Sirih Penyambut Kedatangan di Pulau Sumba

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Muhammad Lukman Hakim|1885|NTT 1|24

Sirih Penyambut Kedatangan di Pulau Sumba

Redaksi Detik Travel - detikTravel
Jumat, 29 Apr 2011 11:00 WIB
loading...
Redaksi Detik Travel
Mencoba sirih dengan kapur
Sirih Penyambut Kedatangan di Pulau Sumba
Jakarta -

Pulau Sumba masih memiliki banyak desa - desa adat tradisional yang tersebar. Dari ujung utara hingga ujung selatan, dari ujung barat hingga ke ujung timur, kita masih dapat menemukan desa - desa tradisional. Walaupun terkadang untuk mencapai desa - desa tersebut harus menempuh rute panjang. Jalanan berkelok, naik turun bukit dan masuk hingga pedalaman Sumba.

Dengan seiringnya masyarakat desa tradisional mulai membuka diri terhadap para wisatawan yang ingin berkunjung ke desa - desa tersebut, walaupun masih ada yang menutup diri. Ada beberapa tata cara penyambutan yang harus dilakukan oleh tuan rumah dan tamu. Hal ini adalah sebuah kebiasaan yang dilakukan oleh penduduk setempat apabila menerima tamu dari luar wilayah mereka untuk berkunjung. Dan itu sudah dilakukan secara turun temurun.

Menurut pengalaman kami setelah berkunjung ke desa - desa tersebut. Ketika kami tiba di suatu desa, kami harus menemui sang kepala desa. Dan kepala desa akan mempersilahkan duduk di bale rumahnya. Dia akan menyuguhkan sirih pinang yang ditaruh diatas sebuah mangkuk, biasanya terbuat dari anyaman bambu. Sang tamu dipersilahkan untuk mengunyah sirih pinang terlebih dahulu. Apabila tidak mengunyah sirih pinang, sang tamu harus mengatakan kepada kepala desa. Karena apabila tidak melakukan mengunyah sirih bisa dianggap tidak menghormati tuan rumah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah sirih pinang dikunyah, dan air kunyahan sirih sudah diludahkan ke tanah, sang tamu biasanya memberikan balasan atas pemberian sirih pinang tersebut. Balasan tamu untuk tuan rumah, biasanya dalam bentuk memberikan donasi, bisa berbentuk uang maupun barang. Donasi itu ditaruh diatas mangkuk sirih pinang, kemudian tamu akan mengutarakan maksud keinginan dari kedatangannya. Selama proses tersebut, para tamu yang kebanyakan orang luar dari wilayah ataupun wisatawan. Tidak diperbolehkan untuk mengambil gambar sekitar desa.

Seusai mengatakan maksud dan tujuan kedatangan, kepala desa akan memberikan jawaban bisa atau tidaknya mengakomodir dari tujuan kedatangan sang tamu. Apabila bisa, prosesi dialog selanjutnyaΒ  dilakukan dengan lebih santai dan gayeng. Jikalau tamu hendak mengambil foto, hendaknya meminta ijin terlebih dahulu.

Toleransi dan memahami adat mereka sangatlah harus dilakukan. Karena dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung.

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads