Pupusnya Sejarah Menghilangkan Identitas Sebuah Bangsa

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Terryna Padmi Tunjungsari|50863|SULTRA|35

Pupusnya Sejarah Menghilangkan Identitas Sebuah Bangsa

Redaksi Detik Travel - detikTravel
Selasa, 03 Mei 2011 10:55 WIB
loading...
Redaksi Detik Travel
Kompleks Benteng Liya Togo - Wangi-wangi
Pupusnya Sejarah Menghilangkan Identitas Sebuah Bangsa
Jakarta -

Perjalanan tim Sultra sejak 18 Oktober 2010 lalu, telah membawa kami pada beberapa peninggalan sejarah Kesultanan Buton. Mulai dari reruntuhan benteng, meriam kuno, mesjid, rumah adat, atau kompleks pemakaman. Satu fakta yang menarik adalah kurangnya informasi tentang peninggalan sejarah tersebut. Jangan heran apabila seorang warga menggelengkan kepala dan terdiam saat ditanya cerita tentang mesjid kuno di depan rumahnya. Tidak jarang kami harus berkeliling kampung untuk mencari orang paling tua dengan harapan mereka masih ingat cerita lama tentang sebuah makam batu di alun alun kampung.

Contohnya Mesjid Tua Bente di Kaledupa. Pak Lasebu yang sudah belasan tahun tinggal didepan mesjid tidak tahu menahu tentang cerita pendiriannya. Atau saat kami mengunjungi benteng Liya Togo, Wangiwangi. Kami harus mencari Pak La Ode Abu, tetua Kampung Liya. Beliau mengatakan bahwa untuk bercerita sejarah benteng, kami harus mengikuti prosesi bersirih pinang. Untungnya beliau mau bermurah hati dan tetap mau bercerita meskipun kami datang dengan tangan kosong. Demikian juga saat kami mengunjungi benteng Patua di Tomia. Dengan posisi terpencil di puncak bukit dan tanpa informasi menyebabkan benteng ini kehilangan arti kemegahannya di jaman dulu.

Sebenarnya di Buton ada kebudayaan yang disebut Kabanti. Kabanti adalah semacam puisi yang dijadikan syair lagu, umumnya berisi tentang cerita dan kearifan jaman terdahulu, Biasanya ditulis dalam aksara Arab atau Arab Wolio. Namun sekarang sudah jarang disenandungkan atau dibacakan lagi. Selain itu juga ada semacam kepercayaan di para tetua yang menganggap bahwa pengetahuan adalah warisan berharga yang tidak bisa disebarluaskan begitu saja.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Efeknya tentu terasa di kalangan muda Buton sekarang ini. Antara lain kurangnya pemakaian bahasa Wolio . Atau yang lebih disayangkan hilangnya kearifan masa lalu yang termuat di 'Sara Pata Anguna" (Empat Pilar Bermasyarakat) yang a.l. isinya berisi:

- poangka-angkataka (saling mengangkat derajat sesama)

- poma-masiaka (saling menyayangi

- popia-piara (saling menjaga perasaan)

- pomae-maeka (saling menjaga kehormatan sesama)

Semua ini jadi membuat saya bertanya pada diri saya sendiri. Apakah saya masih bisa disebut orang Indonesia kalau nyatanya saya juga banyak tidak tahu sejarah bangsa ini. Dan yang lebih mengerikan adalah pertanyaan apakah saya masih boleh marah kalau Reog diambil bangsa tetangga sementara saya sendiri hanya bisa menggeleng dan terdiam kalau ada yang tanya Reog itu seperti apa.

 
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads