Perjalanan kami kali ini adalah mengunjungi Cagar Alam Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu yang terletak di Kabupaten Bangkalis, Riau. Cagar Biosfer adalah kawasan ekosistem darat dan pesisir laut yang diakui keberadaannya di tingkat internasional. Cagar Biosfer dirancang untukΒ menyelaraskan konservasi keanekaragaman hayati, pencaharian bagi perkembangan ekonomi dan sosial dan sekaligus melestarikan nilai-nilai budaya.Β Β Β
Cagar Alam Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu merupakan merupakan salah satu dari 7 Cagar Biosfer yang ada di Indonesia. 29 Mei 2009, Cagar Alam Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu ditetapkan dalam sidang 21st Session of the International Coordinating Council of the Man and the Biosphere Proggramme UNESCO di Jeju, Korea. Cagar Biosfer ini memiliki luas 178.722 hektar yang terdiri dari zona inti dan zona penyangga. Zona Inti adalah areal hutan alami asli yang terdiri dari Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil seluas 84.967 hektar dan Suaka Margasatwa Bukit Batu seluas 21.500 hektar, sedangkan zona penyangga adalah hutan produksi yang tidak ditebangi lagi.
Untuk mencapai ke zona inti, kami menyusuri kanal dengan speed boat selama 20 menit. Kami berhasil menyusuri hutan inti sampai sejauh 500 meter. Hutan tersebut masih tinggi kerapatannya dan masih heterogen. Dengan menapaki hutan yang bertanah gambut serta melompat diantara jebakan akar-akar pepohonan kami sangat terkesima dengan pesona keasrian hutan alam ini.
Kawasan Cagar Biosfer ini memiliki keanekaragaman hayati sekitar 126 jenis tumbuhan (52 jenis merupakan tumbuhan langka dan dilindungi) yang terdiri dari 67 marga dan 34 suku tumbuhan. Pohon langka yang berhasil kami temui adalah seperti pohon Ramin dan Meranti bahkan Kantong semar bisa dijumpai di hutan ini.
Pengelolaan cagar ini merupakan kerjasama antara pihak swasta melalui BBKSDA (Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam).Β Setiap bulannya, dilakukan patroli ke zona inti dan zona penyangga untuk mengantisipasi adanya penebangan liar di kawasan tersebut. Selain usaha untuk melestarikan flora dan fauna, pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar hutan. Hal ini dilakukan agar masyarakat tetap bisa menggantungkan hidup pada hutan namun tidak merusak hutan itu sendiri. Di kawasan ini Sinarmas forestry bermitra dengan beberapa koperasi desa sekitar dalam usaha pembibitan Akasia. Masyarakat di bawah koperasi tersebut melakukan pembibitan Akasia yang kemudian bibit tersebut dijual ke pihak Sinarmas.
Perjalanan kali ini memberikan rasa kebanggaan tersendiri buat kami. Indonesia begitu kaya, oleh karena itu mari lestarikan kekayaan itu untuk anak cucu kita nanti.












































Komentar Terbanyak
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Wanita Palembang Nekat Nyamar Jadi Pramugari, Batik Air Buka Suara
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru