-alih di rumah penduduk, papeda lebih banyak terhidang di meja makan restoran. Untunglah rasanya masih konsisten dengan yang dimasak orang tua jaman dulu. Kini bahkan banyak papeda yang dimodifikasi untuk menyesuaikan jaman. Biasanya, ikan berkuah-nya lah yang jadi sasaran modifikasi. Entah ikannya diasap terlebih dahulu. Atau bumbu kuahnya yang dimodifikasi agar sesuai lidah penduduk Biak yang memang kini sudah bercampur dengan pendatang.

Di luar kota Biak, papeda lebih mudah ditemukan. Tak hanya saat acara keluarga atau upacara adat, tapi juga makanan sehari-hari. Teman seperjalanan kami, Simon Rumbino yang Kepala Seksi Pendataan, Distrik Supiori Barat, Kabupaten Supiori pun mengaku kalau papeda lebih mengenyangkan dibanding nasi. Sayangnya memang, nasi terlihat lebih 'mudah' dan sederhana dimakan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lalau bagaimana dengan keladi? Di Biak, makanan khas dari keladi disebut Japan Iyen. Japan berarti keladi. Iyen berarti ikan. Ya, keladi sering dihidangkan dengan cara direbus tanpa bumbu dan dihidangkan dengan ikan laut yang dimasak berbumbu lombok (cabai). Kini mencari japan iyen semakin sulit. Untunglah kami sempat menemukannya secara tidak sengaja saat berkunjung ke Festival Seni Kreasi Papua XI di Lapangan Hanggar AURI, Kota Biak, 13 Oktober 2010 lalu.

Keladi tidak beda jauh dengan talas, salah satu makanan yang direkomendasikan dokter untuk perut saya. Makanya, tak heran jika satu buah keladi rebus berukuran dua kali kepalan tangan pun ludes berpindah ke perut. Apalagi ikan cakalang masak rica buatan Mama Marietta sungguh menggoda. Awalnya memang agak aneh, memadukan keladi dan ikan. Tapi setelah saya ubah sedikit gaya makannya, jadi jauh lebih nikmat: japan dipotong kecil-kecil sebesar ukuran dadu dan dimakan dengan iyen yang sudah disuir-suir. Nikmat.

Ada satu lagi makanan khas Biak yang hingga kini masih jadi misteri: Barapen. Konon, ini adalah puncak kuliner orang Biak. Pernah membayangkan membakar batu kali hingga merah menyala? Ya, batu kali yang panas membara itulah yang menjadi 'tungku' bagi umbi-umbian (petatas atau ubi, japan atau keladi, dan kasbi atau singkong), daging (sapi, babi, ayam) dan sayuran. Untuk menambah aroma, daun ares (sejenis pandan) dan daun kendarek (mengkudu) digunakan sebagai penutup makanan yang di-Barapen. Sayuran pun harus dibungkus daun pisang hingga tidak hangus terbakar sekaligus menambah aroma.

Rasanya? Saya cuma bisa menelan ludah ketika Kak Boi, pendamping kami, menceritakannya kelezatannya. Batu menjaga rasa dari bahan makanan agar tidak hilang seperti jika dimasak dengan kompor dan alat masak modern lainnya, jelasnya. Jadi, daging yang dimasak di atas batu rasanya jauh lebih nikmat, bahkan ketika tidak diberi bumbu apapun.

Dulunya, Barapen terhidang di tiap rumah. Kini, Barapen hanya digelar dalam acara adat yang cukup besar. Bisa dimaklumi. Orang modern bisa berkilah tak punya waktu mencari batu hanya untuk memasak. Bayangkan juga betapa repotnya membakar batu, mengurusi asap dan sampah yang tersisa.

Mungkin memang belum keberuntungan kami melihat dan mencicipi makanan yang dimasak ala Barapen. Mungkin Anda lah yang beruntung. Kunjungi Biak, tinggal lah dengan penduduk di desa dan kampung dan ceritakan bagaimana nikmatnya makanan alami dengan proses memasak alami ala Barapen.

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads