Cuci parigi adalah sebuah adat untuk mencuci sebuah sumur tua kembar yang berada di desa Lonthor, desa tertua yang ada di kepulauan Banda, dan sumur ini merupakan satu satunya sumur yang ada di desa ini.
Satu hal yang aneh dari sumur in adalah sumur kembar ini terletak berdampingan dan dasar kedua sumur tersebut saling berhubungan, akan tetapi akan tetapi salah satu sumur mengandung air yang bersih sehingga dapat langsung diminum sedang sumur yang lain berair payau.
Selain itu keanehan lain dari sumur kembar ini adalah letaknya yang berada diatas ketinggian sekitar tiga ratus meter diatas permukaan laut namun kedalaman sumur tersebut hanya sekitar empat meter.
Acara cuci parigi diadakan setiap 5-10 tahun sekali, adat ini adalah yang terberat dan terbesar di antara adat adat yang lain yang ada di seluruh kepulauan Banda, biasanya seluruh orang Banda yang ada di perantauan akan pulang kampung untuk menghadir acara ini. Tak heran bila acara ini dilangsungkan kapal Pelni yang berkapasitas ribuan penumpang dicarter hanya untuk mengangkut para perantau Banda yang akan pulang kampung.
Cuci Parigi merupakan acara kolosal dengan struktur ritual yang sarat dengan unsur unsur mitos dan magis namun bernilai seni tinggi.
Dalam acara ini masyarakat kampung digiring untuk mengeringkan sumur desa yang unik ini dengan selembar kain tanpa sambungan selebar satu meter dengan panjang sekitar 100 meter, masyarakat Lonthor menyebutnya Kain Gajah.
Upacara Cuci parigi dimulai dengan menggotong kain gajah untuk dimasukan ke dalam sumur, dan berbarengan dengan itu pula maka sumber air sumur tersebut akan berhenti dan tidak mengeluarkan air. Pada saat itulah kegiatan membersihkan sumur dilakukan sesuai ketentuan adat yang berlaku.
Setelah dipandang bersih, maka masyarakat mulai menarik ujung kain gajah keluar dari sumur dengan diiringi syair dan lagu lagu adat daerah yang penuh magis.
Para gadis desa menggotong kain itu menuju pantai, berbarengan dengan itu mata air menyemburkan air bersih dari pojok pojok sumur yang telah dibersihkan. Sulit memang menggambarkan secara rinci upacara besar ini.
Namun sayang budaya besar dengan tata cara yang tak pernah lepas dari mitos, magis dan ritual ini selalu luput dari perhatian dunia, kedatangan kami pun sedikit terlambat karena acara ini diadakan pada bulan Agustus lalu, Semoga sepuluh tahun lali saya masih berkesempatan datang kembali ke banda untuk mengikuti acara kolosal ini.











































Komentar Terbanyak
Ketika Ijazah Wakil Presiden Indonesia Dipajang Abadi di Kampus Top Belanda
Viral, Turis Indonesia Diduga Beri Makan Plastik ke Rusa di Nara Park
Bos AirAsia Sentil Makanan Singapore Airlines, Dibalas Netizen: Urus Delay Saja