Senin, 18 Mei 2010. Sinar matahari sore penghantar senja, ikut mengantar sebuah perahu bernama Cahaya Hati merapat ke Dermaga Pulau Biawak. Dermaga kokoh yang telah berdiri sejak tahun 2006 lalu, seolah menyambut perahu yang dikemudikan oleh seorang nelayan dan kedua anak buah kapal serta tujuh penumpang lainnya. Setelah merapat, satu persatu penumpang turun dari perahu menuju dermaga.
Keindahan alam Pulau Biawak ini menjadi sebuah tontonan tersendiri untuk para penumpang yang telah terombang-ambing di tengah Laut Jawa selama kurang lebih 5 jam ini. Kejernihan dan gemercik air laut, putihnya pasir pantai, dan pesona pulau biawak mampu menghipnotis para pendatang yang notabene berasal dari kota.Tidak luput dari pandangan adalah sebuah mercu suar yang menjulang tinggi, bagaikan seseorang yang siap menerima para wisatawan.
Para biawak pun keluar dari balik pepohonan menuju hamparan pasir putih seolah-olah ingin mengatakan Selamat datang di Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Pulau Biawak. Keluarnya penghuni pulau ini pun tidak lepas dari jepretan kamera para pendatang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk mencapai pulau ini, para pendatang dan wisatawan bisa menggunakan kapal motor dari Pantai Song Indah, Indramayu. Sebelum menuju pulau ini, diwajibkan untuk melakukan koordinasi terlebih dahulu dengan Dinas Perikanan dan Kelautan Indramayu. Hal ini dikarenakan, perairan di Laut Jawa terkenal dengan gelombang yang cukup berbahaya. Sehingga melalui dinas ini, para pendatang atau wisatawan bisa mendapatkan izin, informasi dan hal-hal yang dibutuhkan untuk menuju Pulau Biawak. Selain itu para wisatawan tidak perlu repot untuk mencari perahu, karena dinas ini juga telah menyiapkan sebuah perahu dengan tujuan Pulau Biawak.
Pulau Biawak adalah pulau terpencil yang dikelilingi oleh perairan Laut Jawa. Sehingga bagi para wisatawan yang ingin berlibur di pulau ini, harus mempersiapkan secara matang fisik dan perbekalan selama liburan.
Dinas Perikanan dan Kelautan Indramayu sebenarnya terlah memberikan fasilitas yang cukup lengkap untuk menjadikan pulau ini sebagai tempat tujuan wisata. Selain dermaga, pulau ini juga telah memiliki bungalow untuk para wisatawan, jalan setapak yang telah menggunakan semen dan posko keamanan. Seorang pemandu pun telah disiapkan untuk para wisatawan.
Fasilitas-fasilitas tersebut merupakan salah satu perwujudan dari fungsi KKLD Pulau Biawak yakni fungsi pengembangan ekonomi masyarakat, disamping fungsi konservasi dan fungsi pendidikan serta riset. Fungsi ini berkaitan dengan senua aspek pemanfaatan sumberdaya alam KKLD untuk pemanfaatan tradisional, wisata, pendidikan, budaya dan lainnya yang berkelanjutan (ramah lingkungan). Kegiatannya dapat berupa wisata bahari seperti diving, snorkling, dan memancing; wisata alam seperti melihat hutan mangrove dan pengamatan biawak; wisata pendidikan seperti hiking, outbond, fotografi, pengenalan tumbuhan dan alam; dan wisata budaya serta sejarah.
Berbicara soal sejarah, di pulau ini memiliki satu makam yang biasa didatangi untuk sekedar ziarah. Makam tersebut adalah makam Syekh syarif Khasan. Konon katanya beliau adalah pengikut dari Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah, salah satu dari sembilan orang penyebar agama Islam terkenal di Pulau Jawa yang dikenal dengan sebutan Wali Sanga.
Kurangnya minat wisatawan dan letak Pulau Biawak yang terpencil membuat beberapa fasilitas menjadi tidak terurus. Bungalow yang seharusnya menjadi penginapan para wisatawan, tidak terurus dan ditumbuhi oleh tumbuhan liar. Sulitnya akses juga menyebabkan bangunan bangunan di pulau ini rusak termakan usia. Untuk mendapatkan air bersih di pulau ini hanya terdapat satu sumur di tempat tinggal penjaga mercu suar, cara lainnya adalah dengan menampung air hujan.Begitu pula dengan listrik listrik, pulau ini baru bisa menggunakan listrik pada pukul 19.00 W.I.B. dengan menggunakan tenaga generator.
Adalah Sumanto, seorang penjaga mercusuar yang tinggal seorang diri di pulau biawak ini. Bertahun-tahun Pak Manto hidup bersama kurang lebih 300 ekor biawak, sehingga ia sudah menganggap biawak adalah anaknya sendiri.Setiap pagi dan sore Pak Manto menjaring ikan untuk memberi makan para biawak yang berada di pesisir pantai.
"Kalau saya bosan, terkadang ikannya saya ikat dengan benang. Sehingga ketika si bibi (ucapan Pak Manto untuk biawak) mendekati ikan, ikannya saya tarik dan bibi pun mengejar," kisahnya.
Hal ini lah yang menyebabkan biawak yang berada di pesisir pantai tidak se-liar biawak yang tinggal di tengah pulau. Para biawak yang tinggal di tengah pulau harus mencari sendiri ikan segar untuk makanannya..Walaupun mereka tidak menyerang manusia, para wisatawan dihimbau untuk tetap menjaga jarak dengan biawak, terutama ekornya. Apabila merasa terancam biawak akan mengibaskan ekornya.
Mercu suar yang dijaga oleh Pak Manto adalah peninggalan dari pemerintahan Kolonial Belanda yang dibangun oleh Z.M. Willem III pada tahun 1872. Mercusuar ini dibangun pada saat itu dikarenakan pulau ini sangat berbahaya bagi alur pelayaran kapal-kapal laut yang melintas di kepulauan tersebut. Mercu suar ini menggunakan tenaga matahari dan terus menyala selama 24 jam.
Melalui izin dari Pak Manto, wisatawan diperbolehkan menaiki mercu suar setinggai 65 meter tersebut. Bangunan yang sudah berdiri ratusan tahun ini terlihat sangat rapuh. Beberapa tahun lalu, anak tangga di mercusuar ini mulai rusak dan diganti dengan yang baru, sehingga apabila diperhatikan dengan seksama akan terlihat perbedaan motif antara anak tangga yang baru dengan yang lama. Mengantisipasi kerapuhan, pak manto hanya mengijinkan tiga orang saja untuk naik secara bergantian.
Dari atas mercusuar ini, terlihat keindahan Pulau Biawak secara keseluruhan. Kedatangan dan kepergian matahari pun akan lebih memesona apabila dilihat dari puncak mercu suar. Terlihat jelas hutan mangrove dibeberapa sudut pulau.
Hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di muara sungai, daerah pasang surut atau tepi laut. Tumbuhan mangrove bersifat unik karena merupakan gabungan dari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan di laut. Umumnya mangrove mempunyai sistem perakaran yang menonjol yang disebut akar nafas (pneumatofor). Sistem perakaran ini merupakan suatu cara adaptasi terhadap keadaan tanah yang miskin oksigen atau bahkan anaerob. Hutan ini sering dijadikan habitat oleh satwa liar yang hampir punah, salah satunya adalah biawak.
Pak Manto akan dengan senang hati membawa wisatawan untuk berkeliling pulau dan menikmati keindahan hutan mangrove. Setelah berjalan sepanjang 2km menuju sebuah pos yang sudah tidak terawat lagi, maka wisatawan akan segera disuguhkan tempat yang cocok untuk melakukan kegiatan wisata bahari.
Selain keindahan diatas pulau, pulau yang dulunya mempunyai nama Pulau Rakit atau Pulau Boompijs juga menyuguhkan keindahan bawah laut. Terumbu-terumbu karang dan biota bawah laut lainnya seolah-olah membawa wisatawan menuju negeri bawah laut. Banyak sekali yang bisa dilihat dan diketahui ketika kita menyelam ke dasar laut. Jangan khawatir apabila lelah saat snorekling, ditengah lautan ada sebuah karang besar yang bisa dijadikan tempat peristirahatan.












































Komentar Terbanyak
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru
Struk Belanja Taiwan Bisa Bikin Turis Jadi Orang Kaya Mendadak!