Penduduk Kei berasal dari beberapa suku. Di Kei berlaku hukum tradisional yaitu Larvul Ngabal yang memuat aturan-aturan penting bagi penduduk Kei. Larvur Ngabal berasal dari dua kata Larvul dan Ngabal. Larvul artinya darah merah, yang berarti penyembelihan korban yang memiliki kekutan sakral. Ngabal sendiri berarti tombak Bali yang digunakan sebagai perisai diri. Orang Kei sendiri menyakini bahwa leluhiur mereka berasal dari Bali.
Penjabaran hukum Larvul Ngabal dijelaskan dengan menggunakan bagian tubuh dengan arti dan makna sendiri. Misalnya kepala diartikan sebagai bagian yang penting karena pada kepala terdapat panca indera dan kekuatan berpikir, artinya seorang pemimpin harus dihormati, baik itu pemimpin desa atau pemimpin rumah tangga.Β
Kulit sebagai penyangga tubuh, artinya jika kulit tersobek atau rusak penyakit akan mudah masuk.Oleh karena itu dilarang memfitnah atau membuat pertengkaran di dalam masyarakat yang bisa mengakibatkan kehancuran. Kepatuhan penduduk Kei terhadap hukum Larvul Ngabal tercermin ketika kerusuhan di Maluku tahun 1999, tidak seperti di daerah lain di Kei kerusuhan sangat cepat diatasi karena kepatuhan penduduknya terhadap hukum Larvul Ngabal.
Satu hal lagi budaya masyarakat Kei yaitu penghormata terhadap kaum wanita, disini wanita merupakan sosok yang benar benar dihormati. Jika terjadi sesuatu dengan wanita maka saudara laki lakinya akan bertaruh nyawa demi membela kehormatan wanita. Begitu juga dengan wanita yang telah bersuami maka siapapun tidak berhak menegur atau memarahi wanita tersebut kecuali suaminya, apabila sampai terjadi ada orang lain selain selain suaminya yang menegur dan jika sang wanita tidak terima dia berhak meminta apapun sebagai denda saja secara adat untuk menebus kesalahannya itu dan mendapat maaf dari sang wanita.
Β












































Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru