Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 17 Agu 2021 16:44 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Candi Cangkuang, Bukti Keharmonisan Umat Beragama di Garut

gema bayu
d'Traveler
Candi yang berdekatan dengan makam muslim secara tidak langsung menggambarkan adanya keharmonisan antar umat agama.
Candi yang berdekatan dengan makam muslim secara tidak langsung menggambarkan adanya keharmonisan antar umat agama.
Candi ini memiliki tinggi 8,5 meter
Candi ini memiliki tinggi 8,5 meter
Rumah adat Kampung Pulo berbentuk rumah panggung dan harus berjejer.
Rumah adat Kampung Pulo berbentuk rumah panggung dan harus berjejer.
Candi ini ditemukan kembali pada tanggal 9 Desember tahun 1966
Candi ini ditemukan kembali pada tanggal 9 Desember tahun 1966
Pengunjung harus menggunakan rakit untuk mencapai Candi Cangkuang
Pengunjung harus menggunakan rakit untuk mencapai Candi Cangkuang
detikTravel Community -

Indonesia banyak dianugerahi banyak peninggalan yang tak ternilai harganya, seperti Candi Cangkuang yang jadi bukti keharmonisan beragama di Garut. Keharmonisan ini bisa kita lihat dari letak candi yang berdekatan dengan makam tokoh muslim yang bernama Arief Muhammad.

Beliau seorang utusan dari Kesultanan Mataram Islam yang tugaskan bersama pasukannya untuk menyerang VOC di Batavia dan menyebarkan agama Islam salah satunya di daerah Desa Cangkuang. Arief Muhammad menetap dan mempunyai keluarga di sini, dahulu penduduk Desa Cangkuang menganut agama hindu, hal ini dibuktikan adanya sebuah candi.

Letak Candi Cangkuang secara administratif berada di Kampung Ciakar, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. Letak candi persisnya berada pulau kecil yang dikelilingi danau atau orang sunda menyebutnya situ.

Untuk mencapai candi ini harus menggunakan rakit. Penamaan Candi Cangkuang diambil dari nama Desa Cangkuang itu sendiri, namun ada versi lain yang menyebutkan nama Cangkuang diambil dari tumbuhan cangkuang (Pandanus Furcatus) yang tumbuh subur di sekitar candi.

Candi ini ditemukan kembali pada tanggal 9 Desember tahun 1966 oleh Drs. Uka Tjandrasasmita yang merupakan tim sejarah Leles. Penelitian ini didasarkan pada buku Notulen Bataviach Genoot Schap terbitan tahun 1893 karya Vorderman seorang berkebangsaan Belanda.

Buku tersebut menerangkan di Desa Cangkuang ada sebuah komplek candi yang di dalamnya terdapat sebuah makam Arif Muhammad dan arca siwa. Saat ditelusuri lebih lanjut dan digali pada tahun 1967-1968 terdapat fondasi berukuran 4,5 x 4,5 meter dan sisa puing-puing candi.

Peneliti tidak menemukan adanya keterangan candi ini dibuat oleh siapa dan kerajaan apa, namun peneliti menduga Candi Cangkuang dibuat pada abad ke-8. Keadaan candi yang sekarang adalah sebuah rekayasa rekontruksi atau telah dipugar pada tahun1974-1976, bangunan candi yang asli hanya sekitar 40%.

Selain melihat Candi Cangkuang dan makam Arief Muhammad, masih dalam kawasan yang berdekatan terdapat sebuah perkampungan yang disebut Kampung Adat Pulo. Konon penduduk kampung ini merupakan keturunan langsung Arief Muhammad.

Arief Muhammad dahulu memiliki 6 anak perempuan dan 1 anak laki-laki. Asal-usul inilah yang menyebabkan kampung ini hanya boleh mendirikan 6 rumah yang diisi oleh 6 keluarga dari pihak keturunan anak perempuan.

Penempatan 6 rumah diatur secara berjejer, di sisi kiri dan kanan masing -masing 3 rumah dan kampung ini memiliki 1 mesjid kecil. Rumah adat ini berbentuk rumah panggung dengan tembok bilik kayu dan atapnya terbuat dari ijuk. Menurut hukum adat jumlah rumah ini tidak boleh ditambah atau dikurangi, apabila anak sudah menikah maka dalam waktu paling lambat 2 minggu harus meninggalkan Kampung ini.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA