Awal ide pergi kesana adalah dari seorang teman saya, Ayos Purwoaji. Saya memamg belum pernah wisata ke suatu taman nasional. Maka enam orang berangkat ke TN Baluran. Karena kami berangkat dari Jember, maka waktu tempuhnya hanya 3 jam. Kalo dari Surabaya, sekitar 5-7 jam ke arah Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Tiket masuk untu per orangnya 2500 rupiah, cukup murah.
Dari pintu masuk, kami disuguhi oleh hutan beradu dengan semak di kanan-kiri jalan. Jalan nya adalah jalan aspal yang hanya cukup hanya untuk "salipan" dua mobil. Setelah + 10 km, samar terlihat di sebelah kiri kami sebuah gunung menjulang tidak begitu tinggi, yang dinamakan gunung baluran. Setelah itu sekitar km 12, kami melihat sebuah landscape yang berbeda. Sebuah hamparan sabana dengan tanaman perdu yang jarang. Sebuah penampakan afrika yang indah, tapi tentu saja tanpa hewan-hewan liar berkeliaran. Itulah yang dinamakan padang sabana Bekol. Kami pun memarkirkan kendaraan kita di depan sebuah komplek bangunan yang ternyata kantor dan beberapa homestay. Ternyata di pos Bekol ini terdapat menara penagmatan yang tingginya hambpir 10 meter yang terletak diatas sebuah bukit. Setelah diatas menara kami dapat pemandangan yang cukup indah. Di satu sisi, ada hamparan padang sabana dengan latar belakang Gunung Baluran. Disisi kedua, tampak hamparan luas padang sabana, yang sepertinya tak terbatas. Persis seperti padang sabana Afrika. Yang tak kalah mempesona adalah jika kita lihat sisi sebelah timur, tampak samar-samar sebuah lautan biru yang tampak kerlap-kerlip karena cahaya matahari. Tanpa komando lagi kami pun langsung setuju untuk menuju pantai yang kemudian dikenal dengan nama Pantai Bama.
Dari Padang Bekol ke Pantai Bama sekitar tiga kilometer dengan jalan aspal yang lumayan. Selama perjalanan ke Pantai Bama, kami banyak menemukan beberapa hewan, antara lain ayam hutan, rusa, kera, juga kupu-kupu. Kupu-kupu yang cantik ini banyak kami temui dari pintu masuk pertama tadi. Selain fauna tadi, konon kata petugas di kantor tadi masih ada banteng dan kerbau jawa. Tapi jumlahnya sangat sedikit dan kebanyakan bersembunyi di gunung.
Di pantai Bama kami sepakat untuk menyewa sebuah homestay, karena kita ingin menikmati sunrise disni. Sebuah homestay kami sewa seharga 350 ribu rupiah. Homestay kami ini langsung berhadapan dengan pantai. Pada hari libur, pantai bama ramai oleh pengunjung anak-anak sekolah (itu yang membuat kami ingin menginap, untuk bias menikmati pantai ini secara pribadi). Pantai bama ini memiliki garis pantai yang panjang dengan hiasan beberapa hutan bakau dan ada formasi batuan hitam yang indah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah jeprat-jepret di taman dinosaurus kami memutuskan untuk tracking masuk ke hutan perdu. Selama perjalanan itu, kami benar-benar disuguhi sesuatu yang beda. Pohon, perdu, belum pernah kami temui sebelumnya, hanya kadang kami lihat di televisi yang sedang menampilkan acara tentang sabana afrika. Kami juga menemukan sekawanan rusa yang sedang mencari makan.
Perjalanan kami di Bama kami akhiri dengan mandi di laut. Laut di Bama memiliki dasar yang landai dan tidak dalam. Sampai beberapa ratus meter, laut Bama tidak bertambah dalam. Cocok buat saya yang tidak bisa berenang. Dan, sekali lagi kami disuguhi sesuatu yang indah. Homestay kami kalau dilihat dari laut juga indah dan kami baru menyadarinya. Maka tanpa pikir panjang, kami abadikan dengan sebuah DSLR keluaran Canon.
Perjalanan kami di TN Baluran kami akhiri dengan foto di sabana Bekol dengan background gunung Baluran. Selamat tinggal Baluran, suatu saat kami akan kesana lagi.












































Komentar Terbanyak
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Terungkap! Penyebab Kapal Dewi Anjani Tenggelam: Semua ABK Ketiduran
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun