Setelah puas berpetualang di kota Sintang, perjalanan kami lanjutkan ke kabupaten Kapuas Hulu untuk melanjutkan petualangan. Sedikit berbeda dengan Sintang yang masih berbenah, kabupaten Kapuas Hulu telah sejak lama bergelut dalam bidang pariwisata. Hal yang sama dari dua dearah ini adalah upaya mandiri dari masyarakat setempat dan putra-putri daerah untuk mengembangkan pariwisata di daerah tanpa berpangku tangan menunggu bantuan dari pemerintah. Banyak sekali obyek tujuan wisata yang dapat kita kunjungi. Salah satunya adalah tempat yang akan kami datangi ini.
Tujuan pertama adalah perkampungan nelayan suku Melayu di Kapuas Hulu. Untuk mencapai lokasi ini tidak bisa melalui jalan darat, satu-satunya jalur transportasi adalah melalui sungai Kapuas yang mengalir hingga tempat pemukiman ini berada. Dengan menggunakan speed boat, lokasi yang bernama desa Teluk Aur ini dapat dicapai dalam waktu lebih kurang satu jam. Bahkan sebelum tiba di lokasi wisata, perjalanannya saja sudah sangat luar biasa. Bayangkan betapa menyenangkannya mengarungi sungai Kapuas dengan menggunakan kendaraan yang tidak akan kita temui di kota. Saya tidak pernah membayangkan ada sungai yang lebarnya melebihi jalan raya yang ada di Jakarta. Aliran sungai yang panjang layaknya sirkuit balapan bagi kendaraan kami yang dipacu hingga kecepatan maksimal. Di hadapan kami hampir tidak ada halangan yang merintang, sedangkan di atas kepalaΒ hanya ada langit biru dan awan putih yang dengan setia mengawal perjalanan.
Setelah puas mengarungi sungai Kapuas, kami tiba di lokasi wisata saat matahari mulai sembunyi di peraduannya. Kami langsung disambut dengan senyum ramah kepala desa. Beliau akan menjadi tuan rumah bagi kami selama kami berada di tempat ini. Setelah istirahat dan membersihkan diri, sedianya kami akan menyaksikan tarian Jepin. Atraksi wisata tarian tradisional yang memang disuguhkan bagi wisatawan yang datang. Sayang sekali pertunjukkan terpaksa dibatalkan karena hujan deras mengguyur perkampungan yang dikelilingi danau Aur dan danau Penglang ini. Acara langsung berganti dengan perbincangan hangat dengan penduduk yang sengaja datang untuk menyambut kami di rumah kepala desa. Dengan ramah mereka berbagi cerita mengenai tempat yang ternyata menyimpan kearifan lokal dan pemahaman mendalam akan kelestarian lingkungan.
Percaya atau tidak, di desa ini menangkap ikan Arwana adalah perbuatan yang dilarang. Bila hal ini dilanggar maka akan didenda sebesar harga jual ikan ini di pasaran. Pernah terjadi ada seorang warga yang didenda hingga rumahnya disita kemudian diusir dari desa. Wajar saja, karena harga satu ekor ikan arwana bisa mencapai ratusan juta. Sebenarnya saya heran kenapa menangkap ikan yang dapat menambah pemasukan desa ini justru dilarang. Ternyata alasan mereka sungguh mulia yaitu untuk tetap mempertahankan populasi ikan arwana di danau mereka. Mereka juga sadar bahwa justru dengan melestarikan lingkungan mereka dapat menambah pemasukan desa dari pariwisata. Atraksi wisata utama desa ini memang keindahan alam dan beragamnya satwa yang berada di sekitar danau mereka. Tidak hanya berbagai macam burung, serangga dan ikan, kita bahkan dapat megamati tingkah polah orang utan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT












































Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru