Saat itu jam menunjukkan waktu 15.45. Waktu yang tanggung untuk menjejali sang naga dengan ransum berat, namun juga terlampau ringan untuk mengisinya dengan sesuatu yang terlampau ringan. Menu yang tersedia di kedai sederhana itu hanya satu yakni bakso ikan.
Jujur mendengar kata bakso ikan, kami rada alergi. Dahi otomatis mengernyit, muka langsung ditarik. Lantaran pengalaman selama ini senantiasa menunjukkan bakso ikan identik dengan amis ikan yang menyengat dan lidah letoy karena dilewati rasa daging bakso ikan yang terlalu polos kurang bumbu. Tapi rasa sungkan karena sudah menggunakan sudut kedai sebagai lokasi pemotretan memaksa kami memesan menu yang tersedia. Ya,bakso ikan.
Saat mangkok hadir tersaji. Seperti ciri khas kulinari Aceh lainnya. Bau rempah langsung menyengat hidung. Namun endusan kami mengatakan ada sesuatu yang lain, sesuatu yang benar-benar berbeda. Bau yang akan mengundang siapapun para penyantun lidah untuk tergoda menjajal sang mangsa. Ingatlah selalu hukum wisata kuliner di Aceh. Don't judge the food by its smell and size. Itu aturan yang pantang dilanggar di ranah ini.
Datang dalam sebuah mangkok, enam butir bakso ikan seukuran kelereng. Sebegitu kecilnya, lebih layak disebut sebagai garnish ketimbang sajian utama. Sementara mie kuning tampak menggunung ditengah mangkok bertabur bawang goreng menebar harum penggoda cita rasa digenangi kuah bening encer yang mengepul-ngepul panas.
Saat kuah pertama di gelontorkan ke mulut. Rasa gurih yang unik langsungΒ menjungkalkan lidah ke sudut ring kenikmatan, membuat kami menyerah untuk menyendok kuah sesuap demi sesuap, tanpa henti. Begitu dahsyat terjangan kenikmatan dari tetes kuah membuat kami melayang-layang. Kuah bakso ini begitu berbeda dengan kuah bakso ikan yang sering kami coba. Rasanya tak membosankan, begitu penuh cita rasa. Gurih kuah yang lembut hasil kaldu ikan orisinil tampak dari bulatan-bulatannya yang kecil menyebar merata dan tak lengket. Bukti kaldu dibuat dari rebusan ikan dalam waktu yang cukup.
Tak puas dengan kuah, kami menyasar bakso imut-imut sebagai target berikutnya. Benar saja, seperti halnya kuah, bakso ikan ini memang lain dari biasanya. Kombinasi daging ikan alu-aluΒ dan ikan pisang bersatu dengan tepung kanji serta bumbu rempah membuatnya menjadi bulatan kenikmatan tak terlupakan. Gigitan pertama tak harus dihadapi dengan kenyal membal bakso ikan umumnya. Bulatan bakso langsung tergerus lembut saat mulai dikunyah. Rasa ikan yang khas dipadu rempah merica yang membuat lidah langsung menggelinjang melompat-lompat. Tak berasa, enam biji kenikmatan langsung tandas digasak sang naga di perut kami.
Mie kuning kami nikmati dengan mencolokkan garpu untuk kemudian putar membentuk gulungan kecil siap santap. Sesaat sebelum disantap, sengaja gulungan kami biarkan terendam kuah untuk kemudian menuju tujuan akhir. Mie kuning Aceh yang bertekstur lembut langsung lumer saat dikulum di mulut, tak butuh banyak kunyahan untuk menikmatinya. Paduan kaldu ikan yang meresap kedalam membuat lidah terasa dihantam gelombang kenikmatan. Wuaaaaah benar-benar dahsyat.
Tak rela melihat isi mangkok sisa. Kami langsung menyeruput sisa kuah di mangkok. Tetes demi tetes kuah bakso ikan kami nikmati hingga titik terakhir. Paduan sisa bawang goreng yang nyunyut (lembek karena kuah-red) dipadu potongan seledri kecil serta gurih kuah ikan semuanya terasa jadi penutup yang menyenangkan.
Meski kami tak menjumpai sambal yang sesuai sebagai teman pedas lidah kami. Tapi kami harus akui bakso ikan ini telah mengantarkan kami ke sebuah pengalaman baru yang luar biasa.Β Meski kami sadar bahwa bakso ikan bukanlah makanan asli ranah rencong, tapi kelezatan makanan ini benar-benar sayang untukdilewatkan sebagai khasanah kuliner khas Aceh. Sapa nyana dari sebuah keisengan berbuah kenikmatan. (Taufiq-Wahid)
Kedai Wahyudi Bukit Ceut Batu Singa. Harpa per porsi bakso ikan Rp. 10.000.












































Komentar Terbanyak
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru
Agar Turis Betah, Pemerintah Malaysia Minta Warga Lebih Ramah