Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 20 Mar 2021 12:51 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Perjalanan ke Pulau Pasoso, Menantang Maut di Spot Parumbia

Joem Jumain
d'Traveler
Senja di pulau Pasoso
Senja di pulau Pasoso
Berenang bersama penyu hijau di dermaga pulau pasoso
Berenang bersama penyu hijau di dermaga pulau pasoso
Kapal Kayu satu satunya alat transportasi menuju Pulau Pasoso
Kapal Kayu satu satunya alat transportasi menuju Pulau Pasoso
Menikmati Sunrise di pulau Pasos
Menikmati Sunrise di pulau Pasos
Melihat terumbu karang pulau pasoso
Melihat terumbu karang pulau pasoso
Pantai Mapaga
Pantai Mapaga
detikTravel Community -

Sekitar 30-an anggota Komunitas Palu Swimming Club (PSC), baru saja usai melakukan trip (perjalanan) ke Pulau Pasoso, Sulawesi Tengah. Tepatnya 12 sampai 14 Maret 2021.

Berangkat dari markas PSC di Kampung Nelayan Palu, antara pukul 10 pagi hingga pukul 11 siang. Setelah sebelumnya berjibaku mengatur Tandon Air berkapasitas 550 Liter diangkut menggunakan mobil escudo yang nantinya akan diserahkan kepada penghuni pulau Pasoso sebagai wujud kepedulian PSC terhadap krisis air bersih di pulau terpencil itu.

Tepat pukul 12.00 WITA kami tiba di mesjid Desa Labean Kecamatan Balaesang untuk mampir sebentar guna melakukan sholat Jumat, bertepatan saat itu adalah hari Jumat.

Pukul 15.30, kapal kayu dari Desa Awesang merapat di bibir pantai Mapaga. Satu persatu barang bawaan di angkut kedalam kapal berbobot 15 ton ini melalui selembar tangga papan selebar 30 cm. Bererapa kejadian menarik pun sempat terjadi dan luput dari bidikan kamera smartphone. Salah satunya adalah kawan Pian yang sempat tergelincir dan nyebur kelaut dan basah kuyup tentunya.

Sebelum menuju Pulau Pasoso, terlebih dahulu kami mengisi air bersih di Desa Awesang, desa terdekat dari Pulau Pasoso dengan jarak tempuh 2 jam perjalanan dengan menggunakan kapal kayu.

Tandon Air berukuran 550 liter yang akan kami serahkan kepada warga di Pulau Pasoso ini, sebelumnya diisi air bersih dengan menggunakan jerigen dan ember kecil dari sebuah kran di ujung dermaga desa Awesang. Pukul 17.00 Wita perjalanan kami lanjutkan.

Tujuan terakhir adalah Pulau Pasoso. Di tengah cuaca yang cukup bersahabat, langit yang cerah dan lautan yang teduh, perjalan kami juga disuguhkan oleh panorama laut dan pesisir yang mempesona.

Lidah tanjung Manimbaya di sebelah kiri dan moncong tanjung Dampelas di sebelah kanan. Ditambah lagi dengan rona mentari berwarna jingga, sungguh suguhan yang sangat mengagumkan.

Sekitar pukul 18.45 kami tiba di dermaga Pulau Pasoso. Setelah menghabiskan malam dengan agenda istirahat total, keesokan harinya rombongan kami melanjutkan perjalanan ke spot karang dangkal di tengah laut lepas. Oleh masyarakat setempat menyebutnya Parumbia.

"Entah siapa yang pertama kali memberi nama Parumbia", kata pak Ahmad (59 tahun) sang penjaga pulau.

Sekitar satu jam perjalan dari dermaga Pulau Pasoso, kami tiba di spot super menantang itu. Ditambah cuaca yang kurang bersahabat, tiupan angin kencang, ayunan gelombang yang memecah, menjadikan kapal yang kami tumpangi oleng.

Jangkar kapal sudah dilepas di Spot Parumbia. Spot dengan terumbu karang di tengah laut lepas sedalam antara 3-5 meter dan seluas lapangan sepak bola itu menjadi pilihan satu-satunya. Memilih tidak terjun ke laut berarti siap dengan ayunan ombak.

Saya sendiri memilih terjun ke laut. Setelah sebelumnya beberapa teman PSC lainnya sudah berjibaku dengan gelombang di atas terumbu karang di tengah laut lepas itu. Airnya begitu jernih. Terumbu karangnya terjaga.

Spesies ikan jangan ditanya. Semua jenis ikan ada.Karena cuaca yang kurang bersahabat, kami pun memutuskan untuk mengakhiri petualangan yang tergolong ekstrim ini.

Hanya sekitar 10 sampai 15 menit saja. Akhirnya Kami memilih kembali dan memilih spot-spot karang yang dirasa cukup aman. Konon dulunya, spot Parumbia ini merupakan rumah bagi hiu-hiu predator.

"Pernah beberapa saat yang lalu saya mancing di situ (Parumbia) tarik ikan yang naik tinggal kepala hiu. Hiu makan hiu," kata Ahmad sang penjaga Pulau Pasoso sambil tertawa.

Tepat pukul 07.00 kapal kayu yang kami tumpangi perlahan-lahan melepas ikatan tali jangkar di dermaga pulau kenangan itu. Pulau dengan segala pesona dan tantangannya. Pulau yang dihuni sepasang suami isteri dengan 15 putra-putri. Pulau tanpa layanan kesehatan, apalagi MCK.

---

Artikel ini ditulis oleh pembaca detik Travel, Joem Jumain. Traveler yang hobi berbagi cerita perjalanan, yuk kirim artikel, foto atau snapshot kepada detikTravel di d'Travelers. Link-nya di sini

BERITA TERKAIT