Agats β Setelah mengunjungi Museum Asmat, Minggu pagi, 17 Oktober 2010, saya, Erwin dan bang Leo akan melanjutkan perjalanan menuju Desa Senggo, Distrik Citak Mitak. Menurut pendamping kami, bang Leo, ini akan menjadi perjalanan mengasyikkan untuk kami. Menyusuri teluk, laut, muara dan sungai yang lebar-lebar berjam-jam dengan Speedboat sebuah pengalaman petualangan yang tentunya tidak terlupakan.
Papua memang dunia penuh petualangan. Itulah yang kami rasakan saat baru tiba di sana hingga mulai menyusuri sungai-sungai ke daerah pedalaman.Β
Dengan menggunakan Speedboat yang di komandoi dua orang dari Suku Asmat, Pak Wilem dan Pak Pontasius, kami meninggalkan Pelabuhan Agats. Orang-orang Suku Asmat yang tinggial di pesisir pantai memang terkenal akan keahliannya membawa perahu. Terutama βKole-Koleβ β perahu panjang yang terbuat dari sebatang pohon besar.Β
Setengah perjalanan melalui Teluk Flamingo. Di sisi sungai terlihat hutan bakau yang lebat dan besar-besar ukurannya. Β Lepas Teluk Flamingo, kami mulai memasuki Laut Arafuru atau Aru. Inilah salah laut yang terkenal cukup ganas. Alhamdulillah saat itu cuaca cukup baik sehingga gelombang laut tidak menghawatrikan.Β
Panorama Indah Sepanjang Sungai
Di sekitar teluk Flamingo dan Laut Arafuru, kami sempat melihat bebeapa orang Suku Asmat dengan caranya yang berdiri mendayung βKole-Koleβ. Benar-benar mengagumkan. Perahu yang terlihat tipis dapat mereka dayung secara seimbang. Walaupun itu dengan cara berdiri. Bahkan ada seorang wanita dari Suku Asmat yang berada di lautan tersebut sendiri.Β
Setelah melalui Laut Arafuru, kemudian Speedboat memasuki muara Sungai Sirets. Muara sungai yang besar cukup lama dilalui sebelum kemudian masuk ke Sungai Sirets. Umumnya sungai-sungai di Papua memang besar-besar dan lebar-lebar. Berkelok-kelom membelah hutan di pedalaman. Sungguh perjalanan yang luar biasa. Berbagai bentuk pepohonan dan tumbuhan terlihat di sisi kanan dan kiri sepanjang sungai. Β Pada suatu tempat tiba-tiba Pak Wilem berteriak, βlihat ada burung Cendrawasih terbangβ, katanya. Memang menurutnya terkadang kita dapat melihat beberapa burung seperti Cendrawasih, Urip atau Bangau di hutan sepanjang pesisir Sungai Sirets.Β
Beberapa kali kami melalui daerah pertemuan sungai besar lainnya. Panorama sepanjang perjalanan benar-benar membuat kami atau siapapun yang melihatnya pasti berdecak kagum. Panorama alam yang luar biasa indah dan menakjubkan. Benar-benar sebuah perjalan yang penuh petualangan.Β
Sepanjang pesisir sungai, kami juga melihat beberapa perkampungan lengkap dengan Ruma Bujang atau Jew β rumah adat Suku Asmat yang biasa digunakan untuk berkumpul melakukan berbagai kegiatan. Setelah tiga jam perjalanan, kami mampir ke kampung Foz untuk beristirahat sejenak dan mengisi bahan bakar. Harga bahan bakar seperti bensin dihargai Rp. 12.000,- - 15.000,- per liter. Sambil menikmati kopi di salah satu warung yang ada di sana, kami juga sempat bercengkerama denga penduduk setempat.Β
Setelah satu setengah perjalanan dari kampung Foz, perjalanan kami hentikan kembali di kampung Jinak. Disini kembali kami mengisi bahan bakar sekaligus makan pada salah satu rumah makan. Selain rumah makan, disini juga terdapat toko kelontong yang menjual berbagai keperluan hidup sehari-hari. Sebuah masjid sederhana yang sejarahnya di bangun oleh orang-orang dari Bugis. Beberapa anak kecil kami lihat sedang asyik melompat ke sisi Sungai Sirets untuk bermain sekaligus mandi. Karena hari sudah semakin sore, Pak Wilem meminta kami untuk segera naik ke Speedboat dan melanjutkan perjalanan.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, waktu sudah menunjukkan pukul lima sore waktu setempat. Matahari pun sedikit demi sedikit mulai tenggelam. Namun, ada pemandagan spektakuler saat itu. Sinar jingga kekuningan matahari sore memantul indah di atas sungai. Termasuk di sela-sela kerapatan hutan di sisi sungai. Melihat itu semua saya teringat akan potongan syair lagu yang di bawakan oleh Edo Kondologit βTanah Papua, tanah yang kaya, surga kecil jatuh ke bumi...β. Kenyataannya yang kami lihat saat itu mungkina memang bagian dari surga kecil yang jatuh ke bumi.
Beberapa saat setelah memasuki Sungai Wilderman kemudian Sungai Dairamn dan ada papan petunjuk bertuliskan Selamat Datang di Kab. Mappi, kami akhirnya tiba di pelabuhan sungai Desa Senggo. Saat itu waktu telah menujukkan hampir pukul setengah tujuh malam waktu setempat. Disinilah kami kemudian akan bermalam untuk kemudian bersosialisasi dengan masyarakat setempat dan kembali melanjutkan perjalanan ke Desa Basman beberapa hari kedepan.Β
Untuk kami ini benar-benar perjalanan yang seru dan mengasyikkan. Jadi untuk anda yang ingin berpetualang ke pedalaman Papua harus siap-siap untuk menikmati serunya perjalanan anda. Nikmatilah bagian dari surga kecil yang jatuh ke bumi ini.
Β












































Komentar Terbanyak
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Wanita Palembang Nekat Nyamar Jadi Pramugari, Batik Air Buka Suara
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru