Kemeriahan Pagi di Pasar Terapung
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Sendia Berka|44149|KALTENG & KALSEL|48

Kemeriahan Pagi di Pasar Terapung

Redaksi Detik Travel - detikTravel
Jumat, 25 Mar 2011 11:05 WIB
loading...
Redaksi Detik Travel
Pasar Terapung
Bermacam dagangan yang dijual di pasar terapung
Menikmati Soto Banjar di kelotok
Pak Aini dengan jualan kopi. teh panas serta kue untuk
Dengan latar belakang pasar terapung
Kemeriahan Pasar Terapung
Kemeriahan Pagi di Pasar Terapung
Kemeriahan Pagi di Pasar Terapung
Kemeriahan Pagi di Pasar Terapung
Kemeriahan Pagi di Pasar Terapung
Kemeriahan Pagi di Pasar Terapung
Kemeriahan Pagi di Pasar Terapung
Jakarta -

Suara nyanyian itu terdengar samar-samar namun seperti berbisik tepat di telinga. Semakin lama semakin keras dan membuat otak saya mulai sedikit bekerja, memberikan signal ke sensor mata untuk segera terbuka.

Hah, Jam berapa ini? Terlonjak kaget akibat suara nyanyian alarm di telepon genggam yang saya yakin bukan milik saya. Ingatan baru mulai terbuka, alarm tersebut ternyata milik saudara saya. Berdiri tertatih akibat mengantuk, saya mematikan alarm yang menunjukkan pukul 04.30. Sedikit heran mengapa alarm saya sendiri tak berbunyi, saya melirik telepon genggam saya, masih pukul 03.30? Ah, ternyata jam di telpon genggam saya masih menunjukkan waktu Indonesia bagian barat, bukan waktu Indonesia bagian tengah.

Beruntung saudara saya yang bekerja di Kalimantan Selatan, menemani saya di kamar Swiss-Belhotel BORNEO sejak malam ketibaan saya di Banjarmasin. Jika tidak, mungkin kami akan terlambat karena saya dan Yuga lupa akan perbedaan waktu 1 jam yang lebih cepat disini dari waktu Indonesia bagian barat. Dengan sigap saya langsung menelpon teman seperjalanan saya, Yuga untuk bersiap.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

21 Oktober 2010, tepat pukul 05.30 WITA kami sampai di Pasar Terapung Banjarmasin. Menyewa kelotok seharga Rp. 200.000 yang cukup untuk 15 orang, akhirnya kami menyusur Sungai Barito. Kelotok sebesar itu merupakan ukuran paling kecil yang bisa disewa untuk menuju Pasar Terapung. Jadi meskipun anda sendirian, tetap harus menyewa kelotok yang sama dengan yang saya gunakan.

Beberapa menit melaju dari dermaga, kami mulai menemui sampan-sampan dengan beragam barang dagangan. Mulai dari sayuran, buah-buahan seperti pisang, jeruk, kue khas Kalimantan dengan nama unik, yaitu untuk, teh panas, kopi, hingga soto banjar, sate, dan makanan lainnya. Pertama tiba saya sempat berpikir, apakah kami kesiangan? Pasar Terapung memang hanya buka sejak subuh sekitar pukul 05.00 WITA hingga 07.00 WITA, tergantung ramainya pembeli. Karena saat itu tidak terlalu banyak perahu-perahu penjual yang ada,namun bapak yang mengemudikan kelotok kami mengatakan, saat-saat yang paling ramai adalah hari Sabtu dan Minggu.

Dan ternyata 'menginjak' pukul 06.00 WITA, penjual mulai ramai berdatangan. Pemandangan yang luar biasa saat para penjual mendatangi kelotok-kelotok untuk menawarkan berbagai macam dagangannya. Dengan sigap tangan-tangan mereka 'menangkap' kelotok dan menyusur sungai bersama. Saya dan teman-teman lainnya memesan kopi, teh panas serta kue untuk. 'Menyeruput' minuman panas ditambah kue untuk, yang berisi campuran gula merah dan parutan kelapa menjadikan pagi itu sungguh sempurna.

Baru setengah menikmati minuman, kami memutuskan untuk cepat mengembalikan gelas yg kami pakai ke Bapak Aini, sang penjual, karena tak tega melihat bapak tua ini harus terus mengikuti kelotok kami, padahal jumlah pembelian kami hanya seharga Rp.5.000 ntuk 2 teh panas dan 2 kopi. Benar-benar harga yang sangat murah.

Kue untuk  yang telah selesai kami lahap nampaknya tidak bertahan lama didalam perut. Akhirnya kami memutuskan mencicipi soto banjar sebagai sarapan tambahan. Rp. 10.000 untuk soto banjar, ada juga menu lain seperti sate ayam, nasi kuning dan rawon.

Mencicipi makanan di Pasar Terapung ternyata butuh keahlian akrobat. Gelombang-gelombang air yang terjadi akibat laju kelotok-kelotok lain membuat kelotok kami bergoyang kekiri dan kekanan.  Membuat kami mengeluarkan teriakan-teriakan kecil. Pengalaman makan penuh tawa yang baru kali ini saya rasakan.

Pasar Terapung Banjarmasin yang terkenal, memang menjadi tempat yang wajib didatangi untuk melihat pola kehidupan tradisional di tempat ini.

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads